Knowledge

Elysia Chlorotica, Hewan Laut Yang Punya Gen Tumbuhan

“Fotosintesis”, istilah ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anda. Fotosintesis merupakan sebuah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan sebuah proses pembentukan zat makanan yang dilakukan oleh tumbuhan hijau. Melalui proses ini, tumbuhan yang memiliki kloroplas di dalam klorofilnya akan mengolah sejumlah elemen seperti air (H2O) dan karbondioksida (CO2) dengan bantuan matahari, menjadi oksigen (O2) dan karbohidrat ((CH2O)n) yang diperlukan oleh makhluk hidup lainnya seperti manusia dan hewan untuk dapat bertahan hidup.

Terlepas dari hal tersebut, Pernahkah anda mendengar bahwa selain tumbuhan, ternyata ada hewan yang dapat melakukan proses fotosintesis? Kalau dipikir-pikir, kelihatannya memang sangat mustahil jika hewan dapat melakukannya, karena pada umumnya hanya tumbuhan yang memiliki kloroplas saja lah yang dapat melakukan proses tersebut. Kloroplas merupakan plastida yang terdapat pada klorofil atau zat hijau yang hanya terdapat pada tumbuhan.

Namun sepertinya apa yang ada di dalam pikiran manusia tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang ada. Segala sesuatu ternyata bisa saja terjadi di Bumi ini.  Tidak ada yang pernah bisa membayangkan seberapa besar dan menakjubkannya isi Bumi yang diciptakan oleh yang Maha Kuasa ini. Benar tidak?

Hewan Yang Melakukan Fotosintesis

Tidak bisa dipungkiri bahwa di Bumi ini ternyata ada hewan yang memiliki klorofil di dalam tubuhnya. Klorofil inilah yang nantinya dapat digunakan oleh hewan tersebut untuk membuat makanannya sendiri dengan bantuan sinar matahari melalui sebuah proses yang bernama fotosintesis. Tahukah anda hewan apa yang dimaksud? Hewan tersebut adalah siput laut.

Beberapa jenis siput laut diketahui memiliki klorofil di dalam tubuh mereka seperti halnya pada tumbuhan. Klorofil merupakan zat hijau daun atau pigmen yang dimiliki oleh berbagai organisme dan menjadi salah satu molekul penting yang berperan utama dalam fotosintesis. Klorofil yang terdapat pada hewan laut yang bernama siput ini memang sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh tumbuhan pada umumnya.

Pada dasarnya hewan ini tidak terlahir memiliki klorofil tersebut. Siput-siput laut ini mendapatkan klorofil dari kebiasaan mereka memakan tumbuhan hijau yang ada di laut. Kebiasaan memakan tumbuhan hijau untuk waktu yang lama inilah yang membuat siput laut pada akhirnya mendapatkan klorofil serta memiliki kemampuan untuk membuat makanan sendiri seperti tumbuhan.

Siput laut yang unik ini dikenal sebagai sacoglossans atau “siput pengisap getah laut” atau “siput laut bertenaga surya”, karena hewan ini hidup dengan menyedot isi sel dari untaian alga, layaknya sedotan. Tapi dalam proses mencerna makanan, hewan ini sedikit berbeda dari hewan normal pada umumnya.

Makanan utama siput laut adalah alga hijau. Pada saat makan, hewan ini tidak hanya akan mencerna makanannya begitu saja, tetapi menghisap dan menyimpan kloroplas dari alga hijau tersebut dan kemudian menggabungkannya ke dalam sel-sel tubuh mereka sendiri. Proses ini jika dilakukan secara terus menerus untuk waktu yang lama  akan membuat siput laut memiliki zat kloroplas di dalam tubuhnya.

Elysia Chlorotica

Salah satu jenis siput laut yang paling terkenal yang dapat melakukan fotosintesis adalah Elysia chlorotica. Siput jenis ini merupakan contoh siput laut yang terbaik dalam melakukan proses tersebut. Elysia chlorotica atau dikenal dengan sebutan Zamrud Elysia dari Timur ini merupakan spesies siput laut hijau yang berasal dari kelas gastropoda.

Siput laut Elysia chlorotica ini bisa anda temukan di rawa-rawa berair asin, kolam, sungai-sungai yang dangkal di sepanjang pantai timur di Amerika Serikat. Selain di Amerika Serikat, hewan ini juga bisa anda jumpai di bagian utara Kanada. Alasan mengapa hewan ini terdapat di sungai-sungai yang dangkal adalah karena mereka membutuhkan bantuan sinar matahari untuk dapat bertahan hidup.

