Healthy science

Hebat, Ilmuwan Ini Temukan Metode Baru Untuk Mengobati Kanker

Berbagai jenis pengobatan untuk kanker kini telah banyak ditemukan. Mulai dari skrinning, kemoterapi, radioterapi, Imunoterapi, operasi dan sebagainya.

Dengan kehadiran jenis-jenis pengobatan yang ada ini, para pasien kanker bisa terbantu dan setidaknya memiliki peluang hidup yang lebih besar dari yang sebelumnya.

Hal tersebut tentu saja tidak terlepas dari usaha para ilmuwan yang telah melakukan berbagai pengujian selama bertahun-tahun, hingga akhirnya temuan mereka bisa digunakan di dalam dunia kedokteran saat ini.

Dan hebatnya lagi, beberapa waktu yang lalu para ilmuwan yang bereksperimen dengan pengobatan inovatif untuk kanker tersebut menemukan cara pengobatan terbaru dengan menargetkan suntikan untuk menghilangkan atau menyingkirkan tumor.

Sebelum diaplikasikan pada manusia, pengujian pengobatan ini pertama kali diuji pada tikus. Bagaimana ya kira-kira cara pengobatan kanker dengan suntikan ini? Apakah metode ini cukup efektif untuk menghilangkan kanker yang diderita oleh para pasien? 

Daripada anda hanya menerka-nerka jawabannya, yuk langsung saja baca penjelasannya di bawah ini.

Pengobatan Kanker Dengan Suntikan

Penelitian untuk menemukan atau merancang berbagai macam perawatan yang lebih efektif untuk mengobati semua jenis kanker yang ada, serta menawarkan harapan baru untuk setiap pasien bisa dibilang cukup berkembang dengan sangat pesat dan melimpah selama beberapa tahun terakhir ini.

Dan beberapa eksperiman yang paling terbaru yang berhasil ditemukan untuk kanker untuk saat ini adalah penggunaan dari nanoteknologi yang mutakhir.

Nanoteknologi sendiri merupakan sebuah ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi, yang biasanya digunakan pada skala nano, yaitu sekitar 1 sampai 100 nanometer.

Teknologi seperti ini biasanya dipakai pada penerapan hal-hal yang sangat kecil dan dapat digunakan di semua bidang ilmu pengetahuan lainnya, seperti kimia, biologi, fisika, sains material, teknik dan kini dicoba pada bidang kedokteran.

Kalau untuk bidang medis, teknologi nano ini digunakan untuk memburu mikrotumors, yaitu mikroba rekayasa yang nantinya akan bertugas menggagalkan sel kanker dan tumor ganas yang kemudian dihancurkan sampai mati.

Sebuah tudi terbaru dari Stanford University School of Medicine yang berada di California, telah menyelidiki adanya potensi pendekatan lain yang kemungkinan juga bisa dipakai dalam pengobatan kanker.

Dan pendekatan yang dimaksud adalah dengan ‘menyuntikkan dua mediator yang sangat kecil’, yang bisa merangsang respon kekebalan tubuh seseorang secara langsung terhadap sel tumor yang padat dan ganas.

Untuk sejauh ini, studi yang mereka lakukan tersebut masih menggunakan tikus sebagai bahan eksperimen. Hasilnya, uji coba tersebut ternyata berhasil.

Tujuan Metode Suntikan Pada Kanker

Dr. Ronald Levy, selaku penulis senior dalam studi ini mengatakan bahwa saat mereka menggunakan kedua mediator suntikan tersebut secara bersamaan, mereka melihat sel tumor yang tadinya mendiami tubuh tikus tersebut hilang atau berhasil disingkirkan.

Pendekatan yang berhasil ditemukan ini telah memenuhi kebutuhan untuk mengidentifikasi tumor, yang tidak lain merupakan target spesifik dari imun (kekebalan tubuh), tanpa harus melakukan tindakan pengaktifan pada sistem kekebalan secara besar-besaran ataupun penyesuaian sel kekebalan pasien“, kata Dr. Ronald Levy.

