Healthy

Bukan Malas Apalagi Bodoh, Sulit Membaca dan Menulis Adalah Ciri Pengidap Disleksia

Setiap manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang memang terlahir pintar ataupun cerdas dan ada pula yang mendapatkan kemampuan atau kepintarannya setelah mengikuti berbagai pembelajaran yang ada di sekolah, rumah, ataupun di tempat-tempat lainnya.

Berbicara tentang sekolah, biasanya di tempat inilah kemampuan anak mulai terlihat. Apakah dia berbakat dalam bidang keilmuan, olahraga, kesenian dan lain sebagainya. Ingat, semua anak memiliki keunikannya masing-masing. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang “BODOH”.

Jadi, jangan pernah keluarkan kata-kata itu baik untuk maksud mengejek ataupun bercanda, karena selain itu adalah kata-kata yang tidak baik, tapi juga bisa menyakiti perasaan mereka, khususnya mereka yang masih anak-anak.

Mereka yang tidak begitu bisa mengikuti atau sulit mengerti pembelajaran di sekolah bukanlah anak yang ‘bodoh‘, hanya saja mereka membutuhkan cara dan waktu yang ekstra untuk bisa mengerti penjelasan yang disampaikan.

Tanpa anda sadari, beberapa dari anak tersebut mungkin saja mengidap sebuah gangguan yang dikenal dengan sebutan disleksia. Pernahkah anda mendengar tentang gangguan ini sebelumnya? Anda yang belum pernah mendengar istilah tersebut, artikel ini akan memberikan informasi seputar disleksia yang anda butuhkan.

Mengenal Disleksia

Disleksia adalah suatu gangguan proses belajar, dimana seseorang mengalami kesulitan dalam hal membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia umumnya akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi bagaimana kata-kata yang diucapkan harus diubah menjadi bentuk huruf atau kalimat dan begitupun yang sebaliknya.

Gangguan ini umumnya dijumpai pada usia anak-anak dan dapat menyerang anak dengan penglihatan dan tingkat kecerdasan yang normal. Dengan kata lain, disleksia tidak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan seseorang. Sekarang anda mengerti kan kenapa anak disleksia bukanlah anak yang bodoh? 

Apa Sajakah Gejala Dari Gangguan Ini?

Gejala disleksia yang dialami oleh masyarakat yang sangat bervariasi dan berbeda antara satu dengan yang lainnya membuat gangguan ini terkadang sulit untuk dikenali. Akan tetapi, sebenarnya disleksia bisa didiagnosis sendiri. Biasanya, gejalanya baru akan bisa dikenali saat seseorang mulai memasuki usia sekolah.

Keseharian yang mereka tunjukkan selama berada dan mengikuti pembelajaran di sekolah akan menunjukkan bagaimana kemampuan mereka. Dengan begitu, anak-anak yang memiliki gangguan seperti ini akan segera terdeteksi.

Gejala yang paling umum terjadi misalnya adalah terlambat bicara, lambat dalam mempelajari kata-kata baru dan membaca, kesulitan berpikir dan memahami sesuatu, kesulitan mengeja atau kesulitan menghafal. Untuk lebih signifikan, gejala dari gangguan ini antara lain:

Pada Anak Sebelum Sekolah

  • Perkembangan kemampuan berbicara anak biasanya lebih lamban dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusianya.
  • Membutuhkan waktu yang lama untuk belajar kata baru, misalnya sering keliru saat menyebut kata ‘ibu’ menjadi kata ‘ubi’.
  • Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya, misalnya kesulitan untuk memilih kata yang tepat atau kesulitan menyusun kata dengan benar.
  • Kurang memahami kata-kata yang memiliki rima, contohnya “putri menari sendiri“.

