Info

Bom Bunuh Diri Kembali Terjadi, Apa Sebenarnya Motivasi Yang Mendasarinya?

Pagi ini, bom bunuh diri kembali terjadi di tanah air kita. Sasaran bom kali ini adalah sebuah rumah ibadah umat kristiani yang berada di kota Surabaya, tepatnya di Gereja Santa Maria.

Dua orang dipastikan telah tewas akibat insiden ini, termasuk si pelaku. Menurut beberapa informasi, beberapa orang juga mengalami luka-luka dan kini telah menerima perawatan di rumah sakit. Motif tindakan pelaku bunuh diri ini masih dalam tahap penyelidikan polisi.

Di Indonesia sendiri sebenarnya ini bukan pertama kalinya berhembus kasus bom bunuh diri. Sebelum-sebelumnya juga sudah banyak terjadi peristiwa seperti ini. Tak hanya di rumah ibadah, melainkan di beberapa tempat-tempat umum yang ramai dengan kerumunan orang-orang.

Entah apa motif para pelaku-pelaku ini sebenarnya, tapi yang pasti ini adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Pokok dari pembahasan kami pada artikel kali ini masih ada kaitannya dengan tindakan kriminal bom bunuh diri.

Tapi kami tidak akan terfokus pada peristiwa yang baru terjadi hari ini, karena sudah ada media yang memiliki informasi yang jauh lebih lengkap dan akurat tentang masalah tersebut. Kami hanya sekedar memberikan sedikit informasinya saja tadi.

Pernahkah anda bertanya-tanya, apa, bagaimana dan mengapa bom bunuh diri seperti ini bisa sampai terjadi atau dilakukan oleh seseorang? Kalau sebelumnya anda belum pernah memikirkannya, kami akan memberikan sedikit informasi mengenai hal tersebut, supaya anda tahu apa dan seperti apa sebenarnya bom bunuh diri itu.

Apa Itu Bom Bunuh Diri?

Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang pernah mengalami peristiwa mengerikan semacam ini. Di banyak negara yang ada di dunia juga pernah mengalami hal yang sama. Di tiap-tiap negara tersebut mungkin motif pelakunya berbeda-beda antara negara yang satu dengan yang lainnya.

Tindakan yang bagaimana sih yang disebut bom bunuh diri itu sebenarnya?

Bom bunuh diri merupakan suatu tindakan dimana seseorang secara pribadi mengirimkan bahan peledak dan kemudian meledakkannya untuk menimbulkan kerusakan yang besar dan sekaligus membunuh dirinya sendiri dalam prosesnya.

Suara ledakan yang dihasilkan oleh tindakan ini tak jarang membuat orang-orang merasa terkejut, terutama untuk masyarakat yang berada di sekitar daerah ledakan yang terjadi. Sebagian besar korban yang mungkin dengan sengaja atau tidak sengaja menjadi target kejahatan ini tidak pernah menyadari kalau mereka akan mengalami hal buruk seperti ini.

Hampir semua pemboman bunuh diri terkait dengan beberapa alasan tertentu atau khusus, baik itu berkenaan dengan kepentingan pribadi maupun kelompok. Masing-masing pelaku pasti memiliki motifnya sendir.

Tidak seperti taktik bunuh diri yang biasanya lahir dari sebuah keputusasaan, seperti putus asa karena cinta yang di tolak, tidak tahan terus-terusan di bully dan lain sebagainya, bom bunuh diri biasanya dilakukan dengan sebuah tujuan khusus, yang kita tak ketahui dan bahkan juga tak mereka ketahui.

Beberapa orang atau pihak-pihak tertentu sering mengaitkan jenis bunuh diri ini dengan para teroris. Benar atau tidak, tapi sejauh ini banyak yang berasumsi seperti itu.

Para pelaku biasanya bukanlah seorang yang amatir, yang dalam arti mereka pastilah orang-orang yang memiliki kemampuan bergerak yang bagus, pandai dalam menghindari keamanan yang ada dan memiliki target yang jelas.

Dengan kemampuan yang mereka miliki tersebut, wajar saja jika tuduhan orang-orang akan langsung mengarah pada teroris. Mereka juga sering disebut sebagai “boom pintar manusia“.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh bom bunuh diri bisa berupa kerusakan secara fisik dan psikologis. Untuk menimbulkan kerusakan yang maksimum, para pengebom sangat bergantung pada elemen kejutan.

