Info

Inilah 3 Desa Yang Punya Matahari Sendiri

Matahari merupakan bintang terbesar yang menjadi pusat tata surya. Matahari juga merupakan salah satu sumber kehidupan manusia di bumi. Tanpa adanya matahari, tak ada satupun tumbuhan, hewan, bahkan manusia yang bisa hidup dan menghuni bumi seperti saat ini.

Bumi hanya akan menjadi sebuah planet mati yang tidak memiliki kehidupan seperti beberapa planet lainnya yang ada di dalam susunan tata surya. Karena dianggap sebagai sumber kehidupan, tak jarang orang-orang menjadikan matahari sebagai Dewa atau Tuhan. Salah satunya adalah masyarakat yang berada di Jepang.

Sebagai pusat tata surya, matahari memiliki ukuran yang sangat besar. Diameternya saja berkisar 1.392.684 km atau kira-kira setara dengan 109 kali diameter Bumi dan memiliki berat atau massa sekitar 2×1030 kilogram atau 330.000 kali massa Bumi dan mewakili kurang lebih 99,86 % massa total Tata Surya. Bisa bayanginkan gimana besarnya matahari tersebut?

Kota – kota Yang Berhasil Menciptakan Mataharinya Sendiri

Di Planet Bumi sendiri, tidak semua daerah atau wilayah bisa selalu terkena sinar matahari, seperti daerah kutub misalnya. Untuk anda yang berada di Indonesia, sudah seharusnya anda bersyukur karena bisa merasakan kehadiran sinar matahari setiap harinya.

Bagaimana jika anda berada di daerah yang sangat jarang terkena sinar matahari? Apa yang akan anda lakukan? Anda mungkin akan merasakan suhu yang dingin setiap hari dan hanya bisa sesekali melihat cahaya matahari. Bener nggak? Jadi, bisa dikatakan kalau anda jauh lebih beruntung daripada mereka yang hidup di daerah yang sangat jarang terkena matahari.

Adanya beberapa daerah yang jarang terkena matahari, bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah letak geografis dari daerah atau wilayah tersebut. Kalau memang ukuran matahari yang sebelumnya sudah dibahas di atas memang sangat besar, kenapa bisa ada daerah yang tidak terkena atau jarang terkena sinarnya? Dan kalau memang ada, di daerah mana sajakah fenomena tersebut terjadi? Mungkin pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang saat ini sedang berputar-putar di kepala anda, bukan?

Agar rasa penasaran anda tersebut bisa terjawab, anda harus membaca informasi di bawah ini:

1. Kota Rjukan – Norwegia

Salah satu kota yang terkena imbas dari fenomena tersebut adalah kota Rjukan, yang berada di Norwegia. Kota ini dijuluki sebagai kota tanpa cahaya matahari. Meski di beberapa daerah matahari bersinar dengan begitu teriknya, kota yang satu ini akan selalu dalam keadaan gelap. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal tersebut sebenarnya wajar saja terjadi mengingat kota Rjukan ini masuk dalam kawasan Telemark, tepatnya berada di lembah kaki Gunung Gaustatoppen. Kota tersebut dikelilingi atau dikepung oleh pegunungan dan lereng-lereng yang curam. Jika anda berada di Kota Oslo yang merupakan ibukota Norwegia dan ingin pergi ke kota Rjukan, anda hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit untuk mencapainya.

Rjukan sebenarnya adalah sebuah kota industri dan bukan kota wisata. Akan tetapi, fenomena yang terjadi di sana membuat para wisatawan atau traveller tertarik untuk mengunjungi kota tersebut. Fenomena ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya masyarakat di kota ini berhasil menciptakan mataharinya sendiri untuk menerangi kota.

Pengen tahu gimana cerita selengkapnya? Berikut ini adalah penjelasannya”

Pada tahun 1913 yang silam, Sam Eyde selaku pendiri kora Rjukan memiliki sebuah ide yang sangat briliant. Rasa simpatinya kepada masyarakat yang hidup dan menetap di sana membuat hatinya tergugah untuk mencari cara agar mereka bisa merasakan sinar matahari sama seperti masyarakat di daerah lainnya. Beliau pun mencoba untuk merancang pembuatan cermin raksasa di atas gunung. Cermin tersebut nantinya akan digunakan untuk memantulkan cahaya matahari ke desa mereka.

Akan tetapi sayangnya, nasib mereka ternyata masih kurang beruntung. Ide rancangan yang sudah dipersiapkan oleh Sam Eyde tidak dapat terealisasikan akibat kurangnya dana dan teknologi yang masih sangat minim saat itu. Akibatnya, para penduduk pun harus rela naik gondola ke atas lereng gunung jika ingin merasakan cahaya matahari.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2013 berikutnya, salah seorang warga yang bekerja di pembangkit hidroelektrik, yang bernama Martin Andersen memiliki ide cemerlang. Dia membuat tiga cermin khusus berukuran 17 meter persegi dan diletakan di atas lereng gunung setinggi 450 meter. Cermin yang dibuatnya tersebut menggunakan metode heliostat.