Setelah Memasuki Dunia Sekolah

Gejala-gejala disleksia umumnya akan terlihat lebih jelas ketika anak mulai belajar membaca dan menulis di sekolah. Jika anda memiliki anak dengan gangguan ini, biasanya anak Anda akan mengalami beberapa kesulitan yang meliputi:

  • Kesulitan pada saat memproses dan memahami apa yang didengarnya.
  • Lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad.
  • Sering salah atau terlalu pelan saat membaca.
  • Lamban saat menulis dan tulisan yang tidak rapi.
  • Kesulitan mengingat urutan, misalnya urutan abjad atau nama hari.
  • Kesulitan mengeja, misalnya huruf “d” sering tertukar dengan huruf “b”, atau angka “6” dengan angka “9”.
  • Lamban dalam menulis, misalnya saat didikte atau menyalin tulisan.
  • Kesulitan mengucapkan kata-kata yang baru dikenal.
  • Memiliki kepekaan fonologi yang rendah. Contohnya, mereka akan kesulitan menjawab pertanyaan “bagaimana bunyinya apabila huruf ‘b’ pada ‘buku’ diganti dengan ‘s’?”

Saat Remaja

Pada sebagian orang tua, gangguan disleksia ini terkadang baru disadari setelah penderita mulai beranjak remaja bahkan dewasa. Adapun gejala yang kerap ditunjukkan oleh penderita adalah:

  • Kesulitan membaca dan mengeja.
  • Kesulitan menyalin catatan serta membuat karya tulis, misalnya makalah atau laporan.
  • Bermasalah dalam mengekspresikan sesuatu melalui tulisan atau meringkas suatu cerita.
  • Sering tidak memahami lelucon atau makna bahasa kiasan, contohnya istilah “otak encer” yang berarti pintar.
  • Kesulitan dalam mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam tugas.
  • Kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon.
  • Cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis.
  • Kesulitan berhitung.

Selain gejala-gejala yang disebutkan di atas tadi, para penderita gangguan ini biasanya tidak begitu memiliki minat untuk mengikuti pembelajaran di sekolah, sehingga mereka kerap dijudge sebagai pemalas dan bodoh, padahal sebenarnya mereka memiliki kemampuan hebat selain kemampuan akademis.

Benarkah Penderita Disleksia Memiliki Intelejensi Yang Tinggi?

Albert Einstein, Leonaro da Vinci, Thomas Edison, Steven Spielberg dan Steve Jobs, anda pasti sudah tidak asing lagi kan dengan nama kelima tokoh terkenal dunia tersebut? Kelima-limanya merupakan tokoh dunia yang memiliki banyak jasa dalam kehidupan masyarakat.

Albert Einstein merupakan seorang ilmuwan jenius dan hebat yang menemukan teori relativitas, Leonardo da Vinci adalah pelukis terkenal dunia yang telah berhasil menciptakan karya-karya menakjubkan, yang salah satunya adalah “lukisan Mona Lisa“, yang hingga saat ini menjadi karya seni yang sangat bernilai di dunia.

Thomas A. Edison adalah seorang ilmuwan hebat yang berhasil menemukan bola lampu, Steven Spielberg yang merupakan seorang sutradara terkenal dengan filmnya Jurrasic Park, Jaws atau Indiana Jones, serta Steve Jobs yang tidak lain adalah  seorang CEO sukses dari perusahaan raksasa Apple, mereka semua merupakan contoh penderita gangguan disleksia yang berhasil menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka tidak bodoh.

Dengan kesuksesan yang berhasil mereka capai, tidak akan ada satu orangpun di dunia ini yang mengira atau menyadari kalau mereka berlima adalah pengidap disleksia, termasuk anda.

Tak hanya di luar Indonesia, di tanah air kita ini juga ada beberapa pengidap disleksia yang juga tak kalah sukses dan terkenal. Anda juga tidak akan menyangka ketika mengetahui bahwa mereka adalah salah satu penderita gangguan ini.

Oleh karena itu, jangan pernah berpikir kalau mereka para pengidap disleksia tidak akan pernah bisa memiliki kehidupan yang baik atau tidak bisa mencapai kesuksesan dalam hidupnya.

Gimana? Apakah contoh di atas belum cukup untuk membuktikan bahwa mereka yang memiliki gangguan ini kebanyakan adalah orang-orang yang memiliki tingkat intelejensi yang tinggi?