Kejutan yang dimaksud di sini adalah dihasilkan oleh kemampuan mereka dalam membawa senjata yang mereka gunakan untuk menjalankan setiap aksinya. Contoh, pelaku bom bunuh diri sering sekali menyimpan peledak mereka di bawah pakaian ataupun meletakkannya di dalam tas punggung yang mereka bahwa, atau bahkan menyembunyikannya di rangka sepeda.

Mereka akan melakukan segala cara untuk mengelabui orang-orang. Dengan cara-cara ini sangat jarang ada orang yang akan mencurigai apalagi menyadari keberadaan mereka, terutama di tengah keramaian, karena pada umumnya para pelaku ini melakukan aksinya di tengah-tengah keramaian (saat banyak orang berkumpul di suatu tempat tertentu).

Selain itu, untuk menimbulkan kerusakan yang jauh lebih besar lagi, para pelaku bom bunuh diri ini terkadang melancarkan aksinya dengan mengendarai kendaraan yang penuh dengan bahan peledak.

Ukuran bom yang mereka bawa dan gunakan juga bervariasi, yaitu berkisar kurang dari 100 gram (lebih dari tiga ons), seperti yang digunakan oleh seseorang yang berusaha menurunkan pesawat di Amerika Serikat pada tahun 2009.

Selain itu ada pula yang memiliki ukuran lebih dari satu ton, seperti dalam kasus pemboman yang menewaskan lebih dari 200 orang di Bali, Indonesia pada tahun 2002 lalu.

Kemunculan Pertama Bom Bunuh Diri

Bahan peledak tinggi yang stabil dan bisa diakses atau digunakan seperti trinitrotoluena (TNT) pada dasarnya memang sudah tersedia selama lebih dari satu abad. Namun meskipun sudah lama ada, kasus bom bunuh diri masih menjadi fenomena yang terjadi baru-baru ini saja.

Tindakan anarkis yang dilakukan oleh para pembom bunuh diri di zaman moderen seperti sekarang ini berhasil dilacak pada abad ke-19 lalu, yang sebelumnya berasal dari para dinamiters, yaitu orang-orang yang mendukung doktrin aksi dan propaganda.

Awalnya mereka hanyalah pembuat senjata, namun beberapa dari mereka berusaha menghancurkan diri mereka sendiri dengan menggunakan senjata yang sama, yang mereka ciptakan sendiri untuk melawan raja ataupun pemimpin-pemimpin lainnya.

Pemboman bunuh diri kontemporer dimulai pada tahun 1981 di Lebanon. Namun, peristiwa ini baru mencapai ketenaran dunia pada 1983. Kasus pertama dimulai dengan serangan terhadap kedutaan AS di Beirut, yang menewaskan 63 orang.

Kasus yang sama kemudian disusul dengan pemboman mobil AS dan barak militer Prancis, yang juga di Beirut, yang menewaskan korban yang lebih banyak, yaitu sekitar 299 orang.

Serangan-serangan tersebut diketahui memiliki latar belakang kelompok Islam Syiah, Hizbullah, yang menyebabkan percepatan pemindahan atau penarikan pasukan militer Barat dari Libanon.

Sejak tahun 1983 tersebut, pemboman bunuh diri telah menjadi taktik teroris favorit (yang paling digemari) oleh kelompok-kelompok pemberontak dari Sri Lanka ke Chechnya dan ke Afghanistan.

Salah satu indikasi dari preferensi yang berkembang ini adalah jumlah serangan, yang meningkat dari 1 kejadian di tahun 1981 menjadi lebih dari 500 pada tahun 2007. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan.

Penggunaan bom bunuh diri ini sendiri berkembang untuk 3 (tiga) alasan utama, yaitu :

