History

Mengenang Kamikaze, Bunuh Diri Dari Kesatuan Udara Jepang

Pernahkah kamu mendengar istilah Kamikaze? Jika belum, Kamikaze adalah aksi bunuh diri yang dilancarkan para pilot Jepang pada Perang Pasifik. Kamikaze berarti Angin Dewa yang dalam bahasa inggrisnya yaitu Divine Wind, yang mencerminkan watak asli dari kegigihan orang Jepang yang lebih memilih mati secara terhormat daripada harus selamat tapi menanggung kekalahan. Kamikaze telah menjadi akar dari kebudayaan orang Jepang selama ratusan tahun.

Istilah untuk usaha menabrakkan diri secara sengaja ini, selain berujung pada kematian sendiri juga memberi kehancuran yang besar untuk lawannya. Serangan ini sudah dipikirkan secara matang dengan menabrakkan musuh menggunakan diri sendiri, para pilot Kamikaze sudah dipersenjatai dengan alat peledak atau bom. Hingga perang berakhir, Kamikaze yang melegenda ini telah menjadi ikon tersendiri dalam jiwa orang Jepang.

Pembentukkan Kamikaze Pertama

Kamikaze dengan nama resmi Tokubetsu Kōgekitai / Special Attack, pertama kali dibentuk oleh Komander Asaiki Tamai. Asaki mengajukan sekelompok pilot berjumlah 23 orang yang sudah terlatih untuk bergabung dengan Special Attack Air Force kamikaze. Saat itu, semua pilot mengangkat kedua tangannya menandakan setuju dalam melakukan misi tersebut. Komander Asaki meminta Letnan Yukio Seki untuk memimpin misi tersebut. Yuki menjadi pilot kamikaze ke 24 dalam kamikaze pertama ini. Unit serangan terbagi atas empat kesatuan unit serangan kamikaze pertama yakni Unit Yamato, Unit Asahi, Unit Yamazakura dan Unit Shikishima.

Unit ini dibentuk dan dikenal sebagai usaha terakhir dari armada perang Jepang untuk membendung armada laut dari Sekutu yang sudah tidak terbendung. Negeri Sakura yang saat itu telah kehilangan dominasi di laut maupun udara mengharapkan cara ini dapat membendung gerak laju sekutu untuk memasuki tanah air Jepang. Serangan bunuh diri ini terkordinasi dengan baik dalam hitungan rencana. Kondisi yang terdesaj memaksa taktik mengerikan ini menjadi sebuah pilihan.

Awal dari mindset ini berasalah dari saat Samurai mendominasi Jepang di abad 11 hingga 12 Masehi. Tradisi ini dinamakan Bushido yang diartikan sebagai bentuk loyalotas untuk menjunjung tinggi kehormatan untuk para Kaisar hingga titik darah terakhir. Ribuan pemuda siap mati untuk melindungi Kaisar dalam serangan bunuh diri secara spontan. Dalam Sejarahnya, serangan ini menjadi pilihan terakhir dalam keadaan terdesak. Semangat rela berkorban ini mencapai hingga tahap baru dimana para pilot sadar betul kematian adalah sebuah kepastian bagi mereka.

Satuan udara bunuh diri diprakarsa Laksamana Takijiro Ohnishi, Komandan Armada Udara ke-1 Angkatan Laut Jepang di Filipina. Ohnishi mengemban tugas berat yakni harus membendung serangan Sekutu di Filipina. Dia sadar betul dengan cara konvensional yang dilakukan, pasukan Jepang tidak akan mampu membendung laju Sekutu di Filipina. Ohnishi mengutarakan satu-satunya cara efektif dalam penyerangan armada Sekutu hanyalah menabrakkan diri pada kapal-kapal Sekutu untuk memberikan hasil yang lebih maksimal.

Sebelum mengusulkan ide bunuh diri ini, serangan dari pilot-pilot Jepang yang hanya dipersenjatai senapan mesin kaliber kecil menyulitkan para pilot Jepang untuk menembak jatuh pesawat pembom Amerika yang jauh lebih kokoh dan sulit untuk dikalahkan. Hal ini memaksa para pilot menabrakkan diri ke pembom Amerika sebagai usaha terakhir untuk menjatuhkannya.

