Info

Benar Nggak Sih Kalau Bentuk Kepala Bisa Menunjukkan Status Sosial Kita?

Apakah anda pernah mencukur rambut anda sampai “plontos” alias “gundul“? Apakah anda menemukan ada benjolan atau bagian kepala yang penyok di sana? 

Keberadaan benjolan yang terdapat di kepala ini mungkin agak mengganggu untuk sebagian masyarakat, namun siapa sangka, benjolan tersebut ternyata bisa menunjukkan karakter dari diri anda.

Pada abad ke-10, jutaan orang Amerika telah mempercayai ilmu semu yang dikenal dengan sebutan Frenologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara karakter seseorang dengan tengkorak manusia.

Ilmu ini diketahui bisa memberikan wawasan mengenai cara untuk mengetahui dan memahami perilaku dan kepribadian manusia dengan presisi yang ilmiah.

Berawal dari banyaknya pertanyaan manusia, seperti misalnya mengapa kita sering sekali bertindak dengan cara kita sendiri? Apa yang menentukan pola perilaku kita? Bagaimana kita bisa menjadi orang yang lebih baik? 

Setiap generasi berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tersebut dan akhirnya pada pertengahan abad ke-19, frenologi bisa memberikan penjelasan terkait hal itu. Sejak saat itulah frenologi mulai menjadi sangat populer dan berpengaruh.

Studi Tentang Hubungan Bentuk Kepala Dengan Karakter Manusia

Dokter Franz Joseph Gall pertama kali mengembangkan teorinya tentang anatomi dan fungsi otak di Wina pada abad ke-18, dimana Sigmund Freud kemudian menumbuhkan ilmu pikiran, psikoanalisis pada akhir abad ke-19.

Gall yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran tersebut mengaku bahwa dirinya merasa sangat kagum dengan struktur fisik tubuh manusia.

Sebagai seorang dokter, ia menjadi seorang ahli anatomi terampil, yang belajar membedah otak untuk menunjukkan asal mula dan jalur saraf kranial.

Pertanyaan awal Gall muncul dari sesuatu yang dia amati sewaktu masa kanak-kanak, dimana dia menemukan atau melihat  teman sekelasnya yang sangat baik dalam hal menghapal cenderung memiliki mata besar yang menonjol.

Dengan berlandaskan sebuah teori tentang hubungan, Gall berpendapat bahwa bagian otak yang berada di belakang mata mungkin memiliki hubungan yang sangat erat dengan memori verbal.

Pengamatan anekdotal ini dan karya anatomi tentang struktur otak miliknya membuat Gall pada akhirnya merumuskan ilmu baru tentang ilmu pikirannya tersebut.

Gall menganggap otak manusia bukan hanya sebagai organ tunggal saja, melainkan sebagai mosaik (kepingan) bagian khusus, yang masing-masing mengatur fungsi mental atau emosional tertentu.

Ukuran dan perkembangan masing-masing daerah, yang disebut sebagai “faculties” oleh Gall inilah yang menyiratkan disposisi yang lebih besar atau lebih kecil terhadap sifat tersebut.

Daerah-daerah otak ini mencakup segala hal, mulai dari reproduksi sampai dengan kasih sayang, kesombongan dan kemampuan bermusik.

Melalui studinya, Gall mulai percaya bahwa bentuk otak sesuai dengan bentuk tengkorak yang membungkusnya, sehingga mempelajari benjolan dan lekukan tengkorak bisa mengungkap fungsi dan karakter otak yang ada di bawahnya.

Kemudian sejak studi tersebut dilakukan, ahli frenologi mulai percaya bahwa manusia bisa memperkuat organ otak positif mereka, seperti ibaratnya anda melakukan latihan angkat besi untuk membangun otot, maka hal yang sama juga perlu dilakukan pada otak, meskipun caranya memang agak sedikit berbeda.

Meskipun frenologi lebih populer di Eropa, namun ilmu ini mendapat sambutan yang lebih baik dari masyarakat yang berada di Amerika Serikat.

Salah satu alasan mengapa frenologi menarik begitu banyak pengikut adalah karena ilmu ini tampaknya menyediakan ruang untuk impian masyarakat Amerika.

Semua kelas masyarakat mendapat menemukan banyak makna di dalam frenologi. Kelas atas menyukainya karena meyakinkan mereka bahwa hierarki sosial yang menempatkan mereka di atas terjadi secara “alami”.

Sedangkan kelas menengah dan kelas pekerja menyukainya karena pesan meritokrasinya, yaitu sebuah penghargaan atau bayara, imbalan yang diberikan kepada pekerja dan karyawan, disesuaikan dengan keahliannya, jabatannya atau prestasinya, yang memastikan harapan mereka akan kemajuan melalui usaha pribadi dan perbaikan diri yang mereka lakukan.

