Inspiration

Punya Kebiasaan Unik, Bapak Ini Diberi Uang Senilai Rp. 16 juta

Masih ingat nggak sama film 2012 yang tayang di tahun 2009 silam? Bagaimana perasaan anda setelah menonton film tersebut? Sedihkah, takutkah? atau bahkan tidak merasakan apa-apa? Kalau memang anda benar – benar menghayati film itu, setidaknya anda mengerti akan pentingnya menjaga bumi ini.

Percayalah guys, baik buruknya yang terjadi pada kehidupan manusia di bumi tidak terlepas dari tindakan dan perbuatan manusia itu sendiri. Betul nggak? 

Ini contoh kecilnya, bencana banjir yang menimpa sejumlah wilayah di bumi bukanlah pure karena kesalahan alam, melainkan karena ulah dari manusia itu sendiri. Keserakahan dan ketidakpedulian adalah kata yang paling pas untuk disandingkan dengan manusia. Mengapa demikian?

Karena banjir tidak akan terjadi jika manusia tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, ke selokan maupun ke tempat – tempat yang tidak seharusnya. Padahal sudah ada lho larangan di larang buang sampah, tapi entah kenapa manusia tetap saja melakukan kesalahan yang sama. Tapi coba kalau sudah terkena bencana, baru deh nangis-nangis. Konyol sekali bukan?

Nggak usah ambil contoh jauh-jauh, lihat aja deh di sekitar rumah anda gimana, sudah bersihkah dari sampah? Nah, kalau sudah tahu jawabannya, coba deh renungkan hal itu sebentar saja. 

Untuk bisa menjaga bumi ini dari kehancuran dini, cobalah belajar dari sebuah pepatah China yang mengatakan: “Bila engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, tanamlah sebiji benih. Bila engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon”. Cukup sederhana memang, tapi maknanya dalam bro.

Belajar Mencintai Bumi dari Pak Samad Pohon

Pernah tidak mendengar kisah tentang seorang bapak, yang beberapa waktu lalu mendapatkan sebuah penghargaan, atas tindakan mulianya menanam pohon setiap hari? Membaca kisah bapak hebat yang satu ini, harusnya bisa membuat anda yang masih muda – muda merasa malu dan mengacungkan 2 jempol tangan untuk tindakan luar biasa yang dia lakukan.

Bapak ini memang hanya seorang penarik becak, yang hidupnya pas-pasan dengan usianya yang juga sudah tidak muda lagi, tapi untuk semangatnya menjaga bumi, tidaklah sebanding dengan tingginya jabatan anda, atau seberapa bergairahnya anda hai anak muda. Anda mungkin bekerja keras untuk kelayakan hidup anda dan keluarga anda, tapi bapak ini? Dia bekerja keras untuk kelayakan hidup seluruh manusia di bumi.

Kok bisa ya? Apa sih memangnya yang sudah dilakukan oleh pak Samad ini? Mungkin itulah yang sedang anda pertanyakan di dalam hati anda, bukan? Di mata anda mungkin tindakan bapak ini tidak berguna, hanya buang-buang waktu atau semacamnya, tapi jika di bumi ini tidak ada orang seperti beliau, apa jadinya bumi ini coba?

Menanam Pohon Sejak Usia 12 Tahun

Pak Samad yang telah berusia 60 tahun ini berasal dari Bangladesh. Dia adalah sosok nyata yang membuktikan bahwa ternyata di dunia ini masih ada orang yang peduli terhadap bumi dan mencoba memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa sebuah perbuatan kecil ternyata memiliki arti yang besar. Setuju tidak?

Kecintaan pak Samad terhadap pohon memang sudah muncul di dalam dirinya sejak ia kecil. Dia suka menanam pohon setidaknya satu pohon setiap hari sejak usianya masih12 tahun. Berarti,  hingga saat ini dia sudah menanam lebih dari 13.000 pohon sepanjang hidupnya.

Wah, hebat kan? Coba saja bayangkan jika semua orang mengikuti jejaknya, pasti nggak akan ada deh yang namanya banjir, ataupun setidaknya efek yang diakibatkan oleh bencana tersebut tidak separah yang terjadi saat ini.

