culture

Diadakan Setahun Sekali, Penerimaan Karyawan di Jepang Timbulkan Depresi

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah, terutama di tingkat akhir biasanya para siswa sudah mulai mempersiapkan diri mereka untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi (universitas) atau lebih memilih untuk mencari pekerjaan seusai tamat sekolah.

Setiap orang pasti punya pilihannya masing-masing. Tergantung pada minat dan tujuan yang hendak mereka capai. Kalau anda sendiri gimana? Apa keputusan yang anda buat setelah tamat sekolah? 

Apa anda memilih untuk langsung bekerja? Atau kuliah dulu? Oh, atau mungkin anda kuliah sambil bekerja? Banyak juga lo orang yang memilih opsi ketiga ini.

Berbicara tentang mencari atau mendapatkan pekerjaan, seperti halnya di Indonesia dan banyak negara yang lainnya, bukanlah sesuatu yang mudah seperti saat kita mengedipkan mata. Dibutuhkan usaha yang keras, kemampuan dan juga relasi yang banyak dan kuat pastinya.

Memiliki relasi yang dimaksud di sini bukan berarti Nepotisme ya guys. Relasi yang banyak sangat kita butuhkan untuk memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan yang sedang buka dan bisa kita coba lamar.

Tapi sesulit-sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, ternyata belum ada apa-apanya dengan yang terjadi di Jepang, terutama untuk beberapa tahun terakhir. Sanking sulitnya, banyak diantara mereka yang menjadi depresi dan akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup mereka (bunuh diri).

Seberapa sulit sih sebenarnya mendapatkan pekerjaan di Jepang? Mengapa sampai banyak yang depresi hanya karena tidak mendapatkan pekerjaan? Anda pasti penasarankan? Ini nih jawabannya.

Mengenal Shuukatsu, Perburuan Pekerjaan di Jepang

Mendapatkan pekerjaaan yang baik dan menjadi mandiri dari orang tua merupakan impian setiap orang, termasuk masyarakat Jepang. Tapi nyatanya, mendapatkan pekerjaan di negara yang terkenal dengan teknologi canggihnya ini tak semudah seperti yang diharapkan.

Uniknya lagi, para siswa Jepang harus mendapatkan pekerjaan sebelum mereka lulus dari universitas. Jika tidak, mereka akan dianggap seolah-olah keluar dari sistem masyarakat.

Dengan kata lain mereka harus pergi dan mengikuti berbagai seminar, mengirim CV mereka ke banyak perusahaan (terkadang sampai lebih dari 100), melakukan wawancara dan masih banyak hal lainnya yang juga harus mereka lakukan demi mendapatkan tawaran pekerjaan.

Di Jepang, kegiatan berburu pekerjaan ini dikenal dengan sebutan shuukatsu. Untuk mengetahui lebih lagi mengenai aktivitas perburuan pekerjaan yang ada di Jepang ini, anda bisa melanjutkan pembacaannya di bawah ini.

Pengertian Shuukatsu

Shuukatsu adalah singkatan dari dua kata, yaitu: “Shuu” dari kata shuushoku yang artinya pekerjaan dan “Katsu” yang berasal dari kata katsudou yang berarti aktivitas.

Kita semua tahu bahwa Jepang merupakan negara yang memiliki kehidupan yang sangat keras, terutama dalam hal mendapatkan pekerjaan.

Beberapa waktu yang lalu, kita pernah membahas kisah seorang pria Jepang yang tinggal di Bilik Warnet. Karena tak memiliki pekerjaan yang bagus, pendapatannya pun tak cukup untuk menyewa rumah yang lebih layak untuk dihuni.

Gambaran pria ini rasanya sudah cukup untuk dijadikan sebagai bukti kalau memang tidak mudah untuk mencari dan mendapat pekerjaan di sana.

Jadi wajar saja jika banyak di antara masyarakatnya menjadi depresi. Kita tinggalkan dulu kisah lelaki ini dan kembali ke topik awal kita tentang shuukatsu (perburuan pekerjaan di Jepang).

Biasanya, shuukatsu diselenggarakan hanya satu kali dalam setahun, tepatnya antara tanggal pertengahan atau akhir bulan Maret atau sekitar awal bulan April.