Penyebab Seseorang Bisa Menderita Gangguan Belajar

Meskipun anak-anak penderita disleksia memiliki tingkat intelejensi di atas rata-rata, namun mereka kerap mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan secara visual maupun melalui suara.

Hal ini dikarenakan otak anak pengidap disleksia tidak mampu menerjemahkan gambar atau suara yang dilihat oleh mata atau yang didengar oleh telinga. Mata penderita disleksia bisa melihat kata-kata yang tertulis dalam buku, namun otaknya tidak mampu atau sulit untuk menerjemahkan apa yang mereka lihat.

Anda harus tahu kalau disleksia bukanlah bagian dari penyakit mental. Oleh karena itu kepikunan, keterbelakangan mental dan kerusakan otak tidak dapat digolongkan sebagai gejala disleksia, Demikian juga dengan gangguan penglihatan dan pendengaran.

Mengapa Seseorang Bisa Terkena Disleksia?

Untuk masalah apa yang menjadi penyebab seseorang bisa terkena gangguan ini, jawabannya adalah masih belum ada yang bisa memastikannya. Tapi beberapa ilmuwan mengatakan bahwa disleksia ada kaitannya dengan faktor keturunan.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki anggota keluarga atau kerabat yang menderita disleksia ternyata memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama.

Beberapa ahli juga mengatakan kalau mereka yang menderita gangguan belajar ini juga memiliki kecenderungan tidak menggunakan bagian otak kiri mereka, yang merupakan bagian yang mengatur kemampuan mengeja dan membaca.

Mungkin itulah yang menjadi penyebab mengapa mereka mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan yang telah disebutkan tadi. Karena Disleksia adalah gangguan yang disebabkan karena faktor keturunan, ada kemungkinan besar gangguan ini akan dialami seumur hidup atau bahkan bisa bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu.

Sebenarnya gangguan belajar ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Disleksia primer : Disleksia jenis ini terjadi akibat tidak berfungsinya cerebrum (bagian otak yang mengatur aktifitas berpikir dan bergerak) yang terjadi akibat faktor genetik dan keturunan.
  • Disleksia berkembang : Biasanya dialami ketika anak masih berada di dalam kandungan. Pengidap disleksia berkembang ini bisa membaca, namun tidak lancar dan mengalami kesulitan dalam mengeja kata-kata. Tapi terlepas dari ketidakmampuan yang mereka miliki, kabar baiknya adalah kemampuan membaca mereka akan membaik ketika mereka tumbuh dewasa. Pengidap disleksia berkembang mungkin tidak akan pernah menjadi seorang pembaca atau pengeja yang baik, namun otak mereka dapat melakukannya meskipun tidak lancar.

Baik itu pengidap disleksia primer maupun berkembang, keduanya dapat menangkap gambar maupun suara, tapi dengan kecepatan merespon yang lebih lambat daripada anak normal pada umumnya.

Diagnosa Gangguan Disleksia

Seperti yang sedikit disinggung di atas tadi, gangguan belajar yang dikenal dengan sebutan disleksia ini terkadang sulit untuk didiagnosa karena umumnya tidak berdampak secara fisik bagi penderitanya. Apalagi tidak ada perangkat khusus yang digunakan oleh para ahli untuk melakukan diagnosis terhadap gangguan ini.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada lebih dari 2 juta kasus per tahun (Indonesia) mengenai gangguan disleksia. Dan berdasarkan informasi yang didapat dari Riyani T Bondan, selaku Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia, diketahu ba wa di dunia ini, 10 hingga 15 persen anak sekolah menyandang disleksia.

Jadi, jika jumlah anak sekolah di Indonesia ada sekitar 50 juta, diperkirakan 5 juta di antaranya mengalami disleksia. Namun, para ahli saat ini telah mengembangkan beberapa metode untuk mendiagnosa disleksia, seperti di bawah ini:

  • Kaufman Assessment Battery untuk Anak-anak. Metode ini dibagi ke dalam dua kategori utama, yaitu inti dan tambahan, dengan lebih dari 15 sub-tes.
  • Skala Kecerdasan Stanford – Binet. Metode ini dilakukan dengan cara memeriksa kemampuan kognitif dan kecerdasan anak. Metode ini dapat mendeteksi adanya masalah pada perkembangan anak.
  • Tes Benton Visual Retention. Metode dengan cara ini adalah dengan memeriksa memori gambar dan persepsi dari anak-anak berusia mulai dari delapan tahun. Metode ini juga dapat digunakan untuk memeriksa disleksia pada orang dewasa.