Pelatihan Mendadak Dalam Waktu Singkat

Serangan kamikaze pertama yang terkoordinasi selama 10 bulan ini sukses menenggelamkan kapal induk USS St. Lo pada tanggal 25 Oktober 1944. Pilot-pilot kamikaze rata-rata berusia 20 tahun, bahkan ada yang masih berumur 17 tahun ketika terbunuh untuk melakukan misi tersebut. Dengan pengalaman terbang yang minim, mereka sendiri yang mengajukan diri untuk ikut dalam bunuh diri tersebut.

Pelatihan yang diberikan pun hanya seminggu untuk menjadi pilot bunuh diri. Pelatihan tersebut meliputi latihan lepas landas dan latihan terbang formasi. Jika para calon pilot belum menerima panggilan untuk melakukan misi selama seminggu pelatihan, makan latihan akan dilanjutkan lagi untuk seminggu kemudian. Latihan yan diajarkan dibagi atas 2 metode. Metode pertama yaitu terbang setinggi 1000 meter agar tidak terjangkau pesawat tempur penyergap AL Amerika. Setelah itu perlahan-lahan menukik dengan kecepatan tinggi menuju sasaran kapal yang terlihat secara visual.

Metode kedua yaitu terbang serendah mungkin dalam usaha menghindar radar kapal perang dari Sekutu. Kemudian tiba-tiba menanjak hingga ketinggian 500 meter lalu menukik dan menabrakan diri pada sasaran yang dituju. Para pilot ini terbang dengan jumlah banyak sesuai dengan formasi yang diterapkan. Tujuan dari formasi ini agar ada pesawat yang bisa menembus tirai pertahanan dan menabrakkan diri ke kapal seandainya ada pesawat yang tertembak jatuh sebelum melakukan aksi bunuh diri teresebut. Pola ini lebih berhasil dimana, tirai pertahanan udara dari armada laut Sekutu kecolongan satu atau dua kamikaze yang berhasil menghantam.

Penyerbuan berani mati ini memperkuat persepsi Sekutu terhadap Jepang yang terkenal gigih hingga titik darah penghabisan mereka. Para pilot kamikaze yang berujung pada kematian ini mendapat glorifikasi dari angkatan perang Jepang di bulan terakhir Perang Pasifik. Pilot-pilot menjalankan upacara khusus dengan masuk ke kuil Yasukuni. Nama mereka dibaca satu persatu oleh Kaisar Jepang yang diartikan sebagai kehormatan besar bagi para pilot.

Toleransi kepada sesama pilotlah yang memunculkan pelatihan kamikaze untuk menjalankan tugas kematiannya ini. Motif para pilot ini untuk melindungi negara mereka daripada mati sia-sia. Sebuah hasil propaganda yang memberikan kesan pada orang Jepang bahwa Amerika adalah “setan” yang jahat dan kejam. Kamikaze dianggap cara terbaik yang mereka punya untuk memukul mundur para Sekutu baik dari laut maupun udara.

Hasil Serangan Dari Kamikaze

Sejarah mencatat setidaknya 2.800 serangan kamikaze dilancarkan oleh Jepang, menenggelamkan 71 kapal perang Sekutu, 368 kapal perang mengalami rusak parah, membunuh 6.600 pelaut dan melukai 4.800 pelaut lainnya. Meskipun pada akhirnya Jepang harus mengakui kekalahannya setelah Pemboman atom pada kota Hisrohima dan Nagasaki. Pemboman ini telah memutuskan semua harapan Jepang.

Kalahnya Jepang ini memukul Laksamana Takijiro Ohnishi. Pada hari tersebut, dia memanggil para staf perwiranya di kediaman resminya. Ohnishi menuliskan pesan terakhir, “Untuk jiwa-jiwa tentaraku saya menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya untuk keberanian yang telah dilakukan. Dalam kematian aku minta maaf kepada jiwa-jiwa para pemberani ini dan juga kepada keluarganya”. Melengkapi pesan terakhirnya tersebut, pada tanggal 16 Agustus, Ohnishi menusukkan pedang samurainya pada bagian perutnya sendiri sebagai upacara bunuh diri yang dikenal hara-kiri (seppuku).

Kamikaze telah menorehkan catatan tersendiri selama perang antar manusia selama ribuan tahun, mengorganisir pasukan bunuh diri yang ditugaskan untuk mati bukan untuk selamat dari medan pertempuran. Aksi ini lah yang memperkuat persepsi dari Sekutu terhadap Jepang yang terkenal gigih dalam bertempur hingga titik darah terakhir mereka.

Hanya Jepanglah yang menajadi satu-satunya negara yang berani bunuh diri terhadap kapal maupun pesawat, dengan tujuan menebat maut bagi musuh yang mereka tuju.