History

Mengenal Piringan Hitam, Alat Perekam Suara Tempo Dulu

Tahukah anda yang dimaksud dengan piringan hitam? Piringan hitam yang dimaksud di sini bukanlah piring yang berwarna hitam, yang biasa digunakan sebagai tempat atau wadah untuk menaruh makanan. Piringan hitam yang akan dibahas kali ini merupakan sebuah benda yang biasa digunakan oleh orang-orang dulu, untuk menyimpan rekaman suara agar bisa diputar kembali menggunakan sebuah alat yang bernama Gramofon.

Singkatnya, piringan hitam inilah yang nantinya akan berkembang menjadi kaset, CD, sampai dengan teknologi memori card yang sering digunakan untuk menyimpan data, baik dalam bentuk tulisan, rekaman suara bahkan video. Tanpa adanya penemuan piringan hitam ini, mungkin anda tidak akan bisa menikmati penggunaan alat perekam suara yang canggih seperi di era sekarang ini.

Untuk anda yang merupakan kelahiran 1990-an, mungkin anda sudah tidak ketemu lagi dengan piringan hitam ini. Tapi jika kedua orangtua anda adalah kelahiran 1900-an, ada kemungkinan besar mereka pernah melihat atau bahkan memilikinya. Anda bisa saja mencoba menanyakannya pada orang tua anda. Mungkin saja mereka tahu banyak mengenai piringan hitam ini. Kan lumayan tuh bisa menambah wawasan anda.

Pada tahun 1900-an, dimana kaset dan CD masih belum ditemukan, orang-orang biasa menggunakan piringan hitam untuk mendengarkan musik. Akan tetapi, di zaman moderen seperti ini, piringan hitam sudah sangat jarang ditemukan dan digunakan untuk merekam atau memutar suara.

Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun penggunaan piringan hitam pun semakin berkurang. Kebanyakan orang lebih memilih untuk menggunakan CD ataupun mp3 untuk merekam atau mendengarkan suara/lagu, karena dianggap lebih praktis dan efisien. Oleh karena itu, piringan hitam saat ini lebih banyak dijadikan sebagai koleksi saja bagi mereka yang menyukai musik-musik tempo dulu.

Awal Munculnya Piringan Hitam

Tahukah anda bagaimana piringan hitam muncul pertama kali? Piringan Hitam tentu tidak muncul dengan sendirinya. Kehadirannya bukanlah karena adanya kekuatan magis ataupun semacamnya. Benda ini juga tidak langsung terbentuk dengan ukuran dan bentuk yang sempurna begitu saja.

Dalam pembuatannya, sang penciptanya tentu melalui beberapa tahapan atau proses tertentu dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan harus mengalami beberapa kali kegagalan hingga akhirnya berhasil menciptakan piringan hitam yang sesuai dengan yang diharapkan.

Di Indonesia sendiri, piringan hitam memang tidak sepopuler di luar negeri. Piringan hitam ini baru mulai digunakan sebagai alat perekam pada tahun 1957. Pada masa itu, piringan hitam termasuk barang yang sangat mahal, ditambah lagi dengan alat pemutarnya yang jauh lebih mahal lagi, sehingga tidak semua orang bisa memilikinya. Karena alasan inilah mengapa piringan hitam kurang terkenal di Indonesia.

Penemu Piringan Hitam Pertama Kali

Siapakah penemu piringan hitam yang pertama kali? Alexander Graham Bell lah orangnya. Alexander lahir pada 3 Mei 1847 di kota Edinburgh, Scotlandia, Inggris Raya. Seperti yang diketahui, Alexander merupakan salah satu penemu yang sangat terkenal di dunia.

Alexander menemukan piringan hitam untuk yang pertama kalinya pada tahun 1926. Sebelumnya, Dia juga sempat dianggap sebagai orang yang pertama kali menemukan telepon, yang sangat membantu orang untuk berkomunikasi jarak jauh pada masa itu.