Untuk mendapatkan hasil diagnosa yang terbaik, salah satu langkah awal yang harus anda lakukan adalah dengan membuat janji dengan dokter umum yang akan melakukan tes tahap awal. Dokter tersebut mungkin akan merujuk anda untuk menemui dokter spesialis tertentu, tergantung pada hasil tes awal yang telah dilakukan.

Tapi meskipun brgitu, sebelum anda pergi ke dokter atau spesialis, anda sebaiknya mencari tahu dulu tentang kelebihan serta kekurangan yang dimilki oleh anak anda.

Proses ini bisa anda lakukan melalui sebuah permainan, misalnya puzzle gambar. Jika memungkinkan, anda juga dapat meminta bantuan dari guru sekolah dimana dia belajar, misalnya untuk memberikan program remedial.

Karena disleksia cenderung sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang beragam, dokter mungkin akan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti:

  • Riwayat, perkembangan, pendidikan dan kesehatan anak. Dokter mungkin juga akan menanyakan apakah ada riwayat anggota keluarga lain yang memiliki gangguan kemampuan belajar ini.
  • Keadaan di rumah. Pertanyaan yang bisa diajukan antara lain deskripsi mengenai kondisi keluarga, misalnya siapa saja yang tinggal di rumah, serta apakah ada masalah di dalam keluarga tersebut.
  • Pengisian kuesioner yang dilakukan oleh anggota keluarga serta guru sekolah.
  • Tes untuk memeriksa kemampuan memahami informasi, membaca, memori dan bahasa anak.
  • Pemeriksaan penglihatan, pendengaran dan neurologi, yang bertujuan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit atau gangguan lain yang menyebabkan gejala-gejala yang dialami oleh anak.
  • Tes psikologi untuk memahami kondisi kejiwaan anak dan menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan interaksi, kecemasan, atau depresi yang dapat memengaruhi kemampuannya.

Adakah Cara Untuk Mengobati Gangguan Ini?

Sebenarnya tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit atau gangguan belajar ini. Diagnosis yang tepat merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan tingkat kelemahan dari si penderita dan juga untuk merancang metode pengobatan yang sesuai.

Beberapa anak yang menderita disleksia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan ruang kelasnya, namun banyak juga yang tidak bisa melakukannya.

Oleh karena itu, orangtua sangat dianjurkan untuk memasukkan anak mereka ke sekolah dengan kelas khusus atau yang menawarkan kegiatan belajar dan latihan tambahan untuk membantu anak mereka yang memiliki disleksia. Beberapa metode pembelajaran yang terkenal untuk disleksia ini antara lain Orton Gillingham dan Slingerland.

Anak-anak yang menderita disleksia dianjurkan untuk menemui seorang ahli terapi bahasa dan membaca serta seorang psikolog-saraf. Mereka juga sebaiknya menemui seorang konsultan dan guru mereka.

isleksia dapat berdampak pada sikap dan perilaku anak terhadap kegiatan belajar-mengajar yang mereka lakukan di sekolah. Jadi, sangat penting bagi orangtua untuk tidak pernah berhenti mendukung anak mereka untuk terus berlatih menulis, membaca dan berbicara.

Cara Penanganan Disleksia

Jika hasil diagnosis disleksia sudah dipastikan, dokter akan menganjurkan penanganan yang sebaiknya dijalani oleh si penderita. Disleksia sendiri memang tidak bisa disembuhkan, namun penanganan dini terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya dalam hal membaca.

Salah satu bentuk penanganan yang dapat membantu penderita disleksia adalah dengan melakukan sejumlah pendekatan dan bantuan edukasi khusus atau pengobatan terapi.

Terapi yang dimaksud tergantung pada jenis intervensi yang cocok, yang biasanya tergantung pada tingkat keparahan disleksia yang dialami serta hasil tes psikologi si penderita.