Metode Heliostat itu sendiri adalah salah satu cara baru untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penerangan. Akan tetapi, cermin itu tidak bisa mengkonversi panas menjadi energi listrik, sehingga masyarakatnya hanya memanfaatkan pantulan sinar matahari sebagai penerangan saja.

Tidak disangka ternyata apa yang dilakukan oleh Martin Andersen tersebut berhasil memantulkan cahaya matahari melalui cermin-cermin tersebut, sehingga bisa menerangi kota seluas 600 meter persegi itu. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi penduduk setempat, karena sekarang mereka bisa bersantai dan menikmati sinar matahari tanpa harus naik ke lereng gunung terlebih dahulu.

Menurut pengakuan yang dilontarkan oleh Andersen, untuk bisa melakukan hal tersebut, dia telah menghabiskan biaya sebesar 5 juta Nok atau setara dengan Rp.8 Miliar. Uang sebanyak itu didapatkannya dari hasil sponsor dan bantuan pemerintah. Karena tindakannya tersebut, Andersen pun diberi penghargaan dan mendapatkan pujian dari penduduk setempat. Penemuannya itu dinamakan ‘The Sun Mirror’.

Kota Rjukan sendiri dihuni oleh sekitar 3.500 jiwa penduduk. Walau sudah mendapat pantulan cahaya matahari, tetap saja suasana kotanya sedikit gelap. Tapi setidaknya penduduk kota ini bisa merasakan cahaya matahari meskipun dari pantulan saja.

2. Beijing – China

Kota berikutnya yang jarang terkena sinar matahari adalah kota Beijing di China. Pada saat musim salju tiba dan kabut tebal menyelimuti kota, warga di kota ini tidak bisa melihat matahari. Karena alasan tersebut, penduduk di Beijing akhirnya memutuskan untukmembuat “matahari tiruan” yang bisa memberikan mereka cahaya meskipun pada musim dingin.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Pemerintah Beijing memasang layar raksasa untuk menayangkan video matahari terbit di saat matahari sedang terbit. Meskipun hanya menayangkan video matahari terbit, masyarakat di kota ini sudah sangat senang karena bisa melihat matahari tersebut.

3. Desa Viganella – Italia

Viganella adalah nama sebuah desa yang terdapat di dasar lembah yang berada diPiedmont, Provinsi Verbano – Cusio -Ossola, Italia. Desa ini dibangun di dasar lembah Alpen, yang berbatasan dengan Swiss. Sisi selatan lembah sangat tinggi, sehingga setiap tanggal 11 November sampai 2 Februari matahari seakan menghilang.

Tidak ada seberkas cahaya yang jatuh ke Viganella selama periode itu. Hampir 200 penduduknya mengalami masa seperti di Siberia dan hampir sepanjang tahun, desa ini tidak pernah disinari oleh matahari seperti wilayah lainnya yang ada di dunia. Pada saat musim dingin datang, masyarakat Viganella biasanya akan merasakan dingin yang luar biasa.

Di saat desa ini diselimuti oleh rasa dingin yang menjadi-jadi, seorang arsitek yang bernamaGiacomo Bonzani memiliki sebuah ide dan mencoba untuk menciptakan matahari buatan untuk desa Viganella tersebut. Awalnya, penduduk yang mendengar idenya tersebut beranggapan bahwa ide tersebut sangat mustahil untuk diwujudkan.

Namun Giacomo Bonzani mematahkan asumsi penduduk dengan keberhasilannya mewujudkan idenya tersebut. Secara perlahan namun pasti, akhirnya Dia berhasil menciptakan cermin raksasa yang bisa memantulkan cahaya matahari ke arah desa yang ada di dasar lembah tersebut. Cermin raksasa ini kemudian dijuluki oleh masyarakat Viganella sebagai matahari buatan.

Cermin buatan ini dikendalikan oleh perangkat lunak komputer sehingga bisa melacak di mana sumber matahari dan bisa memantulkannya secara otomatis ke arah desa. Tidak hanya masyarakat Viganella saja yang bisa merasakan dampak dari sinar matahari tersebut, tapi juga para wisatawan yang penasaran dan datang berkunjung ke desa itu.

Selain berfungsi untuk menyinari desa, ternyata matahari buatan juga sudah menjadi destinasi wisata. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Italia saja, tapi juga dari mancanegara. Lembah ini memiliki pemandangan yang sangat cantik lengkap dengan hawanya yang sejuk. Masyarakat Viganella juga sangat ramah dengan para pengunjung yang datang ke sana, sehingga tak heran jika banyak turis yang datang ke desa itu.

Wah, keren banget kan orang-orang yang berhasil menciptakan matahari buatan yang diceritakan di atas? Mereka tidak hanya cerdas dan berbakat, tapi mereka juga orang-orang yang sangat berjasa. Kalau saja semua orang seperti mereka, mungkin berbagai masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan baik. Bener nggak, guys?

Berkat ide dan kerja keras yang telah mereka lakukan, ketiga desa di tiga negara tersebut akhirnya bisa merasakan sinar matahari seperti orang-orang yang berada di daerah, kota, atau negara-negara lainnya. Pokoknya 2 jempol deh buat mereka. 🙂