  • Pertama, pemboman bunuh diri hampir tidak mungkin untuk dicegah oleh pasukan keamanan. Pembom seperti ketiga pemuda Pakistan generasi kedua dan seorang imigran muda dari Jamaika yang menewaskan 52 orang dalam pemboman London tahun 2005, hampir tak dapat dihentikan setelah mereka berkomitmen untuk mati dan membunuh yang lain.
  • Kedua, pemboman bunuh diri menghasilkan publisitas. Perhatian dari media adalah ibarat atau seperti oksigen bagi para teroris. Sedangkan pelaku bom bunuh diri sendiri menerima liputan berita yang luar biasa, atas kesediaan mereka untuk mati karena suatu sebab dan atas kerusakan mengejutkan yang terjadi tanpa pandang bulu terhadap sasaran dan orang-orang di sekitarnya. Seperti misalnya kejadian di Gereja Santa Maria Surabaya yang terjadi pagi tadi. Contoh lainnya terjadi dalam pembunuhan Perdana Menteri India Rajiv Gandhi pada tahun 1991 dan 16 lainnya oleh seorang wanita yang terkait dengan Liberation Tigers of Tamil Eelam.
  • Ketiga, pemboman bunuh diri yang sukses membutuhkan sedikit keahlian dan beberapa sumber daya yang akan mendukung aksi mereka dan seseorang yang mau membawa bom tersebut.

Karena ketiga alasan yang disebutkan di atas tadi, bagi kelompok yang bertekad untuk menyebarkan teror, pemboman bunuh diri jauh lebih efektif daripada taktik lain seperti penyanderaan, yang membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dalam sumber daya, perencanaan dan pelatihan.

Instruksi manual untuk menciptakan bahan peledak, video dan materi pelatihan lainnya, beberapa di antaranya tersedia secara online, sehingga memungkinkan kelompok-kelompok seperti pembom London bisa membangun bomnya sendiri dengan sedikit panduan yang tersedia.

Agama Yang Militan Sebagai Motivasi Tindakan

Pertumbuhan tindakan bunuh diri dengan menggunakan alat peledak (bom) ini juga sering dikaitkan dengan meningkatnya kekerasan teroris yang diilhami oleh agama yang militan. Namun, agama bukanlah satu-satunya motivasi untuk pemboman bunuh diri ini.

Ilmuwan politik Amerika, yang bernama Robert Pape berpendapat bahwa, sebelum tahun 2003, diketahui bahwa kelompok yang paling banyak menggunakan bom bunuh diri adalah Macan Tamil, yaitu kelompok separatis etnis yang sangat sekuler dari Sri Lanka.

Namun meskipun demikian, beberapa informasi menyebutkan bahwa bom bunuh diri sejak tahun 2003 dilakukan hampir secara eksklusif oleh kelompok-kelompok pendukung agama. Satu penjelasan yang meyakinkan untuk peran agama mencakup pembenaran dan persuasi.

Sebagai sarana untuk membenarkan pembunuhan ysng sembarangan seperti itu dan untuk mengatasi keengganan alamiah terhadap mengambil atau menghabisi nyawa sendiri, kelompok militan (dan para pemimpin agama dan juru bahasa yang berbicara mereka) sering kali menggunakan “kata iman”, yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai alat untuk membuat para pengikutnya percaya pada mereka dan melakukan apapun yang mereka katakan.

Inilah yang pada akhirnya bisa menyebabkan manusia menuju perang salib agama. Dengan cara tersebut, para pengikutnya akan menganggap bahwa aksi pemboman bunuh diri bukan lagi hanya merupakan penyimpangan sosial atau agama, melainkan sebuah tugas dan kewajiban suci.

Itulah sebabnya mengapa akhirnya banyak yang tertipu dan bisa diprovokasi untuk melakukan tindakan kriminal ini. Pada berbagai waktu dan karena berbagai alasan, masyarakat telah dimanipulasi untuk melakukan hal-hal seperti ini.

Alasannya dapat mencakup kekesalan terhadap orang yang berkuasa atau ketidakadilan sejarah dan sosial lainnya serta insentif ekonomi dan sosial bagi keluarga para martir.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa banyak pelaku bom bunuh diri, khususnya di masyarakat yang sedang berkembang, bukanlah orang-orang yang fanatik, meskipun mungkin beberapa diantaranya memang berasal dari golongan ini.

Tapi kecenderungan lain yang lebih luas dan terlihat dalam banyak pemboman bunuh diri di Irak dan Afghanistan, adalah perekrutan orang-orang yang secara fisik atau mentalnya sakit, miskin, mereka yang mudah terprovokasi, atau terasing dari masyarakat.

