History

Dorothea Binz, Wanita Nazi Terkejam Sepanjang Sejarah

“Adolf Hitler”. Ketika mendengar nama ini, rasanya dada seolah-olah terasa sesak dan tubuh terasa teriris, karena yang diingat dari seorang Hitler ini hanyalah sebuah tindakan kekerasan, kekejaman, pembunuhan, pembantaian, dan tindakan-tindakan yang tidak berkemanusiaan lainnya.

Tindakan yang dilakukan Hitler saat menjadi pemimpin organisasi Nazi di Jerman ini, seakan-akan menjadi gambaran kalau sebenarnya hitler bukanlah manusia, karena seorang manusia tidak akan sanggup melakukan tindakan sekejam yang pernah dia lakukan. Menganggap dirinya “Tuhan”, yang berhak menghabisi siapa saja yang dia mau, tentu menjadikannya sebagai ikon iblis dalam rupa manusia.

Semenjak menjadi pemimpin Nazi, Hitler berhasil merekrut sejumlah orang, dan menciptakan mereka sebagai pembunuh berdarah dingin, tanpa belas kasihan sedikit pun. Tidak hanya pria, tapi wanita juga dijadikan sebagai alat pembunuhnya. Kalau biasanya wanita dikenal sebagai sosok yang lembut, berhati mulia, tidak tegaan, dan penuh kasih sayang, maka berbanding terbalik dengan wanita-wanita Nazi Jerman pada masa permerintahan Hitler ini.

Tidak jauh dari Hitler, wanita-wanita pada zaman kelam ini juga memiliki hati sekejam Hitler. Kok bisa ya seorang wanita tega melakukan pembunuhan dan pembantaian? Meskipun terlihat dan terdengar sedikit mustahil, namun ini adalah sebuah kenyataan. Salah satu wanita terkejam Nazi tersebut adalah bernama Dorothea Binz. Pernah dengar nama itu nggak guys? Kalau belum, artikel berikut ini akan menceritakan kekejaman apa yang sudah dilakukan wanita ini.

Dorothea Binz, Wanita Terkejam Nazi

Dorothea adalah seorang wanita yang kerap disamakan dengan iblis, karena tanpa adanya rasa belas kasihan, Dorothea Binz akan membunuh para tahanan yang berani menghinanya. Hanya dengan bermodalkan sebilah kapak ditangannya, Dorothea akan langsung meremukkan kepala serta mencabik-cabik tubuh mereka. Pasti anda gak menyangka kan, kalau wanita yang berwajah kalem ini sanggup melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang lain?

Disetiap aksi pembunuhannya, Dorothea sangat jarang menggunakan senjata api untuk menghabisi nyawa mereka dan lebih menyukai kapak.

Sebelum Holocaust

Istilah Holocaust berasal dari kata Yunani, yaitu holókauston, yang berarti binatang kurban (olos) yang dipersembahkan kepada tuhan dengan cara dibakar (kaustos). Selama ratusan tahun, kata “holocaust” digunakan dalam bahasa Inggris, untuk merujuk kepada suatu peristiwa “pembantaian besar“.

Namun sejak tahun 1960-an, istilah ini mulai digunakan oleh para pakar dan penulis populer, untuk menggambarkan genosida (Tindakan yang dilakukan dengan maksud menghancurkan secara keseluruhan maupun sebagian nasional, etnis, ras, ataupun kelompok agama) terhadap umat Yahudi. Pada tahun 1978, sebuah mini seri berjudul Holocaust mulai mempopulerkan penggunaan istilah ini dalam bahasa sehari-hari.

Dorothea Binz adalah seorang wanita yang terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah di Försterei Dusterlake. Dia sempat bersekolah sampai pada usia 15 tahun, sebelum akhirnya masuk ke profesi sebagai pelayan. Namun, ia sangat tidak menyukai posisi ini dan sempat berniat untuk melarikan diri.

Dia bekerja di kantor SS lokal dan dikirim ke Ravensbrück pada tanggal 1 september 1939, untuk menjalani pelatihan sebagai penjaga penjara, dimana ia menjadi salah satu wanita paling kejam yang terkait dengan kamp. konsentrasi. Kamp. konsentrasi ini merupakan sebuah tempat pengisolasian.

