Info

Kesal Tiap Kali Dengar Suara Bising? Pertanda Anda Adalah Orang jenius

Kebanyakan orang pasti tidak suka mendengar suara-suara yang ribut atau bising. Hal ini bisa dikatakan sebagai hal yang wajar, karena selain mengganggu pendengaran, suara yang bising bagi sebagian orang juga bisa merusak konsentrasi, terutama saat sedang bekerja.

Tapi jika anda merasa kesal atau panik hanya karena mendengar suara-suara kecil, seperti bunyi air keran yang menetes, seseorang yang sedang mengunyah permen karet, mengklik atau memainkan pulpen dan tindakan kecil lainnya, ada kemungkinan anda menderita misophonia.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Northwestern University di Amerika yang melibatkan sebanyak 100 subjek penelitian, orang-orang yang merasa terganggu, kesal dan marah saat mendengar suara-suara tertentu secara spesifik cenderung lebih bertalenta dan kreatif.

Walaupun belum ada penelitian lebih jauh mengenai misophonia yang bisa memastikan bahwa si pengidapnya jenius atau tidak, tapi paling tidak ada hal lain yang bisa dilihat daripada hanya menganggap misophonia sebagai sesuatu yang menyebalkan.

Supaya anda lebih paham betul dan mengetahui gangguan seperi apa sebenarnya misophonia itu, kami akan menyajikan penjelasannya untuk anda di bawah ini.

Apa Itu Misophonia?

Banyak dari anda yang mungkin baru pertama kali mendengar istilah Misophonia. Misophonia sendiri secara harfiah berasal dari 2 kata, yaitu Miso yang berarti kebencian dan Phonia berarti suara. Jadi, secara singkat pengertian dari Misophonia adalah kebencian akan suara.

Orang dengan Misophonia biasanya akan mudah terpengaruh secara emosional oleh suara-suara kecil atau spesifik yang biasa dilakukan oleh orang lain dan biasanya orang lain tersebut tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang akan mengganggu. Contohnya adalah seperti bernapas, menguap, atau mengunyah.

Coba bayangkan jika anda yang memiliki gangguan ini. Saat mendengar pasangan anda bernafas di dekat anda, atau mendengar anak anda menguap atau mengunyah, dengan seketika anda akan langsung marah. Parah sekali bukan?

Beberapa orang dengan Misophonia bahkan akan langsung melarikan diri ketika mendengar suara-suara semacam itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah, kemana mereka akan melarikan diri? 

Karena rasanya sangat mustahil untuk menghindari suara-suara jika tempat tinggal mereka berada di daerah perkotaan yang penuh dengan hiruk pikuk.

Meskipun terbilang tidak umum, namun kelainan ini menarik banyak minat para peneliti, terutama karena mereka merasa kalau gangguan ini akan membuat si penderitanya mengalami banyak masalah atau hal buruk jika tidak diberikan penanganan secara khusus.

Salah satunya adalah dapat menyebabkan isolasi, karena orang-orang yang menderita kondisi ini akan selalu berusaha untuk menghindari suara-suara spesifik yang membuat mereka kesal tersebut.

Penderita lebih memilih untuk menjauh dari masyarakat, menyendiri dan merasa malu untuk mengatakan atau menceritakannya kepada orang lain, termasuk pada keluarga ataupun dokter. Hal inilah yang menyebabkan mengapa banyak penyedia layanan kesehatan yang belum familiar dengan kelainan ini.

Gangguan ini bisa semakin berbahaya karena bisa mengganggu fungsi tubuh, sosialisasi dan kesehatan mental pada akhirnya. Misophonia biasanya muncul pada usia sekitar 12 tahun dan kemungkinan akan mempengaruhi lebih banyak orang daripada yang kita sadari.

Misophonia ini mirip dengan Hyperacusis, yaitu kondisi dimana pendengaran menjadi hipersensitif terhadap suara-suara yang umum atau berasal dari lingkungan eksternal. Keduanya terkait dengan “penurunan toleransi terhadap suara“.

Bedanya, hyperacusis adalah kondisi dimana pendengaran tidak tertahankan dengan suara-suara yang nyaring. Sedangkan misophonia lebih kepada ketidaksukaan pada suara yang berulang yang tak tertahankan.

Respon Yang Diperlihatkan Penderita Misophonia Saat Mendengar Suara

Bagi banyak pasien, episode pertama misophonia dipicu oleh satu suara tertentu. Selanjutnya suara tambahan akan muncul dan menimbulkan respon yang kemungkinan sama dari waktu ke waktu.