Tujuan atau motivasi dari masing-masing individu ini pun cukup bervariasi, mulai dari balas dendam atas kematian seorang anggota keluarga (misalnya, pelaku perembuan bom bunuh diri, atau “Black Windows” di Chechnya), didasarkan karena adanya rasa amarah terhadap kekuatan pendudukan (misalnya, di Irak atau Palestina) atau terhadap beberapa insiden (misalnya, penyalahgunaan tahanan di penjara Abu Ghraib di Irak) dengan paksaan atau bahkan pembayaran uang untuk keluarga (seperti yang terjadi di Afghanistan dan tempat lain).

Bom Bunuh Diri Sebagai Senjata Strategis

Kelompok militan pada umumnya menggunakan bom bunuh diri tidak hanya karena alasan praktis yang dijelaskan di atas, tetapi juga untuk tujuan strategis yang lebih luas.

Ilmuwan Politik Kanada bernama Mia Bloom mencatat bahwa pemboman bunuh diri sering menjadi bagian dari kompetisi antar kelompok untuk legitimasi, seperti ketika kelompok Islam Ḥamās menggunakan kesediaan beberapa anggotanya untuk bunuh diri dalam serangan melawan Israel, untuk mengklaim superioritas moral atas partai politik yang berkuasa, Fatah dalam Otoritas Palestina.

Sedangkan di sisi lain, Pape menunjukkan bahwa pemboman bunuh diri dapat menjadi metode yang efektif untuk menekan demokrasi untuk menghentikan intervensi asing, seperti yang terjadi pada penarikan pasukan Barat dari Lebanon tahun 1983 dan juga dalam keputusan India untuk tidak memperkenalkan kembali pasukan militer ke Sri Lanka setelah Pembunuhan Gandhi pada tahun 1991.

Apa pun tujuan jangka panjang mereka, jelas bahwa para pemimpin di beberapa kelompok, menjadikan hal ini sebagai bagian dari kampanye mereka untuk mengeksploitasi kondisi politik, sosial dan ekonomi. Mereka menggunakan bom bunuh diri dengan cara yang rasional dan penuh perhitungan.

Namun keberhasilan taktik tidak selalu diartikan sebagai sebuah kesuksesan dalam strategi kekerasan politik, karena baik disadari atau tidak, pemboman bunuh diri adalah pedang bermata dua.

Jika digunakan terlalu sering dan tanpa pandang bulu, itu bisa menjadi kurang mengejutkan dari waktu ke waktu dan bahkan dapat mengasingkan populasi yang dibutuhkan militan untuk mempertahankan perjuangan jangka panjang mereka.

Sebagai contoh, menurut sebuah studi Pew Global Attitudes, orang-orang di negara-negara Muslim yang mengalami pemboman bunuh diri pada tahun 2002, termasuk penduduk Lebanon, Indonesia dan Pakistan, dengan jelas menyatakan penolakan mereka terhadap pemboman bunuh diri sebagai sebuah taktik sekitar lima tahun kemudian.

Seperti yang telah kami sebutkan di atas, pemboman bunuh diri yang sebagiannya dijadikan sebagai taktik efektif kekerasan politik merupakan sesuatu yang sulit untuk dihentikan. Tapi meskipun sulit, namun negara-negara termasuk Indonesia yang pernah menghadapi serangan seperti ini harus mengambil tindakan untuk mencegahnya.

Beberapa negara sudah memulai berbagai upayanya masing-masing, diantaranya mencoba untuk mempertebal keamanan dengan cara mereka masing-masing. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apa saja yang sudah dilakukan untuk mencegah peristiwa buruk ini terjadi?

Apakah upaya yang dilakukan tersebut berhasil? Kalau berhasil, tapi kenapa hal seperti ini masih saja terjadi lagi dan lagi? Apakah ini karena kesadaran kita yang masih sangat rendah, atau mungkin mereka yang terlalu pintar mensiasati kita? 

Sebenarnya jawaban semua pertanyaan itu ada pada diri kita masing-masing. Kalau saja kita tidak mudah terprovokasi, kemungkinan besar ini tidak akan terjadi.

Jadi, apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Salah satu cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menanamkan toleransi dan saling menghargai sesama pada diri kita. Apakah anda siap melakukannya? Atau mungkin anda tidak setuju dengan apa yang baru saja kami sampaikan?

Apapun itu, semua tergantung pada anda. Kalau hanya melawannya seorang diri, atau membiarkan hanya orang lain yang melakukannya untuk kita, itu sama saja seperti menunggu Bumi berubah warna dari Biru menjadi pink. Anda mengertikan maksudnya?