science

Semakin Canggih, Kini Air Mata Bisa Diolah Menjadi Energi Listrik

Periset dari University of Limerick Bernal Institute, telah menemukan sebuah temuan baru yang bisa mengubah energi mekanik menjadi listrik pada kristal lyzosome, yang biasanya ditemukan di dalam air mata.

Tentu saja dengan adanya temuan ini, secara tidak langsung akan membuka jalan bagi penggunaan elektronik biokompatibel di masa depan.

Terdengar sedikit aneh memang, namun mengingat semakin canggihnya pemikiran masyarakat yang kemudian di dukung oleh kemajuan teknologi, tidak menutup kemungkinan kalau para ahli dunia bisa mewujudkan penemuan berharga ini.

Anda sekarang pasti penasarankan dengan kandungan air mata, sehingga bisa sampai menghasilkan energi listrik? Daripada anda penasaran terus, lebih baik anda luangkan sedikit waktu anda untuk membaca artikel ini.

Keajaiban Air Mata

Sebagai manusia normal, kita semua pasti pernah mengeluarkan air mata. Tak hanya manusia, bahkan hewan sekalipun bisa melakukannya. Air mata ini bukan hanya akan keluar saat anda sedang menangis atau terharu ketika menonton film Dilan atau ayat-ayat cinta 2, yang akhir-akhir ini begitu tenar di kalangan masyarakat Indonesia.

Air mata juga bisa keluar begitu saja tanpa anda sadari. Misalnya saja pada saat anda terlalu lama bekerja di depan komputer atau saat serius bermain game di ponsel.

Keluarnya air dari mata ini dikarenakan mata anda terlalu kering, yang terjadi karena terlalu lama terpapar sinar atau cahaya dari komputer atau ponsel, atau bisa juga karena lamanya mata tidak berkedip ketika anda sedang asyik-asyiknya menatap layar, sehingga perlu dibasahi oleh kelenjar air mata.

Dari penjelasan di atas, maka bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa definisi air mata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi (bahasa Inggris: lacrimation atau lachrymation, bahasa Latin lacrima, artinya “air mata”), yang bertujuan untuk membersihkan dan melumasi mata.

Kata lakrimasi ini juga bisa digunakan untuk merujuk pada aktivitas menangis.

Air Mata Yang Memiliki Kekuatan Magis

Ada banyak kisah atau legenda fantasi yang menggambarkan betapa hebatnya kekuatan air mata. Banyak diantaranya yang menunjukkan kekuatan magis dari air ini.

Contohnya bisa anda lihat di dalam sebuah legenda Putri Meng Jiang, yang air matanya bisa meruntuhkan tembok raksasa China. Putri Meng Jiang ini hidup pada masa pembangunan Tembok Besar Tiongkok di zaman Dinasti Qin, dimana proyek pembangunan tembok pertahanan itu telah mengorbankan sebanyak 300 ribu nyawa rakyat yang tak berdosa.

Selain itu ada pula contoh air mata yang memiliki kekuatan magis lainnya yang dimunculkan di dalam film Harry Potter. Ada satu scene dimana seekor burung hantu milik professor menyembuhkan Harry dengan air matanya.

Masih banyak lagi keajaiban-keajaiban lainnya yang bisa anda temukan di dalam cerita dongeng. Kalau disebutkan satu-satu, wah bisa-bisa nggak bisa sampai ke inti pembahasan artikel ini dong. Dua kisah di atas setidaknya bisa mewakili contoh dari keajaiban air mata di dalam dunia fantasi.

Mengubah Air Mata Menjadi Listrik

Kekuatan dari air mata ternyata tidak hanya muncul di dalam dunia dongeng saja. Kini anda dapat melihat keajaiban yang bisa diberikannya di dalam kehidupan nyata.

Selain berfungsi untuk membersihkan kotoran yang masuk dan melumasi mata agar tidak kering, sebuah tim ilmuwan Irlandia diketahui telah berhasil menemukan sebuah temuan terbaru, yang akan membuat anda tercengang dan geleng-geleng kepala sanking merasa takjubnya.

Ini ada hubungannya dengan salah satu energi yang sangat diperlukan oleh seluruh umat manusia yang tinggal di Bumi. Energi yang kerap membuat banyak orang merasa kesal jika lampu padam secara tiba-tiba, sehingga mereka kebingungan untuk meng-charge baterai ponsel yang lowbat dan lain sebagainya.

Sudah bisa tebak kan energi apa yang dimaksud tersebut? Yap, tepatnya adalah energi listrik.

Ilmuwan ini menemukan sebuah fakta bahwa memberikan tekanan pada protein yang ditemukan di dalam putih telur dan air mata bisa menghasilkan energi listrik.

Mereka mengamati bahwa kristal lysozyme, yaitu protein yang melimpah pada putih telur burung dan juga air mata, air liur dan susu mamalia dapat menghasilkan listrik saat diberikan tekanan. Laporan mereka tersebut diterbitkan di dalam jurnal Applied Physics Letters.

Kemampuan untuk menghasilkan listrik dengan menggunakan tekanan yang dikenal dengan sebutan piezoelektrisitas ini terdapat pada bahan seperti kuarsa, yang dapat mengubah energi mekanik menjadi energi listrik dan sebaliknya. Material ini juga terdapat pada tulang, tendon dan kayu.

