culture

Tak Sanggup Ngontrak Rumah, Pria Jepang Ini Tinggal di Bilik Warnet

Seluruh masyarakat dunia sepertinya telah mengetahui bahwa Jepang adalah sebuah negara yang sangat menarik untuk dikunjungi. Bagaimana tidak, negara sakura ini selalu mampu memberikan dan menciptakan hal-hal yang unik dan pastinya akan membuat masyarakat dunia terpelongo melihatnya.

Semua itu tentu saja berkat kecerdasan dari masyarakat Jepang itu sendiri, yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah mereka capai, miliki atau ciptakan. Tuntutan dedikasi yang tinggi juga menjadi salah satu faktor kesuksesan Jepang menjadi negara maju.

Kalau di-flashback kembali, sejarah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas kaitannya dari negara Jepang. Pasti tahu kan kenapa bisa seperti itu? Yah, Bangsa Jepang adalah salah satu bangsa yang dulunya pernah menjajah Indonesia.

Pada masa penjajahan dulu, Jepang termasuk yang paling kejam. Kekejaman mereka tidak hanya dirasakan oleh Indonesia, tapi juga beberapa negara lainnya, seperti salah satunya adalah China.

Akan tetapi, setelah masa penjajahan tersebut berlalu, bukannya mendapatkan kebencian atau penolakan dari negara-negara bekas jajahannya, Jepang malah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu negara yang cukup berpengaruh di dunia.

Negara ini merupakan salah satu pemasok terbesar dari sejumlah barang-barang elektronik dan otomotif ternama yang dipakai oleh masyarakat dunia, misalnya : Toyota, panasonic, Sharp dan banyak lagi contoh lainnya.

Jepang Memiliki Masyarakat Yang Super Sibuk

Selain terkenal karena hasil-hasil ciptaannya yang begitu berharga, Jepang juga terkenal dengan masyarakatnya yang hidup dalam kesibukan pekerjaan yang luar biasa.

Mereka bahkan hampir tidak punya waktu untuk bersantai, karena deadline mereka yang begitu padat dan harus siap pada waktunya. Jangankan untuk bersantai, terkadang untuk makan dan tidur saja mereka tidak sempat. Beda banget kan guys dengan masyarakat Indonesia yang hobinya molor saat jam kerja. hehe

Kalau dibandingin dengan kinerja masyarakat Indonesia sih, sepertinya akan sangat jauh sekali perbedaannya. Indonesia masih sangat tertinggal untuk jika dibandingkan dengan negara samurai ini, terutama dalam hal kedisiplinan hidup dan kerja. Betul nggak guys?

Selain disiplin, masyarakatnya juga sangat bertanggung jawab atas pekerjaan yang mereka lakukan. Jika mereka tidak sempat menyelesaikan pekerjaan mereka di kantor, mereka biasanya akan membawa pekerjaan tersebut pulang dan mengerjakannya setibanya di rumah. Itulah sanking berdedikasinya mereka terhadap pekerjaan mereka.

Hidup Dalam Tekanan

Untuk hal tekanan, sepertinya masyarakat yang tinggal di Jepang adalah salah satu yang paling tertekan di dunia, terutama dalam hal pekerjaan. Beratnya tekanan ini tidak jarang membuat sebagian masyarakatnya merasa frustasi dan akhirnya memilih untuk mengambil jalan pintas, yaitu dengan cara bunuh diri. Itulah sebabnya mengapa tingkat bunuh diri di negara sakura ini sangatlah tinggi.

Bukan karena alasan putus cinta atau patah hati. Keputusan bunuh diri ini diambil karena mereka menganggap bahwa mereka sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan yang mereka jalani, yang salah satunya adalah tekanan dari dunia kerja.

Di negara ini, mereka yang tidak bisa mempertahankan dan mengembangkan mobilitas, kreativitas dan hanya bersifat monoton saja akan langsung dibuang alias dipecat.

Apalagi jika mereka tidak memiliki bakat atau kemampuan khusus, jangan harap deh bisa mendapatkan pekerjaan. Jepang tidak mau mempekerjakan mereka yang tidak memiliki bakat khusus dalam bisang tertentu, serta tidak akan mempertahankan mereka yang tidak bisa memberikan kontribusi terhadap kantor.

Kejam sekali bukan kehidupan masyarakat Jepang ini? Gimana nggak tertekan coba kalau hidup begitu? Mau tidak mau mereka harus menjalani kehidupan yang penuh dengan berbagai tekanan untuk bisa menunjang kehidupan mereka. Jadi tidak aneh jika pada akhirnya mereka merasa lelah dan tidak kuat dengan tekanan tersebut.

Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan di Jepang

Setiap manusia diciptakan dengan kemampuan dan bakat yang berbeda-beda. Begitu juga dengan masyarakat yang ada di Jepang ini. Tidak semua dari memiliki bakat ataupun kemampuan. Jadi dengan kata lain, tidak semua dari mereka yang memiliki pekerjaan yang layak, atau bahkan sama sekali tidak memiliki pekerjaan atau bahasa sehari-harinya disebut dengan gelandangan.

Di negara ini, anda tidak boleh sampai tidak memiliki kemampuan apa-apa karena anda akan dianggap sampah di sana. Bahkan untuk sekedar bermimpi saja pun rasanya akan sangat sulit. Tidak akan ada perusahaan yang mau menampung orang-orang yang seperti ini. Lantas, gimana dengan kehidupan mereka? Apakah mereka bisa hidup dengan layak?

Pertanyaan di atas rasa-rasanya sangat menyedihkan untuk dibahas. Tapi anda juga perlu mengetahuinya. Yah, paling tidak, anda bisa tahu bahwa anda yang hidup di Indonesia masih lebih beruntung dibandingkan mereka. Jadi anda bisa lebih menghargai segala sesuatu yang anda miliki.

Agar anda bisa lebih paham dan mengerti bagaimana kerasnya kehidupan mereka yang tidak memiliki kedudukan di Jepang, mungkin dengan membaca kisah dari salah seorang masyarakat Jepang berikut ini bisa membantu memberikan pengertian untuk anda.

Kisah Seorang Pria Jepang Yang Tidak Memiliki Rumah

Kisah hidup yang akan diceritakan ini adalah sebuah cerita nyata yang dialami oleh seorang pria Jepang yang meskipun sudah bekerja cukup lama, namun tetap belum bisa tinggal di rumah yang layak. Kisah ini mungkin bisa anda jadikan sebagai inspirasi untuk anda.

Pria yang malang ini bernama Fumiya. Pria tersebut berusia kira-kira kurang lebih 26 tahun. Dia bekerja sebagai seorang satpam di sebuah perusahaan konstruksi yang berdiri di Jepang.

Awalnya dia berniat untuk mencari sebuah apartemen untuk tinggal, namun sayangnya biaya untuk tinggal di sana ternyata sangatlah mahal. Jadi dia memutuskan untuk tinggal di internet cafe atau kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan “warnet“.

Biasanya sih dia ke sana hanya untuk bersenang-senang saja. Tapi lama kelamaan, ia akhirnya mulai berpikir untuk tinggal di sana saja, karena di tempat tersebut tidak memuat peraturan yang sulit untuk dijalankan.

Tapi saat pertama kali pindah ke tempat tersebut, dia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan tenang. Yah wajar saja, karena tinggal di sebuah cafe warnet pastinya akan sangat berisik karena penuh dengan suara dari para pengunjung.

Dia sering kali terbangun karena mendengar suara seseorang yang tengah mencuci piring. Saat sedang tidur, sedikit suara seperti itu bisa sangat mengganggu untuk dirinya. Sebenarnya dia ingin sekali mengumpulkan atau menabung uangnya untuk membeli rumah, namun tetap saja tidak cukup. Tapi untungnya tinggal di warnet ini adalah barang-barang di sana sangat lengkap dan harganya juga tidak mahal.

Hanya di tempat seperti inilah dia bisa hidup dengan tenang tanpa harus khawatir dengan jumlah tagihan yang tinggi. Dia sadar bahwa dia tidak bisa terus-terusan hidup dengan pekerjaan yang tidak menetap. Dia ingin sekali memiliki kemampuan lebih dan menjadi karyawan yang berpenghasilan tetap.

Para pengungsi internet cafe ini awalnya muncul sekitar akhir tahun 1990-an. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi lebih banyak di tahun 2000-an. Saat ini di jepang, ada sekitar 38% orang yang menjadi pekerja sementara (pekerja kontrak). Sebagian besar dari pekerja-pekerja tersebut memiliki kontrak jangka pendek.

Dari jumlah persentase tersebut bisa disimpulkan bahwa jumlah pekerja sementara di negara Jepang ini hampir separuh dari jumlah karyawan tetapnya. Ketimpangan inilah yang mengarah langsung pada kemiskinan. Sejauh ini di jepang memang sangat sulit untuk mendapatkan kehidupan yang layak bagi pengangguran.

Untuk masyarakat Jepang, sekali anda kehilangan pekerjaan, maka anda tidak akan bisa hidup. Wow, seram sekali bukan? Jadi gak heran jika banyak diantara mereka yang akan mengambil jalan bunuh diri ketika kehilangan pekerjaan.