Adapun macam-macam intervensi tersebut, antara lain:

  • Intervensi pendidikan perorangan, yaitu menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan belajar individu, seperti misalnya membuat perubahan terhadap lingkungan belajar.
  • Rehabilitasi, yaitu melatih kembali jalur otak untuk meningkatkan fungsi mental dan fisik.
  • Terapi kerja, yaitu meningkatkan kualitas hidup sehari-hari dan keterampilan kerja pasien.
  • Konseling Psikologis, yaitu cara yang akan membantu menangani masalah pribadi yang berhubungan dengan sekolah, kantor, keluarga, dan kehidupan sosial.

Untuk penderita disleksia anak-anak, jenis intervensi yang paling efektif dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis mereka adalah intervensi yang berfokus pada kemampuan fonologi. Intervensi ini biasanya disebut dengan fonik.

Para penderita disleksia ini akan diajari elemen-elemen dasar, seperti belajar mengenali fonem atau satuan bunyi terkecil dalam kata-kata, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut, memahami apa yang dibaca, membaca bersuara dan membangun kosakata.

Selain melalui intervensi, orang tua juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan anak. Adapun langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh orantua antara lain:

  • Membacakan buku untuk anak mereka. Waktu yang paling baik untuk membacakan buku adalah pada saat anak berusia sekitar 6 bulan, atau bahkan lebih muda. Saat anak sudah berusia lebih besar, cobalah membaca bersama-sama dengan anak anda.
  • Bekerja sama dengan sekolah anak anda. Bicarakan kondisi anak dengan guru atau kepala sekolah dan diskusikan cara yang paling tepat untuk membantu anak anda supaya berhasil dalam pelajaran yang diikutinya.
  • Perbanyak waktu membaca di rumah. Anda mungkin akan sangat bosan membacakan cerita yang sama dan berulang-ulang pada anak anda, namun pengulangan ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak untuk memahami cerita, sehingga mereka menjadi tidak begitu asing lagi dengan tulisan dan cerita. Berikan juga waktu kepada anak anda untuk membaca cerita tersebut sendiri tanpa bantuan anda.
  • Membuat membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan. Anda bisa memilih topik bacaan ringan yang menyenangkan, atau suasana membaca di tempat lain yang juga bisa menciptakan kesan menarik pada anak, misalnya di taman.
  • Menyemangati dan membujuk anak untuk membaca buku, serta mendiskusikan isinya bersama-sama juga akan sangat membantu dan bermanfaat untuk mereka.
  • Jangan memarahi anak saat mereka melakukan kesalahan dalam membaca, agar kepercayaan diri anak  anda bisa terbangun dengan baik.

Penanganan disleksia ini membutuhkan waktu dan tenaga yang sedikit lebih ekstra. Karena itu, keluarga serta si penderita dianjurkan untuk bersabar menjalaninya. Dukungan serta bantuan dari anggota keluarga serta teman dekat akan sangat membantu mereka.

Sekian penjelasan mengenai gangguan belajar bernama disleksia ini kami sampaikan, semoga setelah membaca artikel ini, anda bisa memahami keadaan orang-orang yang memiliki gangguan tersebut.

Jika anda adalah orang tua yang memiliki anak dengan gangguan disleksia, anda tidak usah pesimis dan khawatir tentang masa depan mereka, karena penanganan dini yang anda lakukan serta dukungan yang anda berikan akan sangat membantu mereka dalam menjalani hidupnya.

Kalau mereka memiliki kesulitan dalam mengikuti pelajaran akademis, maka arahkanlah mereka pada bidang yang lebih mereka sukai dan dukunglah apa yang mereka lakukan.

Ingat, setiap anak memiliki kemampuan unik dan berbeda-beda. Mungkin dia memang tidak unggul dalam bidang yang satu, tapi ada kemungkinan besar dia akan lebih berhasil dari orang-orang normal pada umumnya dalam bidang yang lain. Jadi, terus dukung dan bantu mereka, bukan menjatuhkan atau membuat mereka merasa tersingkirkan.