Bahan piezoelektric ini biasanya digunakan dalam berbagai aplikasi mulai dari resonator dan vibrator di telepon genggam hingga sonar pada kapal, yang berfungsi untuk mendeteksi suatu objek di kedalaman.

Meskipun memiliki kemampuan yang luar biasa, namun banyak bahan piezoelektrik yang digunakan pada perangkat ini, yang mengandung unsur beracun, seperti timbal.

Sebaliknya, kristal lyzosome memiliki sifat biokompatibel, yang berarti mereka tidak dapat membahayakan tubuh manusia. Temuan material kristal lyzosome ini lebih mudah dibuat dari sumber alami, seperti air mata.

Jika penelitian terhadap air mata yang bisa menciptakan energi listrik ini benar-benar dilanjutkan, ada kemungkinan kalau di kedepannya manusia tidak perlu khawatir lagi kalau listrik tidak bisa diperbaharui lagi.

Pemanfaatan Kristal Lysozime Dalam Bidang Biologi

Seorang ahli biologi struktural di UL bersama dengan rekan penulis Profesor Tewfik Soulimane, mengatakan bahwa teknologi piezoelectricity ini sebenarnya sudah lama dikenal dan banyak digunakan, tepatnya kristal lisozim ini telah dikenal sejak tahun 1965 yang lalu. Hanya saja kapasitas untuk menghasilkan listrik dari protein tersebut memang belum dieksplorasi pada masa itu.

Sebenarnya, ini adalah struktur protein kedua dan struktur enzim pertama yang pernah dipecahkan, tapi kami yang pertama menggunakan kristal ini untuk menunjukkan bukti piezoelektrik itu,” tambahnya.

Menurut Aimee Stapleton, yang merupakan salah satu peneliti mengatakan, karena sumber bahan-bahan tersebut adalah unsur biologis, jadi bisa dibilang cukup aman dan tidak beracun, sehingga sangat cocok untuk diaplikasikan dalam dunia medis secara terbuka.

Menurut pemimpin tim, yaitu Profesor Tofail Syed dari Departemen Fisika UL, kristal adalah standar emas untuk mengukur piezoelektrik dalam bahan non-biologis.

Tim peneliti ini menunjukkan bahwa pendekatan yang sama juga dapat dilakukan untuk memahami efek dari material tersebut di dalam biologi.

Hingga saat ini, mereka masih terus mencoba untuk memahami pendekatan baru, yang berkaitan dengan penggunaan bahan piezoelektrik dalam bidang biologi, dengan lebih memilih untuk menggunakan struktur hirarkis yang kompleks, seperti jaringan, sel atau polipeptida daripada harus menyelidiki blok bangunan fundamental yang sederhana.

Karena sifatnya yang tidak beracun, banyak aplikasi inovatif yang bisa diciptakan, seperti misalnya dijadikan sebagai lapisan elektroaktif dan anti-mikroba untuk implan medis.

Harapan selanjutnya, penelitian ini dapat berperan dalam dunia medis untuk pengembangan perangkat elektronik berbasis biologis yang bisa dipasang pada tubuh pasien.

Menurut tim peneliti, kelebihan lainnya dari kristal lysozyme adalah dapat mengontrol kandungan obat-obatan dan narkoba di dalam tubuh dan juga mengeluarkannya.

Penemuan ini mungkin memiliki aplikasi jangkauan yang luas dan dapat menyebabkan penelitian lebih lanjut di bidang pemanenan energi dan elektronik fleksibel untuk perangkat biomedis yang dimaksud di atas.

Aplikasi masa depan dari penemuan ini mungkin termasuk mengendalikan pelepasan obat dalam tubuh dengan menggunakan lisozim sebagai pompa, yang dimediasi secara fisiologis yang mengais energi dari sekitarnya.

Menjadi biokompatibel dan piezoelektrik alami, lisozim ini dapat menghadirkan alternatif pemanen energi piezoelektrik konvensional, yang banyak mengandung unsur beracun seperti timah.

Profesor Luuk van der Wielen, Direktur Bernal Institute dan Bernal Professor Biosystems Engineering and Design mengungkapkan kegembiraannya pada terobosan ilmuwan UL ini.

Institut Bernal memiliki ambisi untuk mempengaruhi dunia berdasarkan ilmu pengetahuan tertinggi dalam konteks yang semakin internasional. Dampak penemuan ini di bidang piezoelektrik biologis akan sangat besar dan ilmuwan Bernal memimpin dari depan dari kemajuan di bidang ini,” katanya.

Setelah membaca artikel ini, apa yang terlintas di dalam benak ada? Pasti anda merasa takjub bukan? Di era se-moderen ini memang tidak ada yang tidak mungkin, ya termasuk temuan yang berhasil membuktikan kalau air mata juga bisa dijadikan sebagai penghasil energi listrik.

So guys, masih maukah anda menyia-nyiakan air mata anda hanya untuk menangisi sesuatu yang tidak penting dan secara tidak langsung membuang penghasil energi listrik tersebut secara percuma?

Nah, kalau dulu anda sangat mudah mengeluarkan air mata karena sakit hati atau sekedar merasa terharu ketika menonton film cinta-cintaan, mulai sekarang stop deh kebiasaan itu. Atau paling tidak, ya kurangilah. Selain lebay, kan sayang air matanya dibuang-buang. Benar nggak? 

Semoga artikel ini bisa menyadarkan anda seberapa berharganya air mata itu dan terima kasih juga karena sudah membaca. Selamat beraktivitas kembali.