Fashion

Bentuk Pakaian Dalam Wanita Pada Zaman Romawi Kuno

Pernahkah anda meonton Film yang berjudul The Last Legion? Film ini merupakan sebuah film bergenre action, dengan latar zaman Romawi kuno. Film ini berkisah tentang kerajaan Romawi yang terancam runtuh karena ancaman yang muncul dari Jenderal Odoacer (Peter Mullan).

Ketika menonton film ini, anda akan dimanjakan dengan segala hal yang berbau tentang kehidupan bangsa romawi kuno pada masa lalu. Romawi Kuno adalah sebuah peradaban yang tumbuh di negara Roma, yang terletak di Semenanjung Italia sekitar abad ke-9 SM. Banyak keunikan yang ditemukan pada peradaban bangsa ini. Salah satunya adalah berkaitan dengan cara berpakaiannya. Penasaran kan? Berikut adalah penjelasannya:

Cara Berpakaian Wanita Romawi Kuno

Berbeda halnya dengan bangsa Yunani kuno, bagi bangsa Romawi kuno, telanjang merupakan hal yang sangat tabu. Dalam sastra dan seni Romawi, hanya para gladiator, budak dan masyarakat kelas rendah saja yang sering dijadikan model untuk lukisan atau pahatan telanjang atau setengah telanjang.

Gaya berpakaian bangsa Romawi kuno pada awalnya sangat sulit untuk diidentifikasi oleh para Arkeolog dunia. Arkeolog mengalami kesulitan untuk mengungkapkan penemuan ini, karena kondisi potongan linen, wol, sutera dan berbagai kain yang telah menjadi artefak ini, ditemukan dalam keadaan yang hampir hancur, karena perubahan iklim dan waktu.

Tapi dengan berbagai usaha yang dilakukan, akhirnya mereka berhasil mendapatkan berbagai informasi mengenai penemuan tersebut, kemudian mengambil beberapa kesimpulan. Hal unik yang bisa ditemukan dari keberadaan masyarakat romawi kuno pada saat itu salah satunya adalah keunikan dalam hal cara berpakaian para wanitanya.

Pakaian yang dipakai oleh wanita pada zaman romawi kuno ini bisa dibilang cukup unik. Pakaian-pakaian tersebut memiliki sebutan yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa diantaranya yaitu: Tunik, Stolla, Palla, dan Strophium & Subligar. Nah, yang akan dibahas di sini hanya salah satu diantara keempat pakaian tersebut. Kalau semua dibahas, bakalan panjang banget ceritanya guys.

Strophium & Subligar

Strophium & Subligar merupakan sebutan untuk pakaian dalam, yang digunakan oleh kaum wanita romawi kuno. Kedua jenis pakaian dalam ini dikenakan oleh kaum wanita yang berbeda di zaman tersebut. Strophium adalah jenis band yang digunakan untuk menutupi bagian dada, sementara subligar adalah selembar kain yang digunakan untuk menutupi bagian bawah. Kedua jenis pakaian ini diyakini menjadi cikal bakal perkembangan “pakaian dalam” di era modern. Fashion yang berkembang di zaman modern seperti sekarang ini pun bisa dibilang terinspirasi dari peradaban romawi kuno.

Pemakaian pakaian dalam pada zaman ini merupakan salah satu hal yang paling penting, terutama bagi mereka yang termasuk kalangan terkemuka pada masa tersebut

Strophium yang populer saat itu sangat mirip dengan top bandeau, yang digunakan untuk mengikat payudara. Badeau ini adalah kain yang berdiameter tipis, yang digunakan untuk menutupi payudara sebagai alternatif dari bra. Pada zaman tersebut, wanita Romawi kuno sangat menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Bentuk tubuh ideal yang diinginkan tersebut adalah bentuk tubuh yang ramping dengan payudara kecil, dan pinggul besar.

Nah untuk mendapatkan bentuk payudara yang ideal tersebut, sebuah penyangga payudara yang disebut strophium ini pun menjadi salah satu alternatif yang paling tepat untuk digunakan. Pakaian dalam ini dipercaya oleh wanita romawi dapat membuat payudara mereka menjadi lebih kencang, dan bisa menutupi ukuran payudara yang terlalu besar.

Penemuan mengenai pakaian dalam yang disebut dengan Strophium ini didapat dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli, serta melalui beberapa gambar yang memperlihatkan tampilan wanita pada masa romawi tersebut. Di beberapa lukisan, tampak beberapa wanita romawi mengenakan pakaian dalam ini.

Pakaian dalam perempuan pada masa Romawi Kuno ini bisa dibilang merupakan inspirasi pembuatan bikini, yang sering digunakan untuk bersantai di pantai pada zaman modern seperti sekarang. Bikini ala Romawi kuno ini terbuat dari kulit kambing, yang tahan air dan dapat menyerap darah saat menstruasi.

Penggunaan pakaian dalam jenis Strophim ini ternyata tidak dipakai oleh semua penduduk Romawi kuno. Ada kalangan tertentu yang memang khusus menggunakannya. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, kalau hanya kalangan tertentu yang boleh memakai pakaian dalam ini, jadi yang lain memakai apa? Apa mereka telanjang atau mungkin memakai dedaunan untuk menutupi tubuhnya? Mungkin pertanyaan itu yang sedang berputar-putar di kepala anda sekarang. Iya kan?

Karena tidak semua wanita diperbolehkan memakai pakaian ini, maka sebagian kecil dari mereka hanya akan memakai sebuah kain balut berbentuk ‘popok’ yang disebut dengan subligaculum. Subligaculum ini tidak digunakan oleh semua orang. Pakaian ini pada umumnya hanya digunakan oleh para atlet dan budak, atau siapapun yang bekerja di bawah teriknya matahari.

Wah, tidak disangka, ternyata pakaian dalam yang banyak ditemukan masyarakat di zaman ini ternyata sudah ada sejak dulu sekali. Hanya saja tampilannya dulu sangat sederhana jika dibandingkan dengan yang ada pada zaman sekarang. Kalau sekarang sih, pakaian dalam punya jutaan desain dan bentuk. Dari Bra berenda sampai berlampu pun ada.  Bener gak?

About the author

Miya Suzuka