Knowledge

Menulis Atau Mengetik? Pilihanmu Akan Menentukan Kecerdasanmu

Kalau anda disuruh memilih antara menulis dengan pena atau mengetik dengan menggunakan laptop, manakah yang lebih anda sukai? Kapankah terakhir kali anda menulis dengan pena? Sekarang mungkin anda sedang berpikir dan kembali mengingatnya, bukan?

Di era digital seperti sekarang ini, bisa dipastikan kalau penggunaan pena untuk menulis kini sudah sangat berkurang. Yah, apalagi kalau sudah yang namanya masuk ke perguruan tinggi. Bisa dipastikan deh kalau mahasiswanya sangat jarang menulis, kecuali kalau sedang ujian atau kuis. Bener nggak? 

Tidak bisa dipungkiri bahwasannya orang – orang lebih senang mengetik dibanding menulis dengan pena. Kira – kira apa ya alasan mereka? Anda sendiri gimana? Kenapa anda lebih memilih mengetik daripada menulis? Atau jika sebaliknya, mengapa anda lebih memilih menulis dibanding mengetik? Jawaban anda pasti sangatlah beragam.

Hubungan Antara Menulis, Mengetik Dengan Tingkat Kecerdasan 

Pada awalnya, sebelum teknologi komputer berkembang pesat seperti sekarang ini, penggunaan buku dan pena sebagai alat tulis masih menjadi budaya masyarakat di dunia. Baik di sekolah, kampus, kantor dan di tempat – tempat yang lainnya, orang – orang masih menggunakan kertas dan pena untuk menulis.

Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, pola pikir manusia juga ikut berkembang. Manusia melihat bahwasannya untuk menghasilkan kertas, mereka harus menebang pohon. Mengingat jumlah pohon yang semakin lama semakin berkurang, manusia akhirnya mencoba mencari alternatif lain untuk mengurangi penggunaan kertas tersebut.

Dan alternatif yang digunakan adalah dengan memanfaatkan teknologi komputer. Lambat laun, dengan adanya komputer tersebut, penggunaan alat tulis seperti buku dan pena pun semakin berkurang, bahkan sudah sangat jarang digunakan. Masyarakat mulai senang mengetik dibandingkan dengan menulis.

Terlepas dari itu semua, tahukah anda kalau ternyata pola menulis dan mengetik tersebut memiliki kaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang? Mungkin tidak banyak yang menyadari tentang hal ini, sehingga masyarakat cenderung mengabaikan dan meninggalkan budaya menulis tersebut.

Jika saja anda tahu bahwa antara menulis dan mengetik ternyata memiliki kaitan dengan tingkat kecerdasan, apakah anda akan mengubah pola pemikiran anda? Tahukah anda bagaimana ketiganya bisa saling berkaitan? Nggak tahu kan? Ini nih jawabannya guys:

Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan sebuah catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan di atas kertas dengan menggunakan alat – alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, kegiatan menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.

Tulisan dengan aksara baru muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang – orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda – tanda pada tanah liat. Tanda – tanda tersebut mewakili bunyi, yang berbeda dengan huruf – huruf hieroglif yang mewakili kata – kata atau benda.

Kegiatan menulis ini kemudian semakin berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.

Meskipun tulisan tangan pada kertas yang dihasilkan tidak serapi tulisan yang dihasilkan dari ketikan, namun tetap saja tulisan tangan memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan tulisan hasil ketikan.

Kegiatan menulis diatas kertas dengan menggunakan pena atau pensil ini ternyata terbukti mampu meningkatkan memori dan kemampuan seseorang untuk mempertahankan dan memahami konsep – konsep tertentu, dibandingkan dengan seseorang yang mengetik tulisan dengan menggunakan laptop.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa penulis tangan lebih cerdas dibandingkan dengan pengguna laptop. Kemampuan manusia untuk menulis ini diatur di dalam otak. Sayangnya saat ini, banyak orang yang lebih memilih menggunakan tablet, laptop atau notebook untuk membuat catatan, sehingga menulis di atas kertas pun mulai ditinggalkan perlahan demi perlahan, karena menulis catatan di kertas dianggap sangat mudah usang.

Untuk mengetahui dan mempelajari tentang metode manakah yang lebih bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan otak seseorang, dua orang ilmuwan psikologi yang bernama Pam Mueller dari Princeton University dan Daniel Oppenheimer dari University of California Los Angeles, mencoba untuk melakukan pengujian mengenai efek tulisan tangan dan mengetik terhadap kecerdasab tersebut, yang dilakukan pada mahasiswa. Penelitian yang dilakukan adalah sebanyak 2 kali percobaan.