Nah, inilah waktu dimana sebagian besar perusahaan akan membuka peluang pekerjaan bagi anggota atau karyawan baru. Jadi bisa dikatakan kalau inilah saat-saat yang paling menegangkan bagi anak-anak muda yang sedang mencari pekerjaan dan bermimpi mendapatkan yang terbaik.

Ketika para siswa ini duduk di tahun ketiga di Universitas, sudah banyak dari mereka yang mencoba mendaftar ke banyak perusahaan (bahkan ada yang sampai sudah mendaftar ke 100 perusahaan). Namun sayangnya, tak sedikit dari mereka yang dirolak atau tidak diterima bekerja.

Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan (secara otak orang-orang Jepang itu kan hampir seluruhnya cerdas)  melainkan karena memang prosesnya yang sangat kompetitif.

Dulunya tak hanya Jepang yang melakukan hal ini tapi juga Korea Selatan. Namun karena alasan tertentu, kini Jepang adalah satu-satunya negara yang mempraktikkan kebiasaan ini.

Aturan Yang Harus Dipenuhi Oleh Peserta

Saat akan mengikuti shuukatsu, para peserta tak hanya harus mempersiapkan mental dan kemampuan kognitif mereka saja, tapi juga penampilan saat mengikuti proses tersebut.

Sebenarnya tak hanya di negara sakura ini saja sih yang melihat penampilan pelamar pekerjaan, di Indonesia hal tersebut juga cukup diperhatikan meskipun memang tak seluruh perusahaan menerapkannya.

Khusus di Jepang, peraturan yang harus dimiliki oleh para peserta saat melakukan atau mengikuti shuukatsu adalah sebagai berikut:

  • Pakaian : Lebih baik jika para pesertanya memakai setelan hitam daripada yang berwarna. Selain itu, hindarilah setelan dengan desain yang aneh-aneh dan garis-garis. Biasanya, toko baju dan department store yang ada di sana telah menyediakan setelan khusus untuk shuukatsu.
  • Gaya Rambut : Gaya rambut ideal untuk melamar pekerjaan di Jepang adalah rambut yang berwarna hitam. Karena kebanyakan orang di sana telah mewarnai rambut mereka menjadi cokelat muda, maka mereka harus mewarnai kembali rambut mereka. Selain itu, pastikan gaya rambut anda tidak menutupi telinga.
  • Letak Poni : Jika peserta memiliki poni, mereka harus memotongnya sampai di atas alis. Jika tidak, wawancara anda akan mendapatkan hasil yang suram.
  • Ikat Rambut : Peserta yang memiliki rambut panjang harus memperhatikan ikatan rambut mereka. Perlu diingat kalau ikatan rambut tidak boleh terlalu santai.
  • Make up : Kenakanlah riasan alami tapi cukup terlihat. Penting untuk memberi kesan bahwa peserta adalah orang yang ceria. Di Jepang, jika seorang wanita tidak memakai make up, beberapa orang akan menganggapnya tidak sopan. Namun, jika peserta memakai riasan yang terlalu banyak seperti misalnya saat berkencan, pewawancara tidak aka menganggap anda sebagai seseorang yang bekerja dengan serius. Kalau anda merasa ragu atau tidak yakin apakah riasan anda dapat diterima atau tidak, maka ikutilah seminar make up shuukatsu.
  • Pemilihan Tas : Saat mengikuti wawancara, anda harus membeli tas khusus. Tas tersebut haruslah yang sederhana, hitam dan berbentuk persegi.
  • Sepatu : Pakailah sepatu pantofel hitam. Karena anda harus menghadiri banyak seminar dan pergi ke banyak kantor untuk wawancara selama shuukatsu, anda perlu memakai sepatu yang nyaman untuk dipakai berjalan.
  • Aksesoris : Ketika akan melakukan wawancara, sebelumnya para peserta harus melepaskan semua aksesoris yang anda gunakan, karena seharusnya anda tidak mengenakannya di depan pewawancara.

Respon Siswa Terhadap Shuukatsu

Di Jepang, kalau disuruh pilih antara isteri dan pekerjaan, maka perusahaan dan pekerjaan merupakan hal yang paling diprioritaskan. Mungkin bagi anda hal ini terlalu kejam.