Para peneliti memiliki alasan yang kuat untuk mempercayai cara cepat pada uji klinis, yang dipakai di dalam metode ini. Hal tersebut dikarenakan salah satu mediator yang terlibat didalam penelitian ini diketahui telah mendapatkan persetujuan penggunaan sebagai terapi yang siap diuji pada manusia.

sedangkan untuk mediator yang satunya lagi masih dalam tahap uji klinis untuk pengobatan limfoma. Setelah mendapatkan hasil tersebut, penelitian ini kemudian dipublikasikan di dalam jurnal Science Translational Medicine.

Kelebihan dan Kekurangan Pengobatan Kanker Dengan Suntikan

Dr. Levy yang merupakan seorang spesialisasi dalam penggunaan imunoterapi, yaitu sejenis pengobatan dimana respon kekebalan tubuh akan ditingkatkan, sehingga bisa menargetkan sel kanker, terutama untuk melawan limfoma, atau kanker sistem limfatik.

Sejauh ini, ada berbagai jenis imunoterapi yang dikenal di dalam bidang kedokteran, termasuk beberapa diantaranya difungsikan untuk meningkatkan keseluruhan sistem kekebalan tubuh dan lain sebagainya, yang memiliki target yang lebih banyak.

Namun meskipun begitu, penggunaan metode pengobatan ini memiliki beberapa hal atau aturan yang perlu dilaksanakan, serta memiliki peringatan yang terlampir.

Bukan hanya itu saja, metode pengobatan kanker dengan suntikan ini juga memiliki beberapa kekurangan, yang diantaranya berkaitan dengan efek samping yang ditimbulkan, pelaksanaannya yang cukup memakan waktu, serta membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Meskipun cara ini memiliki sejumlah kelemahan, namun manfaat yang bisa diberikannya jauh lebih banyak dan berarti, bahkan bisa melebihi keefektifan potensinya sebagai pengobatan.

Pendekatan kami ini menggunakan aplikasi satu kali, dengan jumlah atau kadar kedua mediator yang sangat kecil untuk merangsang sel kekebalan di dalam tumor itu sendiri,Dr. Levy menjelaskan.

Cara ini bisa “mengajarkan” sel kekebalan tubuh bagaimana cara untuk melawan jenis kanker tertentu, yang kemudian memungkinkan mereka untuk bermigrasi (berpindah tempat) dan menghancurkan semua tumor lain yang ada di dalam tubuh.

Akan tetapi, meskipun pada dasarnya tugas dari sistem kekebalan adalah untuk mendeteksi dan menghilangkan benda asing yang berbahaya di dalam tubuh, namun tetap saja masih banyak jenis sel kanker yang dapat menghindari pendeteksian tersebut dengan cara yang rumit, yang pada akhirnya memungkinkannya untuk tumbuh dan menyebar.

Jenis sel darah putih yang dikenal dengan sebutan sel T ini memainkan peranan yang sangat penting di dalam tubuh, terutama dalam hal mengatur respon imun tubuh.

Biasanya, sel T tersebut akan langsung menargetkan dan melawan tumor kanker yang terdeteksi. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah, jika hal tersebut dilakukan terlalu sering, sel kanker akan belajar untuk “mengelabui” mereka supaya bisa lolos dari respons kekebalan tubuh tersebut.

Jenis-Jenis Kanker Yang Bisa Diobati


Di dalam studi barunya, Dr. Levy bersama dengan timnya awalnya mencoba untuk mengirimkan dua mediator mikrogram yang spesifik ke dalam sel tumor keras pada tikus.

Adapun mediator yang dimaksud antara lain:

  • CpG oligonukleotida, yang merupakan rangkaian pendek dari DNA sintetis yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan sel kekebalan tubuh, untuk menyampaikan reseptor yang disebut dengan OX40, yang ditemukan pada permukaan sel T.
  • Antibodi yang mengikat reseptor dan mengaktifkan sel T.

Begitu sel T berhasil diaktifkan, beberapa di antaranya akan bermigrasi atau berpindah ke bagian tubuh yang lainn, untuk “memburu” dan menghancurkan tumor yang ada di sana.