Hidup Sebagai Penjaga

Binz menjabat sebagai Aufseherin di bawah Oberaufseherin Emma Zimmer, Johanna Langefeld, Maria Mandel dan Anna Klein-Plaubel. Ia bekerja di berbagai tempat perkemahan, termasuk dapur dan binatu. Dia juga bertugas untuk mengawasi bungker, dimana para tahanan wanita disiksa dan dibunuh.

Pada Agustus 1943, Binz dipromosikan ke Stellvertretende Oberaufseherin sebagai wakil kepala sipir wanita. Penganiayaan yang dilakukannya digambarkan sebagai sesuatu yang sangat kejam. Sebagai anggota staf komando selama tahun 1943 dan 1945, dia diarahkan untuk mengikuti pelatihan dan diberikan tugas untuk menjaga lebih dari 100 penjaga perempuan pada waktu yang bersamaan. Binz dikabarkan melatih beberapa penjaga wanita paling kejam dalam sistem, termasuk Ruth Closius.

Binz dilaporkan punya pacar di kamp, yaitu seorang petugas SS bernama Edmund Bräuning. Keduanya dikabarkan sering berjalan-jalan romantis di sekitar camp, untuk menonton wanita yang sedang dicambuk, kemudian mereka akan berjalan sambil menertawakannya. Mereka tinggal bersama di sebuah rumah di luar tembok kamp hingga akhir tahun 1944, ketika Bräuning dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald. Wah, gila benar pasangan ini ya. Benar-benar kejam.

Di dalam Kamp Konsentrasi

Dorothea Binz, selaku kepala pelatihan pengawas di Ravensbruck setelah tahun 1942, melatih siswa perempuannya tentang poin-poin “kesenangan yang berbahaya”. Ada kurang lebih lima puluh perempuan dari perkemahan, yang dibawa untuk menjalani pelatihan.

Para wanita kemudian dipisahkan dan dibawa ke hadapan tahanan. Setiap wanita tersebut kemudian disuruh untuk memukuli narapidana. Dari lima puluh perempuan tersebut, hanya ada tiga orang yang menanyakan alasan penyiksaan tersebut, dan salah satu menolak. Yang dua lagi kemudian dipenjara.

Ada sebuah peristiwa kejam yang dilakukan oleh Dorothea ketika ia pulang dari Arbeitskommando untuk alasan pekerjaan di hutan yang berada di luar perkemahan.

“Dorothea saat itu melihat seorang wanita yang dia rasa tidak bekerja dengan cukup keras. Dorothea kemudian berjalan menghampiri wanita tersebut, menyerang dan menjatuhkannya ke tanah. Dia kemudian membunh wanita itu dengan menggunakan senjata tajam, hingga wanita tadi tewas dengan luka yang sangat parah dan darah yang berceceran.

Setelah pembunuhan tersebut selesai dilakukannya, Dorothea kemudian membersihkan sepatunya hingga mengkilap dengan menggunakan rok mayat wanita tadi. Kemudian dia kembali ke Ravensburk dengan mengayuh sepedanya, seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi.

Setelah Holocaust

Setelah masa Holocaust berakhir, Binz melarikan diri dari Ravensbrück untuk menghindari hukuman. Wanita kejam ini kemudian ditangkap pada tanggal 3 Mei 1945, oleh Inggris di Hamburg dan dipenjarakan di kamp Recklinghausen.

Binz kemudian diadili bersama dengan personel SS lainnya oleh pengadilan Inggris Ravensbruck, yaitu pengadilan kejahatan perang. Ia dihukum, dijatuhi hukuman mati dan kemudian digantung di penjara Hameln oleh British algojo Albert Pierrepoint pada tanggal 2 Mei 1947.

Sejak saat itulah, kekejaman Binz berakhir. Membaca atau mendengar kematian Binz ini rasanya membuat hati menjadi lega dan bahagia. Untuk seorang pembunuh sekejam dia, rasanya hukuman mati saja tidaklah cukup untuk membayar setiap tndakan yang dia lakukan pada orang lain. Setuju nggak guys? Yah, terlepas dari semuanya itu, kita harus bersyukur karena tidak berada pada masa itu.