Itulah alasan yang membuat mengapa orang-orang Jepang mau-mau saja bekerja satu harian. Mereka tidak tahu bahwa keputusan tersebut akan mengakibatkan sesuatu yang bahkan lebih buruk pada akhirnya. Ketika mereka memutuskan untuk melakukan hal tersebut, berarti mereka telah siap untuk mengalami stress berat karena pekerjaan itu.

Selain Fumiya, ada Tadayuki Sakai yang juga mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dulunya dia adalah seorang pekerja yang bergaji tetap. Tapi sama seperti Fumiya, dia sudah tinggal di internet cafe sekitar 4 bulanan.

Dia bekerja di sebuah perusahaan kartu kredit. Dia memiliki sekitar 120 sampai 200 jam lembur dalam sebulan. Di perusahaan tersebut dia bekerja untuk mengelola sistem komputer. Karena jam kerjanya yang begitu padat, dia tidak punya waktu untuk pulang.

Jadwal pekerjaan yang padat membuatnya terkadang harus tidur siang di kantor dan kembali bekerja setelah terbangun. Dia bahkan tidak tahu apa itu siang dan malam. Karena hal tersebut, orang-orang di sekitarnya banyak yang mengatakan bahwa sejak jam kerjanya bertambah dia pun mulai berubah. Dia menjadi lebih mudah tersinggung dan emosional. Tetapi dia tidak menyadarinya.

Setelah melakukan pemeriksaan konseling, dokter memberikan diagnosa bahwa dirinya mengalami depresi. Tak hanya dirinya, sebenarnya masih banyak orang-orang di Jepang yang juga mengalami hal yang sama.

Setelah didiagnosa mengalami depresi, dia pun akhirnya mengambil cuti selama satu bulan untuk mengobati depresinya tersebut. Krena depresi yang dialaminya itu, banyak sekali orang yang pada akhirnya menggosipkan dirinya dan menganggapnya sebagai seorang psiko.

Bukan hanya orang-orang yang berada di sekitarnya saja, bossnya bahkan mengatainya sebagai orang lemah dan memiliki sikap kerja yang tidak baik. Karena pandangan bossnya yang seperti itu, dia pun terancam tidak mendapatkan kenaikan gaji.

Boss nya juga sempat mengajaknya minum-minum, tapi dia menolak. Mendengar penolakannya itu, bosnya langsung merajuk dan tidak mau berbicara dengannya selama kurang lebih satu setengah bulan bahkan untuk membahas urusan pekerjaan. Menangani tekanan semacam inilah yang sangat sulit. Tapi seperti itulah kebudayaan yang berlaku di Jepang untuk menjadi pekerja yang sukses.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan: “Lebih baik membungkuk daripada hancur“. Yang berati jangan pernah melawan orang-orang yang memiliki kekuatan. Pelecehan kekuasaan memang sebuah hal yang biasa terjadi. Akan tetapi para generasi muda tidak boleh menolerir hal itu.

Sangat lumrah memang bagi seorang bos untuk mengatakan, “mengapa kamu tidak mengerti hal mudah seperti itu?“, tapi jika sampai menempeleng ataupun meneriaki anda di hadapan umum, sepertinya sudah bukan hal yang wajar. Kalau hal semacam ini terjadi pada anda, anda berhak untuk  protes atau bahkan melaporkannya sebagai tindakan kejahatan, sekalipun yang melakukannya adalah boss anda sendiri.

Melihat perlakuan bos nya yang semena-mena seperti itu, pada akhirnya kesabarannya pun telah sampai pada tahap akhir. Setelah bekerja selama 20 tahun, dia pun memutuskan untuk berhenti.

Sesaat setelah dia berhenti bekerja, dia malah merasa tampak lebih segar dan lega. Seperti ada nyanyian yang muncul dari dalam hatinya. Namun meskipun terkesan lebih bahagia, namun tetap saja dia harus mencari pekerjaan lain untuk bisa menjalani kehidupannya yang baru.

Begitu lah kerasnya kehidupan yang harus dijalani oleh masyarakat Jepang pada umumnya, dimana hanya mereka yang memiliki bakat dan kemampuan saja lah yang memiliki kesempatan hidup yang baik dan nyaman. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki bakat pada akhirnya harus menjalani kerasnya hidup seperti kedua pria yang diceritakan di atas tadi.

Gimana guys? Masihkan anda bersungut-sungut dengan hidup anda? Masih kah anda berpikir kalau hanya anda lah satu-satunya orang yang paling menderita di dunia ini?Think twice, guys”. Lihat sekitar anda dan sadarlah bahwa masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih tidak beruntung dari anda. Jadi, syukurilah apa yang sudah anda miliki.