Info Mistery

Mengapa Harga Barang di Supermarket Banyak Menggunakan Angka 9? Ini Rahasianya

Apakah anda suka berbelanja? Oops, sepertinya pertanyaan ini sangat tepat jika diajukan pada anda kaum wanita, karena pada umumnya anda lah yang paling sering menghabiskan waktu untuk berbelanja, bukan? Meskipun begitu, tetap saja tidak menutup kemungkinan jika ada beberapa dari anda kaum pria yang mungkin memiliki hobi yang sama.

Artikel ini tidak akan menanyakan seberapa sering anda berbelanja, ataupun apa-apa saja yang biasa anda belanjakan. Artikel ini justru akan memberikan anda sebuah informasi yang mungkin pernah anda pikirkan atau tanyakan sebelumnya, namun sayangnya mungkin saja sampai sekarang anda masih belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Penasarankan? Daripada anda penasaran terus, yuk cari tahu jawabannya di bawah ini.

Makna Akhiran Angka -9 Pada Harga Belanjaan

Saat anda sedang berbelanja atau membeli keperluan anda sehari-hari di mall atau supermarket, pernahkah anda melihat ada beberapa barang yang harganya sangat nanggung atau dituliskan dengan memakai angka satuan 9Contohnya saja Rp. 199.000 atau Rp. 69.990. Pernah tidak? Pasti pernah, kan?  

Pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa harga barang tersebut tidak di pas kan menjadi Rp. 200.000 atau Rp. 70.000 saja? Apakah anda pernah mencoba untuk mencari tahu jawabannya? Jawabannya bisa ‘Ya’ dan juga ‘Tidak’. Jika sekeliling anda tidak bisa membantu anda untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, artikel ini bisa melakukannya untuk anda.

Seringnya angka -9 muncul pada beberapa harga barang yang ada di supermarket dan juga di mall tentu saja memiliki makna tertentu. Sangat tidak mungkin jika manajemen di supermarket ataupun mall tersebut asal-asalan menggunakan harga pada barang yang dipajang dan dijual di sana, karena mereka bisa saja akan merugi jika kecerobohan semacam itu terjadi.

Penggunaan angka -9 pada harga ini sering dikenal sebagai harga psikologis. Apa sih harga psikologis itu? Memang terdengar sedikit aneh jika harga barang dikait-kaitkan dengan psikologis seseorang. Iya nggak? Tapi pada kenyataannya, kedua hal tersebut memang memiliki hubungan. ‘Sebuah hubungan psikologi yang unik’.

Sebuah survey penelitian mengatakan bahwa harga yang memiliki akhiran angka -9 tersebut akan lebih menarik perhatian si pembeli daripada angka-angka yang lainnya. Secara psikologi, harga Rp199.900 akan terlihat lebih murah dibandingkan dengan harga Rp. 200.000, meskipun pada dasarnya kedua harga tersebut sebenarnya memiliki makna yang sama.

Saat anda membayar barang tersebut ke kasir, pernahkah anda membayarnya dengan uang pecahan yang seharusnya? Tidak bukan? Akan sangat sulit rasanya untuk membayar barang tersebut dengan nominal Rp. 199.900. Kebanyakan orang akan membayarnya dengan nominal Rp. 200.000. Tapi bukan itu tujuan yang sebenarnya dari pembuatan harga yang super tanggung tersebut.

Para pembeli memiliki kecenderungan untuk terfokus atau terlebih dulu melihat digit angka yang berada di bagian sebelah kiri daripada digit angka sebelah kanan.

Angka sebelah kiri inilah yang sering dijadikan sebagai acuan para pembeli, sehingga membuat mereka menganggap bahwa barang tersebut memiliki harga yang lebih murah. Dengan demikian, keinginan untuk membelinya pun akan semakin besar pula. Hal inilah yang disebut dengan harga psikologis itu. Benar-benar mempengaruhi psikologis anda bukan?

Jika dilihat secara psikologis, harga Rp. 199.900 jika dibandingkan dengan Rp. 200.000 akan tampak lebih murah. Alasannya adalah, meskipun harga 199.900 secara nilai sebenarnya sama dengan 200.000, akan tetapi pikiran pembeli cenderung melihat harga 199.900 seperti harga 100.000 saja. Mengerti kan sekarang alasan mengapa anda akan banyak menemukan angka-angka semacam ini di supermarket atau mall?