Dalam studi atau percobaan yang pertama, mahasiswa yang akan diuji pertama – tama terlebih dahulu dibagi menjadi dua kelompok. Untuk kelompok pertama, mereka diminta untuk mendengarkan ceramah dan mencatat isi ceramah tersebut dengan tulisan tangan di atas kertas.

Sedangkan kelompok kedua diminta untuk mengerjakan hal yang sama, namun menggunakan metode ketikan. Kemudian, para peserta tersebut diuji setelah setengah jam kemudian.

Saat pengujian dilakukan, Mueller dan Oppenheimer merasa lebih tertarik untuk mengamati kemampuan mahasiswa kelompok yang pertama dalam mengingat fakta – fakta dan konsep – konsep ceramah yang telah mereka dengarkan, serta dalamnya pemahaman mereka mengenai topik ceramah tersebut.

Untuk kelompok yang kedua, hasil pengujian yang didapat ternyata lebih buruk. Percobaan itu mengungkapkan bahwa pada saat kedua kelompok mendengarkan materi ceramah yang sama, pada waktu yang bersamaan, para pengguna laptop ternyata mendapatkan hasil tes yang lebih buruk dibanding mereka yang mencatat dengan tangan.

Para pengguna laptop cenderung membuat catatan yang lebih banyak dengan cara copy paste, dibandingkan dengan para penulis tangan. Berdasarkan laporan dari Association for Psychological Science (APS), catatan yang lebih banyak harusnya memberikan manfaat yang banyak pula kepada para mahasiswa tersebut. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.

Mahasiswa yang mengetik dengan laptop ini mungkin hanya mencatat saja tanpa memikirkan point – point penting ceramah yang mereka dengarkan, sehingga manfaat yang seharusnya mereka dapat malah berkurang atau bahkan hilang. Berbeda halnya dengan mereka yang menulis sedikit, tapi sudah mencakup point – point penting yang mereka dengarkan. Begitulah hasil percobaan pertama yang didapat oleh kedua peneliti tersebut.

Pengujian kedua atau pengujian selanjutnya dilakukan pada subjek yang berbeda yaitu para relawan. Pada percobaan kali ini, si peneliti menguji mereka dengan topik ceramah yang sama dan dengan perlakukan yang sama. Hasil yang didapat ternyata juga sama seperti pada percobaan yang pertama.

Kedua peneliti tersebut mendapatkan hasil bahwa para penulis tangan tetap mendapatkan hasil tes yang lebih baik dibandingkan dengan para pengetik. Para pengetik juga cenderung membuat catatan verbatim (kata demi kata seperti yang diucapkan dosen).

Sedangkan para penulis tangan, lebih cenderung membuat catatan berdasarkan pemahaman dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Inilah sebabnya, mengapa para peneliti memiliki dugaan atau menarik kesimpulan, mengapa para pengetik memiliki pemahaman yang lebih rendah dibandingkan dengan para penulis tangan.

Hasil dari dua percobaan yang telah dilakukan itu menunjukkan bahwa membuat catatan dengan pena dan kertas, bukan dengan laptop, ternyata menghasilkan pembelajaran yang lebih berkualitas tinggi.

Menulis dengan tangan adalah strategi yang lebih baik untuk menyimpan informasi dan menginternalisasi gagasan dalam jangka panjang. Menulis dengan tangan juga memperkuat proses pembelajaran, sementara mengetik dapat mengganggu proses tersebut.

Secara keseluruhan, orang-orang yang membuat catatan dengan cara mengetik, berpotensi untuk melakukan pengolahan informasi dengan ceroboh. Sementara cara kuno dengan pena dan kertas, dapat meningkatkan memori dan kemampuan untuk memahami konsep – konsep dan fakta.

Nah guys, sudah tahukan sekarang bahwa orang – orang yang menulis tangan ternyata memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengetik dengan laptop dan sebagainya. Setelah mengetahui hal tersebur, apakah anda akan meninggalkan budaya menulis tersebut?

Memanfaatkan teknologi memang bukanlah hal yang salah, tapi bukan berarti anda meninggalkan budaya yang sudah lama ada, bukan? Cobalah untuk berlaku seimbang pada keduanya, sehingga anda bisa memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki oleh orang lain.