Blog Unique

Yuk, Intip Cheomseongdae, Bangunan Observatorium Tertua di Dunia

Memandang langit pada malam hari dari kejauhan merupakan sebuah kegiatan yang mengasyikkan. Apalagi jika melihat ada banyak bintang yang bertaburan di sana, pasti akan jauh lebih mengasyikkan lagi. Setuju nggak guys? Keindahan bintang-bintang tersebut seakan-akan bisa memberikan kenyaman dan rasa bahagia pada orang yang melihatnya.

Kegiatan melihat bintang ini ternyata tidak hanya dapat dilakukan dari kejauhan, tapi kegiatan ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu seperti teropong misalnya. Alat ini akan sangat membantu untuk bisa melihat bintang-bintang di langit dengan  jelas.

Bahkan anda juga bisa melihat berbagai gugusan-gugusan bintang yang tersusun dengan sangat rapi dan indah di langit. Biasanya, bintang-bintang tersebut akan membentuk sebuah rasi bintang yang sangat indah, yang pada zaman dahulu digunakan untuk melihat atau menandakan sesuatu. Nih, contoh salah sat rasi bintang tersebut:

 

Tapi tahukah anda, kalau ada sebuah tempat dimana anda bisa mengamati bintang dengan sangat dekat dan jelas? Nama tempat tersebut adalah Observatorium.

Apa itu Observatorium?

Pernahkah anda pergi ke sebuah tempat, dimana anda bisa melihat bintang dengan sangat dekat dan jelas? Kalau sudah, bisa dikatakan kalau anda adalah orang yang sangat beruntung. Jika belum, tidak perlu kecewa, karena anda bisa mencoba mengunjungi tempat itu sekarang. Tempat untuk melihat bintang tersebut dinamakan observatorium.

Observatorium adalah sebuah lokasi atau tempat khusus, yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan yang mendukung kegiatan pengamatan bintang-bintang di langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa. Peralatan tersebut biasanya diletakkan secara permanen di sana.

Menurut sejarah, observatorium bisa berbentuk sesederhana sextant (untuk mengukur jarak di antara bintang), dan bisa juga sekompleks Stonehenge (untuk mengukur musim, lewat posisi matahari terbit dan terbenam). Observatorium modern biasanya berisi satu atau lebih teleskop yang terpasang secara permanen, yang berada di dalam gedung, dengan kubah yang bisa berputar atau yang dapat dilepaskan.

Pembangunan sebuah observatorium ini memerlukan pemilihan tempat yang tepat, yaitu sebuah tempat yang memiliki cuaca yang baik, suhu yang sedang, malam tanpa awan, dan kabut yang sesedikit mungkin. Juga harus jauh dari lampu – lampu kota dan lampu neon, yang membuat langit terlalu terang untuk melakukan pengamatan yang baik dan jelas.

Pada bangunan ini, seperempat bagiannya memang dikhususkan sebagai tempat untuk teleskop. Peralatan ini dipasang menjadi dua bagian. Bagian bawahnya tidak dapat bergerak, dan bagian atas atau atapnya berbentuk kubah yang dapat diputar. Kubah itu mempunyai ‘lubang’ yang dapat dibuka untuk mengeluarkan teleskop, agar bisa melihat ke langit.

Cheomseongdae, Observatorium Tertua di Dunia

Di zaman modern seperti sekarang ini, ada banyak bangunan Observatorium yang bisa anda temukan di dunia. Bangunan-bangunan tersebut bahkan sudah dilengkapi dengan peralatan yang super canggih, untuk memudahkan melakukan pengamatan terhadap benda-benda angkasa, yaitu bintang.

Tapi tahukah anda bahwa Observatorium tertua di dunia ternyata berada di Korea? Tepatnya di kota Gyeongju, Korea Selatan. Observatorium Cheomseongdae ini tercatat dalam sejarah, sebagai sebuah peninggalan Dinasti Shilla pada awal abad ke- 7.

Tempat peninggalan bersejarah ini merupakan sebuah tempat pengamatan bintang (observatorium) tertua, sekaligus satu dari observatorium kuno yang tersisa di dunia sampai dengan saat ini. Buku Rekor Dunia secara resmi mencantumkan bangunan ini sebagai bangunan observatorium tertua yang masih tegak berdiri.

Bangunan tua ini dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok, yang telah menjadi warisan kebudayaan bagi bangsa Korea, dan telah menjadi salah satu objek tujuan wisata yang menarik di Korea Selatan. Menurut kitab Sejarah Samguk Sagi dan Samguk Yusa, Ratu Seondeok merupakan pemimpin perempuan pertama Korea dan menjalankan pemerintahan berdasarkan ilmu pengetahuan.