Orang dengan misophonia menyadari bahwa reaksi mereka terhadap suara sangatlah berlebihan dan intensitas perasaan mereka juga dapat membuat mereka berpikir bahwa mereka telah kehilangan kendali.

Salah satu studi telah mengidentifikasi beberapa tanggapan yang kerap ditunjukkan oleh pasien misophonia, yaitu antara lain :

  • Menjadi pemarah
  • Agresif secara verbal kepada orang yang membuat kebisingan
  • Menjadi agresif secara fisik dengan benda-benda, karena kebisingannya
  • Secara fisik akan memukul orang yang membuat kebisingan
  • Mengambil tindakan mengelak di sekitar orang membuat suara pemicu
  • Beberapa orang dengan sensitivitas suara semacam ini mungkin akan mulai meniru suara yang memicu reaksi agresif dan marah mereka.

Selain respons emosional, penelitian telah menemukan bahwa individu dengan misophonia biasanya akan mengalami sejumlah reaksi fisik, termasuk :

  • Merasakan adanya tekanan ke seluruh tubuh, terutama di dada
  • Tegang otot
  • Peningkatan tekanan darah
  • Detak jantung menjadi lebih cepat
  • Peningkatan suhu tubuh

Klasifikasi Gangguan Misophonia

Menurut hasil sebuah studi, sebanyak 52,4 persen partisipan dengan misophonia juga dapat didiagnosis dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (OCPD).

Misophonia pertama kali dianggap sebagai kelainan yang relatif baru pada tahun 2000. Misophonia dianggap sebagai kondisi kronis dan gangguan primer, yang artinya merupakan jenis penyakit yang tidak berkembang dalam kaitannya dengan kondisi lain.

Namun, misophonia saat ini tidak terdaftar dalam DSM-5, yaitu sumber utama untuk mengklasifikasikan penyakit kesehatan mental di Amerika Serikat.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa reaksi misophonia adalah respon sadar atau otonom dari sistem saraf Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pada reaksi fisik orang dengan pengalaman sensitifitas suara dan fakta bahwa zat, seperti kafein atau alkohol, bisa membuat kondisinya memburuk ataupun lebih baik.

Selain itu, beberapa orang ada juga yang mengaitkan kelainan ini dengan autisme. Hal tersebut dikarenakan beberapa anak autis bisa saja mengalami masa sulit dengan stimulasi sensorik dan terutama pada suara keras. Inilah yang membauat ada spekulasi bahwa misophonia dan autisme mungkin saling terkait.

Pada titik ini, terlalu dini rasanya untuk mengatakan adanya hubungan langsung diantara keduanya, karena para ilmuwan masih belum memiliki cukup bukti tentang apa yang menyebabkan orang dengan kondisi ini bisa bereaksi begitu kuat terhadap suara.

Mengapa Seseorang Bisa Mengidap Gangguan Ini?

Sebuah penelitian baru telah mengidentifikasi penyebab seseorang mengalami misophonia. Tim peneliti yang berbasis di Inggris mencoba mempelajarinya dengan menggunakan 20 orang dewasa dengan misophonia dan 22 orang sehat sebagai sampel penelitian mereka.

Mereka melakukan penilaian respon ketidaknyamanan dari suara-suara yang berbeda, termasuk suara yang menjadi pemicu umum mereka menjadi marah dan kesal, seperti suara orang sedang makan (mengunyah) dan bernafas serta beberapa suara yang mengganggu secara universal, seperti suara bayi menangis dan berteriak.

Selain itu, mereka juga menguji dengan menggunakan suara netral seperti suara hujan. Dan setelah pengujian selesai dilaksanakan, seperti yang sudah diduga sebelumnya, orang dengan misophonia menganggap bahwa suara saat makan dan bernafas terasa sangat mengganggu dan mereka tidak menyukainya.

Sedangkan untuk suara tangisan bayi dan teriakan orang, kedua kelompok sampel memiliki respon yang sama. Begitu pula dengan suara netral.

Hal ini menegaskan bahwa orang-orang dengan kelainan misophonia lebih terpengaruh oleh suara spesifik atau tertentu, namun tidak mmeiliki respon yang berbeda jauh dengan orang lain terhadap jenis suara lainnya.

Para periset mencatat bahwa orang-orang dengan misophonia menunjukkan adanya tanda fisiologis stres yang jauh lebih besar (peningkatan keringat dan detak jantung) saat mendengar suara orang makan dan bernafas daripada saat mendengarkan orang yang tidak melakukannya.

Para periset juga menggunakan pemetaan MRI seluruh otak untuk memetakan otak peserta dan menemukan bahwa orang dengan misophonia memiliki jumlah mielinasi yang lebih tinggi.

