Blog

Sering Terjebak Hoax? Ini Cara Brutal Untuk Menangkalinya

Zaman sekarang dunia informasi telah berada di fase yang sangat mengkhawatirkan. Ketika sebuah informasi disebarkan tanpa sesuai dengan apa yang terjadi, dimodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan-kepentingan pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka saat itu lahirlah informasi baru yang disebut hoax (berita palsu) yang akan meresahkan semua kalangan.

Hoax pastinya akan memiliki informasi yang berlawanan dari kebenaran-kebenaran umum, sehingga dapat menyebabkan kontroversi atau perspektif yang ujungnya akan mengarah pada kepentingan-kepentingan tertentu. Tidak semua informasi diselimuti hoax, hanya fakta-fakta tertentu yang mempunyai nilai strategis saja.

Tentu sangat disesalkan, ketika teknologi informasi sudah semakin berkembang dan mudah untuk diakses, hoax malah bertebaran dan menghantui dengan begitu mudahnya. Wabah ini bahkan sudah semakin parah, yang membuat jebakan informasi semakin banyak menyebabkan para pencari kebenaran memasuki arus yang terlanjur salah.

Lantas, bagaimana cara agar kita tidak semakin terjerumus kedalam jebakan hoax yang penuh dengan fitnah dan ketidaktransparan ini? Berikut ada tiga cara efektif untuk menangkalinya.

  • Kritik sumber pertama

Hal utama yang bisa kamu lakukan untuk meruntuhkan hegemoni hoax adalah dengan mengkritik sumber dari informasi. Apakah sumber tersebut valid, akurat, sera memberikan kebenaran secara menyeluruh? Dalam istilah jurnalistik, metode ini lebih populer disebut check and recheck.

Janganlah ragu serta takut untuk menanyakan secara langsung darimana sumber informasi itu diperoleh. Telusuri dan gali terus informasi itu sampai ke tangan pertama, sumber pertama.

  • Masuk akal atau tidak?

Setelah mendapatkan sumber utama, proses dalam mencari kebenaran ini masih belum selesai. Kamu dapat menguji apakah informasi tersebut dapat diterima dengan akal sehat atau tidak. Metode ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara informasi yang digali dengan informasi sejenisnya.

Lihat, apakah saling mendukung atau malah saling bertentangan? Memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru atau memang hanya memaparkan fakta secara gamblang?

  • Jangan lupa, libatkan intuisi

Dalam mencari kebenaran, kamu juga harus memaksimalkan hati nurani. Jadi apapun kebenarannya, kamu harus bisa menerimanya. Tentu saja hal ini dikarenakan tidak semua kebenaran selalu sejalan dengan pikiran kamu.

Faktanya, perspektif yang terlanjur melekat pada diri seseorang cenderung membuatnya hanya menginginkan informasi yang selaras dengan jalan pikirannya. Jika kamu tidak bisa melawan kebiasaan buruk ini, maka apapun upaya yang kamu lakukan untuk mencari kebenaran akan sia-sia.

Untuk menjadi pembaca yang cerdas sangatlah sulit di era informasi yang sudah semakin maju ini. Jika dulu di sekolah diajarkan bahwa membaca adalah cara cerdas untuk menjadi cerdas, maka prinsip tersebut tidak bisa berlaku lagi. Sekarang, cerdas dulu, baru kemudian membaca. Bukankah begitu?