Untuk proses perkembangbiakannya, siput hijau dewasa memiliki kelamin ganda atau hermaprodit. Masing – masing siput bisa menghasilkan sperma dan sel telur sendiri. Namun, dalam sejumlah penelitian yang dilakukan, hewan ini tidak pernah melakukan pembuahan secara mandiri. Mereka tetap membutuhkan siput lainnya untuk dapat berkembang biak.

Setelah telur yang dibuahi menetas, larva akan berkembang sendiri. Larva – larva ini akan memakan fitoplankton sebagai sumber energinya. Berbeda dengan siput dewasa yang menyimpan zat kloroplas di dalam selnya, Larva ini akan mencerna fitoplankton dan menyerap nutrisinya untuk pertumbuhannya.

Karakteristik Elysia Chlorotica

Hewan unik ini umumnya memiliki panjang tubuh sekitar 20 milimeter sampai 30 milimeter. Tapi juga bisa tumbuh hingga panjangnya mencapai 60 milimeter. Ketika masih muda, tubuh Elysia chlorotica berwarna kemerahan atau keabu-abuan. Ketika mereka mulai memakan dan menyimpan kloroplas yang diambil dari makanannya di dalam sel-sel tubuh mereka, lambat laun tubuh mereka akan berubah warna menjadi hijau terang. Ketika sampai pada warna ini, anda akan melihat siput laut hijau yang sangat cantik. Adapun makanan Elysia chlorotica adalah Vaucheria litorea atau ganggang hijau – kuning.

Warna hijau tersebut tidak hanya akan memperindah tubuh mereka, tapi juga membantu hewan tersebut untuk melakukan kamuflase untuk menghindari dan melawan predator yang mengancam keberadaan mereka. Kamuflase atau tipuan penyamaran tersebut dilakukan karena siput laut tidak memiliki cangkang pelindung atau alat perlindungan lainnya seperti siput-siput darat yang biasa anda temukan.

Selain digunakan sebagai pertahanan, kloroplas yang dihisap Elysia chlorotica ini dari makanannya juga dapat membantu mereka bertahan hidup tanpa harus makan selama setahun. Hanya dengan melakukan proses fotosintesis, siput laut ini bisa memperoleh energi yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup walau tidak makan.

Dengan melakukan fotosintesis tersebut, siput laut hijau ini bisa lebih menghemat energi mereka. Daripada menghabiskan energi mereka dengan mencari makanan, akan lebih baik jika mereka membuat makanan mereka sendiri dan menyimpan sisa energinya untuk hal-hal lain yang mungkin mereka butuhkan.

Namun meskipun hewan ini  memiliki kloroplas untuk dapat melakukan fotosintesis, Elysia chlorotica masih membutuhkan beberapa elemen lainnya untuk mendukung proses tersebut. Beberpa ahli telah menemukan bahwa Elysia chlorotica ini tidak hanya mencuri kloroplas dari ganggang atau alga yang dimakan atau dihisapnya, tetapi juga gen mereka yang kemudian digabungkan ke dalam DNAnya sendiri. Ini adalah contoh transfer gen horizontal yang menarik dan agak unik yang terjadi pada siput laut yang bernama Elysia chlorotica.

DNA yang berpindah dari satu spesies ke spesies lainnya ini memang tidak jarang terjadi, tetapi biasanya DNA yang berpindah tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik pada spesies lainnya. Namun nyatanya kasus yang terjadi pada siput laut ini sangatlah unik dan berbeda, karena gen ganggang atau alga yang dihisapnya ternyata dapat berfungsi dengan baik di dalam tubuh siput. Kemampuan Elysia chlorotica untuk menyerap DNA alga atau ganggang ini akhirnya membuatnya dijuluki sebagai “Hewan Pencuri Gen”.

Wah, keren sekali kan siput laut ini? Tidak hanya memiliki bentuk dan warna yang indah, namun kemampuan yang dimilikinya mampu membuat orang-orang tersihir dan ingin mengenal hewan unik ini. Keberadaan hewan ini telah membuktikan bahwa ternyata masih banyak hal-hal menakjubkan yang tersembunyi di Bumi ini, yang masih belum diketahui oleh manusia.

Sekian penjelasan singkat mengenai siput laut hijau yang bernama  Elysia chlorotica ini. Semoga artikel ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk anda.