Myelin adalah zat lemak yang membungkus sel saraf di otak untuk memberi insulasi listrik, seperti insulasi pada kawat. Tidak diketahui apakah mielin ekstra ini adalah penyebab misophonia atau tidak.

Periset di Amsterdam mengidentifikasi beberapa hal berikut sebagai pemicu paling umum untuk misophonia:

  • Suara orang yang sedang makan (mengunyah), mempengaruhi 81 persen 
  • Suara bernapas keras atau dari hidung, mempengaruhi 64,3 persen
  • Jari tangan atau tangan, mempengaruhi 59,5 persen
  • Sekitar 11,9 persen peserta memiliki respons yang sama, yaitu marah dan agresif terhadap penglihatan seseorang yang mengulangi tindakan fisik tertentu, seperti menggoyang lutut mereka.

Adakah Cara Untuk Menyembuhkannya?

Sejauh ini, belum ada obat atau pengobatan untuk menyembuhkan gangguan misophonia. Ketika anda pergi dan memeriksakan keadaan anda ke dokter, mereka hanya akan merujuk anda pada berbagai jenis terapi. Tapi meskipun demikian, jangan pernah berpikir untuk tidak mengkonsultasikan kondisi anda tersebut pada dokter.

Jika anda merasa terganggu saat mendengar suara-suara yang membuat anda tidak nyaman, jangan langsung melarikan diri atau marah dan kesal tak jelas, karena ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk meminimalkan gangguan ini.

Berikut tips untuk mengelola sensitivitas suara untuk pasien pengidap misophonia:

  • Menggunakan headphone untuk mendengarkan musik. Ini akan membantu anda menenggelamkan suara pemicu yang mengganggu tersebut
  • Mengenakan penutup telinga saat berada di dalam ataupun di luar rumah
  • Memilih tempat duduk yang jauh dari keributan saat berada di bus dan restoran
  • Lakukan perawatan diri dengan istirahat, relaksasi dan meditasi untuk mengurangi stres
  • Bila tak lagi memungkinkan, anda bisa meninggalkan situasi dimana ada suara pemicu tersebut
  • Carilah seorang dokter atau terapis yang bisa membantu
  • Berbicaralah dengan tenang dan terus terang dengan keluarga, teman dan orang-orang yang anda cintai untuk menjelaskan misophonia yang anda alami

Mencoba untuk memberi tahu seseorang dengan misophonia untuk “mengabaikan begitu saja” suara pemicu yang mengganggu mereka sama saja dengan mengatakan kepada seseorang yang depresi untuk “melepaskan diri dari stress tersebut” dan sama-sama tidak akan membantu apapun.

Jadi, jika anda menemukan di sekeliling anda ada teman atau kerabat yang menderita gangguan ini, dengarkan mereka dan bimbinglah mereka agar mau diajak untuk bertemu dokter ataupun melakukan terapi pengobatan tertentu.

Kesimpulan

Misophonia adalah istilah untuk menggambarkan gangguan neurologis, dimana rangsangan pendengaran (dan kadang-kadang visual) disalahartikan di dalam sistem saraf pusat. Namun, apa yang menyebabkan munculnya gangguan misophonia ini masih menjadi sebuah misteri.

Meskipun orang mungkin sudah menderita misophonia selama bertahun-tahun, namun gangguan ini baru diakui sebagai masalah kesehatan sejak tahun 2000-an. Salah satu pemicu dari gangguan ini adalah suara mengunyah ketika orang-orang sedang makan. Ini adalah pemicu misophonik yang paling umum.

Untuk pengobatannya, hingga saat ini belum ada obat dan pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan pasien dengan gangguan ini. Dokter biasanya hanya akan melakukan konsultasi dan merujuk anda pada berbagai jenis terapi.

Jika anda ingin menghindari suara-suara yang mengganggu tersebut saat anda tengah berada di luar ataupun di antara banyak orang, anda bisa meminimalkannya dengan cara mendengarkan musik dengan memakai earphone. Jadi anda tidak perlu mengasingkan diri dari masyarakat.

Kalau bisa, cari orang yang anda percaya untuk menceritakan masalah yang sedang anda alami. Mereka mungkin bisa memberi tahu solusi atau cara pemecahannya. Jika tak ada teman yang bisa anda percaya, anda bisa menceritakannya pada keluarga anda, pada orang tua anda misalnya.

Jangan menyimpannya seorang diri, karena bisa menyebabkan masalah yang serius. Dan untuk anda yang tidak memiliki gangguan ini tapi anda melihat ada teman ataupun saudara anda yang menagalaminya, bantulah mereka, bukan hanya lewat motivasi, tapi juga dengan tindakan.