Peranan Keluarga Fowler Terhadap Perkembangan Frenologi

Frenologi sepertinya bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh agama Calvinis Amerika Puritan yang ketat, seperti : cara untuk menjadikan lebih baik apa yang telah Tuhan berikan kepada Anda, memberdayakan individu untuk membantu membentuk masa depan mereka sendiri dan menjadikan manusia sebagai tuan atas pikirannya sendiri.

Selain itu, frenologi yang dikomersialisasikan di Amerika Serikat, sebagian besarnya adalah atas usaha dari keluarga Fowler.
Saudara Fowler, yaitu Lorenzo Niles dan Orson Squire, mengalihkan minat mereka pada frenologi ke dalam bisnis substansial yang berbasis di New York City pada tahun 1830-an.

Kakak tertua, yaitu Orson Squire Fowler, tidak pernah menjadi frenolog. Putra seorang petani dekaligus diakon gereja dari bagian utara New York, yang awalnya mengejar jabatan seorang pendeta tersebut menemukan panggilannya yang sebenarnya dalam frenologi.

Dia mulai memberi ceramah tentang topik tersebut kepada teman-teman sekelasnya di Amherst College di Massachusetts dan menawarkan “pembacaan kepala” tersebut kepada masing-masing orang dengan bayaran dua sen.

Antusiasmenya terhadap ilmu pembacaan karakter dari bentuk kepala tersebut segera menginfeksi adik laki-lakinya, yaitu Lorenzo, bersama seluruh keluarga, termasuk adik perempuan Charlotte bersama suaminya, Samuel Wells dan juga istri Lorenzo, yaitu Lydia Folger.

Setelah lulus, kakak beradik ini mengesampingkan rencana mereka untuk menjalani kehidupan di gereja tersebut untuk pekerjaan misionaris lain.

Fowlers kemudian menerjemahkan frenologi ke dalam doktrin perfeksionisme, yaitu seperangkat rencana yang dirancang untuk menciptakan sistem sosial dan moral yang sempurna.

Versi frenologi mereka tersebut mencoba menggabungkan semua alur sains, yang mampu memperbaiki pikiran atau memberi manfaat bagi umat manusia, yang mereka percaya akan menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Dan seperti semua pengusaha asli Amerika pada abad ke-19, mereka juga menjual perlengkapan frenologis dan aksesori yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Setelah menikah dengan Lorenzo Fowler pada tahun 1844, Lydia Folger mulai mengajar frenologi, fisiologi, anatomi dan ilmu kesehatan bagi para wanita.

Memiliki seorang frenolog wanita dalam sejarah adalah anugerah yang luar biasa bagi bisnis Fowlers, karena pada masa itu banyak wanita yang merasa tidak nyaman menghadiri ceramah tentang kesehatan yang diberikan oleh laki-laki. Dengan kehadiran Lydia, banyak wanita yang tidak lagi enggan untuk mendengarkan ceramah.

Pada tahun 1849, ketika dia baru berusia 27 tahun, Lydia mendaftarkan diri ke Medical College yang baru didirikan di Syracuse dan Rochester, New York.

Kurikulum Central Medical College, yang merupakan sebuah sekolah kedokteran “eklektik”, terdiri dari pengobatan tanaman, diet dan kebersihan.

Lydia menerima gelar medisnya setahun kemudian. Berdasarkan catatan yang ada pada waktu itu, dia merupakan wanita kedua di Amerika Serikat yang melakukannya (yang pertama, Elizabeth Blackwell, lulus dari New York’s Geneva Medical College pada tahun 1849).

Pada tahun 1850, dia menjadi kepala departemen wanita di tempat dimana dulunya dia sekolah. Dia juga menjadi profesor kedokteran wanita pertama di Amerika Serikat.

Dia juga mendirikan praktik medisnya sendiri di New York City, yang mengkhususkan diri pada kesehatan wanita dan anak-anak, sambil terus menulis dan memberi ceramah tentang frenologi dengan suaminya.

Banyak wanita yang mulai menggeluti bidang frenologi ini, meskipun memang hanya sedikit yang menjadi pemimpin yang diakui seperti Lydia.

Hal ini dikarenakan frenologi kurang memiliki struktur organisasi dan kohesi. Frenologi sebagian besar merupakan usaha individu. Tidak ada asosiasi frenologi nasional dan kebanyakan pasien hanya pernah bertemu satu kali saja dengan seorang phrenologist dan tidak banyak yang berstatus berkelnjutan.

Kebanyakan ahli frenologi mendukung hak-hak perempuan, mengadopsi pandangan frenologis tentang wanita sebagai manusia penuh yang memiliki potensi manusia yang sama dengan laki-laki.

Banyak ahli frenologi menggunakan sains untuk memperdebatkan kesetaraan mental jenis kelamin, sementara yang lainnya berusaha untuk menemukan bukti kekuatan tertentu dalam otak, yang secara tradisional dikaitkan dengan wanita seperti moralitas, kebajikan dan religiusitas.

Frenolog wanita seperti Lydia dan Charlotte Fowler memeriksa dan memberi ceramah di depan khalayak wanita hampir secara eksklusif.