Di zaman pemerintahan Ratu Seondeok ini, perhitungan ilmu alam diterapkan dalam mengolah lahan pertanian. Konstruksi bangunan Cheomseongdae ini diduga memang sengaja didesain sedemikian rupa, berdasarkan filosofi-filosofi khusus, dengan tujuan tertentu.

Penobatan Cheomseongdae ini dulunya sempat menimbulkan sebuah pertentangan bagi sebagian orang. Namun, sebagian besar peneliti setuju akan status Cheomseongdae sebagai sebuah observatorium. Hal itu dikarenakan adanya  catatan-catatan sejarah di Korea, Jepang, dan Cina yang mendukung fakta tersebut.

Peneliti modern pertama yang meninjau Cheomseongdae yaitu Tadashi Sekino, yang menyimpulkan bahwa Cheomseongdae adalah sebuah observatorium, walaupun struktur bangunannya sangat ganjil.

Kemudian seorang ahli meteorologi dari Jepang, yang bernama Yuji Wada mulai mengadakan penelitian di lokasi Cheomseongdae pada tahun 1909, meyakinkan bahwa Cheomseongdae adalah sebuah bangunan observatorium. Pengamatan astronomi pada saat itu dilakukan dengan mata telanjang, dan dengan bantuan alat-alat seperti gnomon. Tentunya perhitungan-perhitungan khusus dilakukan dengan bantuan kalender.

Menurut penelitian lainnya, bangunan ini telah dipakai selama ratusan tahun oleh para astronom kerajaan, untuk mempelajari pergerakan bintang dan planet, serta untuk memperkirakan waktu gerhana bulan dan matahari. Setelah fakta tersebut berhasil diinterpretasi, hasilnya kemudian akan dilaporkan pada raja atau ratu, untuk membantu mereka mengambil keputusan, dalam upaya memperkuat otoritas kerajaan, serta meningkatkan kualitas taraf kehidupan. Selain itu, Cheomseongdae dipercaya pula dapat membantu menyingkapkan pemahaman rakyat, di zaman itu, mengenai surga dan kuasa ilahi.

Keunikan Bangunan Cheomseongdae

Observatorium Cheomseongdae yang berada di Korea ini, ternyata memiliki sejumlah keunikan. Keunikan inilah yang menjadikannya sebagai salah satu tempat yang sangat ingin dikunjungi. Pengen tahu apa-apa saja keunikannya tersebut? Nah, berikut ini adalah penjelasan.

  • Konstruksi Cheomseongdae ini memiliki bentuk yang sangat indah. Bentuk bangunan ini sangat mirip dengan sebuah vas bunga.
  • Bangunan Cheomseongdae yang ada di Korea ini terdiri dari susunan batu-batu, yang masing-masing memiliki makna tertentu.
  • Jumlah batu yang disusun tanpa perekat tersebut memiliki konstruksi yang simetris, sehingga dapat berdiri kokoh setinggi 9,4 meter.
  • Jumlah batu untuk menyusun menara utama adalah berjumlah 365 buah, yang menandakan jumlah hari dalam satu tahun masehi.
  • Jumlah susunan batu melingkar di bagian atas bangunan ini mencapai 27 buah. Susunan itu diasosiasikan sebagai urutan Ratu Seondeok, sebagai pemimpin ke 27 Dinasti Silla. Sedangkan secara vertikal, dari tengah ke bawah, 12 batu besar yang menjadi pondasi bangunan itu diasosiasikan sebagai jumlah tahun dalam perhitungan kalender Cina.
  • Sejak Cheomseongdae atau menara pengamat bintang tersebut dibangun, hasil pertanian di Gyeongju melimpah ruah. Hingga sekarang, pertanian menjadi sumber mata pencarian utama masyarakat Gyeongju, selain industri pariwisata.
  • Bangunan Cheomseongdae ini masuk kedalam situs sejarah UNESCO World Herritage, karena keunikan yang dimilikinya.

Wah, sepertinya Cheomseongdae ini sangat menarik untuk dikunjungi. Tapi kapan ya? Gimana menurut kalian guys? Tertarik nggak untuk berkunjung ke tempat ini? Pasti lah ya. Dengan mengunjungi salah satu tempat bersejarah ini, anda tidak hanya bisa mengamati bintang-bintang di langit, tapi juga sekaligus bisa belajar banyak tentang sejarahnya. Jadi tidak ada ruginya untuk berkunjung ke Cheomseongdae ini.