Hal penting yang perlu anda ketahui dari studi yang sudah terlaksana ini adalah, Dr. Levy dan rekan-rekannya mencatat bahwa metode ini dapat digunakan untuk menargetkan sejumlah jenis kanker, dimana di dalam setiap kasus, sel T tersebut akan “belajar” untuk menangani jenis sel kanker tertentu yang pernah mereka lawan.

Di laboratorium penelitian, para ilmuwan ini pertama kali menerapkan metode tersebut pada model tikus yang memiliki limfoma. Dari hasil percobaan diketahui bahwa 87 dari 90 tikus menjadi bebas dari kanker setelah diberikan metode pengobatan ini.

Di dalam tiga kasus lainnya, tumor yang tadinya sudah sembuh ternyata bisa kambuh kembali, namun untungnya kemunculannya tersebut bisa diatasi saat para peneliti mengaplikasikan pengobatan untuk yang kedua kalinya.

Begitu pula hasil yang berhasil didapat saat mengaplikasikan metode ini pada model tikus dengan kanker payudara, kolon dan kanker kulit. Tak hanya itu saja, bahkan tikus yang direkayasa secara genetis untuk mengembangkan kanker payudara sekalipun, bisa secara spontan menanggapi dengan baik metode pengobatan ini.

Target Pengobatan di Masa Mendatang


Ketika para ilmuwan mentransplantasi dua jenis tumor kanker yang berbeda, yaitu limfoma dan kanker usus besar, yang dilakukan pada hewan yang sama namun hanya menyuntikkan formula percobaan ke dalam sel limfomanya saja, hasil yang didapatkan pun menjadi lebih beragam.

Semua tumor limfoma tadi mengalami penyusutan atau mengkerut, namun hal yang sama tidak berlaku untuk tumor kanker usus besar, yang memastikan bahwa sel T hanya belajar menghadapi sel kanker yang berada di sekitar mereka sebelum disuntikkan.

Dr. Levy mengatakan kalau metode ini merupakan pendekatan yang sangat tepat digunakan sebagai pengobatan kanker.  Hanya tumor yang memiliki target protein saja yang akan terpengaruh oleh formula ini. Mereka menyerang target spesifik tanpa harus mengidentifikasi dengan tepat protein apa yang diketahui oleh sel T.

Saat ini, tim sedang mempersiapkan uji coba klinis untuk menguji keefektifan perawatan ini pada orang dengan kadar limfoma yang rendah. Jika nantinya percobaan klinis tersebut berhasil, tim tersebut kabarnya akan memperluas terapi ini ke hampir semua jenis tumor kanker yang terdapat pada manusia.

Saya rasa, tidak ada batasan pada jenis tumor yang bisa diobati atau disembuhkan, jika sudah berhasil diterobos oleh sistem kekebalan tubuh,” kata Dr. Levy.

Kesimpulan

Kegigihan manusia untuk menemukan solusi pengobatan kanker masih terus berlangsung hingga saat ini. Para peneliti melakukan berbagai penelitian dengan maksud menemukan metode pengobatan baru yang jauh lebih efektif untuk menghancurkan serta menghilangkan sel kanker dari dalam tubuh manusia.

Salah satu metode yang berhasil ditemukan adalah pengobatan dengan jalan suntikan. Uji coba pertama dilakukan pada tikus dan hasil yang ditemukan sangatlah bagus.

Formula atau mediator yang terdiri dari CpG oligonycleotide dan antibodi yang disuntikkan pada sel kanker, terbukti efektif dan berhasil menghancurkan beberapa jenis kanker tertentu, seperti: limfoma, kanker payudara, kolon (usus) dan kanker kulit.

Namun meskipun begitu, metode ini memiliki beberapa kelemahan terkait efek yang bisa ditimbulkan, memerlukan waktu yang relatif lama dan biayanya juga sangat besar.

Selain itu, meskipun sudah terbukti berhasil mengobati kanker, namun metode ini masih memerlukan tahap uji klinis lebih lanjut, guna menguji keefektifannya dan untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih memuaskan lagi.

Dan kabar baiknya, hal tersebut sedang dalam proses pelaksanaan. Ya, semoga saja para peneliti ini berhasil dalam uji cobanya.