Hal yang sama berlaku di hampir semua bidang medis, reguler atau alternatif, karena kesopanan dan kepantasan sosial cenderung membuat wanita dan pria terpisah, terutama bila menyangkut tubuh manusia.

Tapi seorang wanita frenolog masih sangat jarang yang memberikan pembacaan kepala kepada seorang pria. Hal ini berbeda dengan pasien wanita yang dapat menerima pembacaan dari praktisi seks manapun.

Pada tahun 1838, Fowlers mulai menerbitkan American Phrenological Journal, yang dengan cepat menjadi salah satu majalah yang paling banyak dibaca di negara ini dan tetap beredar sampai tahun 1911.

Mereka juga menerbitkan buku mengenai topik kesehatan dan reformasi. Publikasi ini memberi tahu pembaca tentang diet, pekerjaan dan permainan terbaik untuk fungsi mental yang tepat. Selain itu, banyak juga buku yang ditulis oleh Lydia, yang menawarkan saran untuk menikah dan hamil dan membesarkan anak-anak.

Obsesi nasional pada ukuran dan bentuk kepala juga mempengaruhi percakapan sehari-hari. Banyak yang mencoba untuk mencari tahu tentang kaitan frenologi tersebut terhadap kehiduopan mereka, termasuk “kaum cendekiawan” dan “kaum kurang terpelajar,” “orang berpendidikan” dan “orang-orang kecil“.

Pada pertengahan abad ke-19, publikasi Fowlers dapat ditemukan di seluruh negeri dan gagasan frenologi telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Studi Tentang Frenologi Dinilai Menyesatkan

Meskipun begitu, masih banyak juga orang yang tidak percaya dengan frenologi ini. Sejak awal kemunculannya di Eropa, frenologi telah mendapatkan banyak kritik, yang kebanyakan datang dari para dokter, ilmuwan, pemuka agama dan para politisi.

Pemerintah Austria bahkan sampai memerintahkan Gall untuk berhenti mengajar pada tahun 1801, karena khawatir perundingannya akan menyebabkan orang menjadi “sesat” dan menjadi materialis, percaya hanya pada kebenaran yang mereka pikirkan dan bukan pada tuhan.

Gall pun dengan segera melarikan diri dari Wina ke Prancis, tapi di sana juga dia menghadapi sebuah serangan balasan yang mengancam kredibilitasnya.

Ilmuwan Perancis yang bernama Marie-Jean-Pierre Flourens menjadi salah satu musuh Gall yang paling kuat. Flourens secara sistematis menguji teori Gall tersebut kepada hewan, dengan cara menghilangkan sebagian otak anjing, kelinci dan burung untuk memeriksa bagaimana bagian otak yang tersisa berfungsi.

Dan hasil eksperimennya tersebut membuat dia menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan oleh Gall selama ini keliru. Otak bertindak sebagai keseluruhan unit dan bukan bagian yang terpisah.

Kerusakan pada satu area otak menyebabkan bagian lain mengambil alih dan melakukan fungsi yang sama. Dia pun mempublikasikan temuannya tersebut.

Di Washington, D.C., Profesor Thomas Sewell juga menolak frenologi sebagai metode untuk memahami otak. Dia berpendapat bahwa cedera otak jarang mempengaruhi fungsi tubuh seperti yang diperkirakan oleh frenologi.

Apalagi, Sewell berpendapat otak tidak bisa diukur dari tengkorak saja. Profesor Harvard Oliver Wendell Holmes tersebut mengambil garis kritik yang sama.

Holmes tidak menyatakan secara langsung bahwa frenologi itu salah, namun tidak ada cara untuk membuktikan bahwa itu benar juga, yang membuat statusnya sebagai ilmu yang benar dipertanyakan.

Pada abad ke-20, frenologi telah kehilangan otoritas ilmiahnya dan sebagian besar daya tarik kepopulerannya. Kemajuan ilmu kedokteran menawarkan alat baru dan lebih baik untuk memahami otak. Bagi banyak orang Amerika, frenologi sekarang tampak kuno dan menggelikan.

Hingga saat ini, kejayaan frebologi telah berakhir. Hal ini dikarenakan sudah ditemukannya alat-alat teknologi canggih yang jauh lebih efektif digunakan untuk memeriksa otak manusia.

Setelah membaca penjelasan di atas tadi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa frenologi, yaitu ilmu yang membahas tentang hubungan antara bentuk kepala dengan kepribadian seseorang ini masih belum bisa dipercaya 100 persen keakuratannya, karena kurangnya bukti yang membenarkannya.

Namun meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan juga kalau kelak ada seseorang yang bisa membuktikan kebenarannya. Untuk saat ini, yah tetap saja frenologi sudah dianggap sebagai ilmu kuno dan tidak dipercaya oleh masyarakat lagi.

Demikianlah pembahasan kita kali ini, semoga informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat dan menambah wawasan anda.