Tapi sayangnya, sejarah sepertinya harus ditulis ulang, karena seorang imigran dari Firenze (Florence), Italia yang bernama Antonio Meucci mengklaim bahwa dia lah yang pertama kali menciptakan telepon tersebut. Dia  menciptakan telepon pada tahun 1849 dan mematenkan hasil karyanya pada tahun 1871.

Bentuk Piringan Hitam Pertama

Piringan hitam biasanya berbentuk bulat tipis. Pada awalnya, piringan hitam ini dibuat dari bahan kaca, karet dan plastik. Selain ketiga bahan tersebut, piringan hitam yang paling terkenal adalah piringan hitam yang terbuat dari shellac.

Shellac adalah bahan kapas yang digunakan untuk membuat kertas manila. Karena bahan yang digunakan tersebut mudah rusak, piringan hitam akhirnya dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang jauh lebih awet dan tahan lama, seperti: plastik vinyl, yaitu plastik yang sejenis dengan plastik polymer. Pada awal kemunculannya, piringan hitam ini awalnya hanya memiliki tiga ukuran, yaitu 78 rpm, 45 rpm, 33 1/3 rpm.

Jika dilihat dari bentuknya, piringan hitam memang memiliki ukuran yang besar dan lebih berat. Berat piringan hitam ini bisa mencapai 90 sampai 200 gram. Berat sekali, bukan? Sangking beratnya, anda mungkin akan sangat kesulitan untuk membawanya pergi kemana-mana. Piringan hitam ini banyak disukai oleh masyarakat biasa dan para musisi tahun 1950 sampai 1970an. Musisi-musisi tersebut banyak yang merekam lagu-lagunya dengan menggunakan piringan hitam ini.

Cara Menggunakan Piringan Hitam

Seperti yang sudah dibahas di atas, piringan hitam memiliki fungsi sebagai alat untuk merekam dan menyimpan suara atau lagu. Perekaman atau penyimpanan yang dilakukan tersebut bermaksud agar pemilik piringan hitam dapat memutar kembali suara atau lagu tersebut kapan saja dia mau. Yah, sama halnya seperti CD yang banyak ditemukan dan digunakan oleh masyarakat pada masa kini.

Untuk bisa memutar kembali hasil rekaman suara atau lagu yang sudah disimpan di dalam piringan hitam tersebut, anda membutuhkan alat untuk membantu memutar rekaman tersebut, seperti phonograph misalnya. Cara kerja dari sebuah piringan hitam sama saja dengan alat pemutarnya, yaitu menggunakan stylus yang memiliki bentuk seperti jarum, yang terletak pada pinggiran piringan hitam. Stylus tersebut berfungsi untuk mencatat simpangan gelombang suara yang telah di rekam di pinggiran piringan hitam, kemudian melanjutkannya ke pengeras suara.

Piringan hitam yang biasa digunakan oleh para musisi ini ternyata hanya bisa merekam dua lagu saja. Masing-masing lagu disimpan pada side yang berbeda. Satu lagu di side A dan yang satu lagi di side B. Hal ini dikarenakan pada saat itu biaya untuk merekam lagu sangatlah mahal.

Lagipula, seorang penyanyi atau sebuah grup musik biasanya hanya mempunyai satu atau dua lagu yang terkenal, maka dari itu mereka lebih memilih membuat single. Meskipun demikian, alasan tersebut tidak membuat para musisi berhenti menggunakannya.

Barulah di awal tahun 1980, pamor piringan hitam ini perlahan-lahan turun akibat munculnya CD yang memiliki bentuk yang lebih kecil dan praktis. Meskipun CD memiliki bentuk yang lebih efisien dibandingkan dengan piringan hitam, tapi untuk hal kejernihan suara, piringan hitam memiliki kejernihan suara yang lebih bagus dan tidak mudah rusak.

Demikianlah informasi mengenai awal munculnya piringan hitam tersebut. Meskipun di masyarakat piringan hitam ini sudah tidak sepopuler dulu atau bahkan sudah sangat sulit untuk ditemukan, tapi tidak ada salahnya kan untuk sekedar mengetahui beberapa hal penting mengenai piringan hitam tersebut. Yah, hitung-hitung bisa menambah wawasan anda juga, kan?.