Di kampung halamannya, yaitu di Faridpur, dia dikenal sebagai pria dengan sebutan “Samad Pohon”. Sebutan itu diberikan padanya karena kebiasaannya yang suka menanam pohon. Sebagai penarik becak, dia hanya mendapat penghasilan sekitar Rp. 15 ribu per hari.

Kalau dibandingkan dengan uang jajan anak sekolahan sekarang mah, pendapatan bapak ini jelas sangat sedikit sekali, apalagi jika dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarganya. Namun meskipun demikian, pak Samad ternyata bisa tetap bertahan dengan keadaannya itu dan bahkan mampu membeli setidaknya satu pohon di Pusat Hortikultura Faridpur, untuk kemudian ditanam kembali olehnya.

Menurut pengakuannya, dia tidak akan bisa tidur jika belum melakukan kebiasaannya menanam sebatang pohon tersebut. Mengenai tempat dimana dia biasa menanam pohon-pohon itu, dia mengaku bahwa dia lebih sering menanam di tanah milik pemerintah, supaya tidak ada orang yang berani menebangnya.

Tidak hanya sekedar menanam pohon-pohon itu saja, pak Samad juga tetap merawat dan menyiraminya. Selain pohon, dia juga sangat mencintai makhluk hidup yang lainnya, seperti hewan juga.

Respon Keluarga Tentang Kebiasaan Pak Samad

Pak Samad tinggal di gubuk sederhana yang berdiri di tanah milik kantor pemerintah di Faridpur, bersama isteri dan keempat anaknya. Meskipun kehidupan pak Samad terbilang sulit, tapi dia selalu mengutamakan membeli sebuah pohon. Karena tindakannya tersebutlah Istrinya yang bernama Jorna kadang memarahinya, tapi dia tetap tidak peduli.

Menurut sang isteri, cinta suaminya untuk menanam pohon tidak bisa dicegah. Berbeda dengan sang ibu, salah seorang anak pak Samad yang bernama Kutub mengatakan bahwa dia tidak pernah keberatan ataupun melarang kebiasaan ayahnya untuk menanam pohon, karena menurutnya perbuatan ayahnya adalah perbuatan yang baik.

Tak hanya keluarga, tetangga Samad pun sudah tahu mengenai kebiasaan uniknya itu. Sebagian orang mengaku sudah melihatnya menanam pohon sejak dia masih kecil. Sejumlah warga menunjukkan ada banyak pohon-pohon besar yang sudah Samad tanam di daerah sana. Melihat tindakan pak Samad tersebut, mereka merasa salut dan hormat kepadanya.

Mereka menganggap bahwa pak Samad adalah teladan bagi warga mereka. Perbuatannya juga sungguh menginspirasi warga di skitar tempat tinggalnya.

Mendapat Penghargaan Atas Dedikasinya Pada Lingkungan

Menyadari tindakan mulia yang dilakukan oleh pak Samad tersebut dan untuk semua jasa-jasanya terhadap lingkungan, baru-baru ini dia mendapatkan sebuah penghargaan dari harian the Daily Star dan juga diberi imbalan uang senilai Rp. 16 juta untuk memperbaiki rumahnya.

Di dalam pidato singkatnya, dia mengucapan terima kasihnya, juga mengajak semua orang untuk mengikuti jejaknya dan bersama-sama melindungi lingkungan. Jika hanya sendiri, pak Samad tidak mungkin bisa menyelamatkan seluruhnya, tapi jika anda juga mau bersama-sama turut ambil bagian di dalamnya, percayalah bumi akan pulih dari sakitnya.

Wah, sosok bapak yang satu ini memang benar-benar pantas mendapatkan pujian dan apresiasi dari masyarakat. Setuju kan? Kalau bapak ini saja bisa, kenapa anda tidak? Ingat, bukan masalah seberapa besar kesibukan anda mencari uang di dunia ini, tapi semuanya itu tidak akan ada artinya jika kelak dunia tempat anda mencari kenyamanan dan kekayaan ini berakhir.

So guys? Tunggu apa lagi? Yuk, sama-sama menjaga bumi kita ini. Kalau pun tidak bisa ikut menanam sebatang pohon, setidaknya bantulah untuk tidak menebang pohon. Setuju?