Tapi untuk mereka yang menjalankan, hal tersebut sudah menjadi sebuah keharusan yang muthlak. Tanpa pekerjaan, mereka hanya akan menjadi “sampah” di negara mereka sendiri.

Itulah sebabnya mengapa setiap tahunnya beberapa siswa menjadi sangat depresi sampai-sampai harus bunuh diri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Jepang adalah negara memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.

Beberapa tahun yang lalu ada lebih dari 25.000 orang yang telah mengakhirinya (berarti 70 orang per harinya) dan kebanyakan di antara mereka melakukannya di hutan aokigahara.

Melihat hal tersebut, banyak kaum muda yang akhir-akhir ini mulai muak dengan aturan pencarian pekerjaan dan pendekatan untuk berburu pekerjaan itu. Mereka pun mulai memberontak melawan korporasi Jepang dan peraturan yang mereka anggap terlalu berlebihan.

Lantas, bagaimana cara mereka untuk mencapai hal tersebut? Apakah dengan jalan protes dan tuntutan perubahan? “Tidak”. Atau dengan memberitahu para pebisnis tentang perasaan mereka? “Tidak juga”. Atau mungkin bergabung dengan perserikatan tertentu?

Ini adalah negara Jepang, guys. Hal tersebut harus dikomersilkan. Dan karena alasan itu, sebuah kelompok baru pun dibentuk. Tujuannya adalah untuk menyoroti kesalahan pada proses ini dan membawa lebih banyak kesadaran akan bagaimana kontraproduktif keseluruhan sistem.

Kelompok ini dikenal dengan nama Kichohanakansha dan terdiri dari wanita muda, yang mencoba menyulap tuntutan pelaksanaan, pencatatan, penampilan dan pencarian pekerjaan.

Hanya ada dua peraturan ketat di dalam kelompok ini, yaitu:

  1. Setiap anggota harus mengenakan pakaian kerja sebagai penunjang penampilan
  2. Mereka harus melamar pekerjaan.

Begitu anggota telah diterima oleh perusahaan pilihan pertama mereka, dia harus meninggalkan kelompok tersebut untuk bekerja di perusahaan itu.

Tujuan utamanya adalah untuk menyoroti semua masalah yang terkait dengan situasi pencarian pekerjaan yang unik di Jepang.
Menurut ikatan tersebut, “Sekalipun mereka gagal, setidaknya mereka telah mencobanya.”

Di bulan-bulan yang telah di tentukan sebagai waktu pelaksanaan shuukatsu, segerombolan rekrutan baru dengan panik akan terlihat berkeliaran di jalanan untuk mengikuti wawancara atau pelatihan.

Mereka semua berasal dari latar belakang yang tidak sama, dengan kemampuan yang juga berbeda-beda, namun memiliki tujuan dan harapan yang sama, yaitu diterima bekerja di perusahaan yang mereka inginkan. Tak terbayangkan seberapa besar usaha yang telah mereka lakukan untuk mendapatkannya.

Namun memang tak bisa dipungkiri kalau tidak semua orang memiliki keberuntungan yang sama. Kalau ada yang diterima pasti akan ada yang ditolak, karena begitulah prosesnya. Tapi kalau bisa sih sebaiknya hal ini jangan sampai menimbulkan depresi atau bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Bagaimana pendapat anda tentang masalah ini? Setujukan anda dengan pendekatan dan aturan perburuan pekerjaan, yang diterapkan oleh negara sakura tersebut? Apakah cara ini menguntungkan atau malah merugikan dan menjadi beban bagi para pesertanya?

Pertanyaan ini kami tanyakan tanpa adanya tujuan untuk memprokasi atau sejenisnya, karena toh kita juga tidak bisa berbuat apa-apa ataupun mengubah peraturan tersebut, karena itu sudah menjadi kebijakan negara itu sendiri.

Semoga saja informasi yang kami sampaikan ini bisa mengubah persepsi anda kalau hanya anda satu-satunya orang di dunia ini yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan, karena masih banyak orang-orang di luar sana yang bahkan jauh lebih tertekan terkait perburuan pekerjaan.

So guys, masih mikir kalau mencari pekerjaan di Indonesia lebih sulit dibandingkan di negara lain?