Angka berakhiran -9 memang memiliki efek psikologi harga yang spesial, atau memberikan kesan penawaran khusus dan murah. Dari variansi penulisannya juga dapat mempengaruhi calon pembeli. Seperti contohnya tulisan seperti $8,99 ini, akan membuat calon pembeli hanya memperhatikan angka yang di depannya saja, sedangkan angka yang dibelakangnya tidak terlalu diperhatikan.

Jika ditanyai mengenai asal-usul harga psikologi ini, sampai saat ini masih belum ada yang bisa memberikan kepastian. Banyak orang yang berpandangan bahwa harga psikologi ini muncul pada akhir abad 19, karena adanya persaingan harga koran di Amerika Serikat saat itu.

Menurut delapan penelitian yang telah dipublikasikan dari tahun 1987 hingga tahun 2004 yang lalu, harga-harga yang berakhiran dengan angka 9 ini justru terlihat menarik dan malah terbukti berhasil meningkatkan penjualan. Dalam penelitian-penelitian tersebut, beberapa buktinya ditemukan pada katalog pakaian perempuan yang dibanderol dengan harga $39, yang justru lebih laku daripada katalog serupa dengan harga yang lebih mruah, seperti misalnya $34.

Dalam contoh kasus lainnya adalah pada saat orang-orang mulai banyak meninggalkan toko kaset dan CD serta beralih dengan mengunduh musik lewat website (yang sayangnya kebanyakan secara ilegal, sehingga pada akhirnya merugikan artis dan label rekaman yang bersangkutan), yang diperkenalkan oleh Steve Jobs lewat platform aplikasi I-Tunes miliknya.

Siapa sangka bahwa ternyata pemikiran kreatifnya tersebut justru dapat meyakinkan para pelanggan untuk mengunduh musik secara resmi hanya dengan harga 99 sen. Lihat, lagi-lagi angka -9 ini membawakan keberuntungan kepada orang-orang yang menggunakannya, bukan? Terbukti bahwa dari aplikasinya itu, beliau berhasil meraup keuntungan hingga jutaan dolar per tahun dari bisnis tersebut. Wow, hebat sekali kan?

Karena keajaiban dari angka ini, maka mulailah bermunculan banyak spekulasi seputar angka -9 tersebut. Tapi terlepas dari itu semua,  penggunaan angka 9 ini sangat ampuh dipakai pada penjualan produk.

Orang yang dianggap sebagai yang pertama mempopulerkan harga psikologi ini adalah bernama Tomas Bata, yang tidak lain adalah pendiri dari pabrik sepatu Bata di Cekoslovakie. Tomas Bata pertama kali menggunakan harga berakhiran angka -9 ini pada tahun 1920 dan ia gunakan di toko sepatu Bata yang tersebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Uniknya lagi, ternyata penggunaan angka -9 ini tidak hanya banyak digunakan di dalam supermarket ataupun mall saja, tapi juga sering digunakan dalam berbagai bidang kehidupan yang lainnya. Dalam dunia Feng Shui (China), angka 9 ini memiliki makna yang khusus dan memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia. Angka 9 atau yang disebut sebagai Bintang ganda ini adalah angka yang menunjukkan keberuntungan masa depan.

Tidak hanya pagi bangsa China saja, Angka 9 juga merupakan angka yang sangat istimewa bagi sebagian orang Indonesia, khususnya bagi masyarakat suku jawa.

Organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) bahkan turut menggunakan angka 9 ini sebagai simbol partai bintang 9 milik mereka. Angka ini juga seringkali dikaitkan dengan sejarah wali sanga (sembilan) pada awal masuknya islam. Ada juga yang menghubungkannya dengan candi gedong songo yand berdiri di Semarang.

Bertolak belakang dengan kepercayaan di atas, orang jepang malah tidak suka dengan angka 9. Hal ini dikarenakan mereka percaya bahwa angka sembilan akan membawa kesialan atau penderitaan pada mereka. Karena alasan tersebut, orang jepang sangat menghindari angka 9 ini. Adapun angka yang menjadi favorit mereka adalah angka 8. Angka ini dianggap sebagai angka keberuntungan bagi mereka.

Entah ini hanya sebuah Mitos atau Kepercayaan sebagian orang saja, namun yang perlu anda ketahui adalah, pada dasarnya semua angka adalah baik jika kita mempercayainya sebagai sesuatu yang baik dan begitupun sebaliknya. Bukan hanya karena angka itu tidak memberikan keberuntungan bagi anda maka anda langsung menganggap bahwa angka tersebut buruk. Ingat, berbicara tentang rezeki, tidak ada yang sama antara satu dengan yang lain.