Story

Terlantar di Hutan, Jhon Ssebunya Menjelma Seperti Seekor Monyet

Pernahkah anda mendengar atau membaca sebuah kisah tentang anak-anak yang diasuh oleh binatang? Beberapa dari kisah ini ternyata tidak hanya sekedar tulisan belaka, tapi sempat diangkat menjadi sebuah film, yang cukup terkenal dan diminati oleh banyak masyarakat dunia. Salah satu contoh kisah tersebut difilmkan dengan judul “The Jungle Book Mowgli”.

Film ini menceritakan tentang seorang anak lelaki yang dibesarkan oleh kawanan serigala, yang dipimpin oleh Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha (Lupita Nyong’o). Bagheera (Ben Kingsley), yang merupakan seekor panther hitam, melatih Mowgli untuk mempelajari cara-cara bagaimana para serigala bertahan hidup, dan melarang Mowgli untuk menggunakan trik atau “cara pintas”, yang sebenarnya merupakan cara manusia dalam menyelesaikan masalah.

Berikut ini adalah cuplikan singkat video dari film The Jungle Book Mowgli tersebut:

Di dalam film tersebut, anda mungkin melihat sepertinya kehidupan anak yang dibesarkan di lingkungan binatang kelihatan sangat seru dan menarik. Tapi tahukah anda kalau di dalam dunia nyata, apa yang digambarkan dalam film tersebut tidaklah seindah kelihatannya.

Di dalam kehidupan nyata, versi dari cerita ini merupakan sebuah kisah sedih, yang menceritakan tentang anak-anak malang yang diabaikan atau ditelantarkan orang tuanya. Perilaku orang tua yang menelantarkan anaknya di hutan ini bahkan lebih hina dari binatang. Setuju nggak, guys?

Beberapa dari mereka di telantarkan sejak lahir dan ada juga yang masih berumur balita. Kalau dipikir-pikir, seekor binatang pun tidak akan tega untuk melakukannya. Selama penelantaran tersebut, tidak ada yang tahu bagaiamana nasib dari anak tersebut. Bisa saja anak itu mati kelaparan atau bahkan dimakan hewan buas.

Cerita anak-anak yang dibesarkan oleh hewan ini tidaklah sama dengan kisah-kisah romantis yang berkembang di masyarakat pada umumnya. Kisah ini bahkan lebih tragis dan menyedihkan dari semua kisah sedih yang ada di masyarakat.

Ketika anak-anak malang ini ditemukan untuk pertama kali, hati anda akan seakan teriris-iris melihat kondisi mereka yang sangat memprihatinkan. Saat ditemukan, mereka sangat berbeda dengan manusia yang seharusnya. Keadaan fisik mungkin bisa saja masih sama, tapi mengenai perilaku, mereka lebih mirip dengan binatang yang mengasuh mereka .

Mereka juga tidak bisa bisa menggunakan bahasa yang benar, karena sudah terbiasa menggunakan bahasa hewan. Ketikmampuan mereka dalam berbahasa akan membuat mereka menjadi sulit untuk bersosialisasi ketika dibawa keluar dari hutan. Kalau masalah kelincahan, anak-anak ini bisa bergerak dengan sangat lincah seperti seekor cheetah.

Mereka juga lebih suka merangkak dibandingkan berjalan. Untuk makanan, jangan coba-coba memberikan spagheti, chicken holic, Hamburger, Pizza atau jenis makanan yang dimasak lainnya kepada mereka, karena mereka tidak akan menyukai makanan tersebut dan akan membuangnya.

Mereka akan lebih memilih untuk menyantap makanan mentah seperti daging mentah misalnya, daripada makanan-makanan lainnya. Kalau begitu, jika anda berniat untuk memberi mereka makan, sushi dan sashimi sepertinya adalah alternatif yang lebih tepat.

Beberapa anak di dunia ini didapati tengah diasuh dan dibesarkan oleh binatang, seperti: ‘Bird Boy’, ‘Wolf Girl’, ‘Dog Ukraina Girl’. Beberapa diantaranya mungkin hanyalah berita Hoax, akan tetapi tidak semuanya. Beberapa dari kisah tersebut ternyata memang benar-benar terjadi di dunia nyata.

Beberapa orang akan merasa takjub dan beberapa yang lainnya mungkin akan merasa ngeri, saat mengetahui kisah anak-anak malang tersebut. Bayangkan saja, anak-anak yang masih sangat kecil ini berada di luar rumah atau di hutan tepatnya, yang jauh dari budaya manusia, padahal mereka adalah manusia. Menyedihkan, bukan?

Dari banyaknya kisah yang bertebaran di masyarakat, ada salah satu kisah anak yang akan di bahas pada artikel ini. Anak malang yang satu ini harus hidup dalam pengasuhan sekelompok monyet, akibat kesalahan dan kekejaman dari orangtuanya. So guys, sebelum membaca kisahnya siapkan tisu dulu ya!

Anak-anak yang dibesarkan oleh binatang ini akan mengikuti segala sesuatu yang dilakukan oleh binatang yang mengasuhnya tersebut dan mengikutinya kemanapun dia pergi.

Ada lebih kurang 4000 kasus anak-anak, yang ditelantarkan dan akhirnya diasuh oleh binatang di dunia ini. Akan tetapi, belum ada kepastian apakah data tersebut benar atau tidak. Seorang Psikologi sekaligus pakar primatologi Amerika yang bernama Profesor Douglas Cartland mengatakan bahwa kisah anak ini sangat menarik untuk diselidiki dan diteliti.

Cartland merupakan seorang profesor yang mengajar tentang psikologi dan perilaku binatang di Bucknell University, Pennsylvania. Sejumlah buku yangditulisnya membahas tentang psikologi dan perilaku dari anak-anak yang diasuh oleh binatang.

Dia menganggap bahwa anak-anak malang yang tinggal bersama binatang di hutan ini adalah anak-anak ajaib, karena berhasil bertahan hidup di tengah hutan tanpa adanya orang tua. Anak-anak yang tidak berdosa ini harus pasrah dengan apa yang akan terjadi pada hidup mereka selama berada di dalam hutan. Mereka tidak luput dari serangan binatang-binatang buas seperti: harimau dan serigala, yang akan menerkam dan meyantap mereka.

Secara psikologis, interaksi yang dilakukan oleh manusia dan binatang selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi kebanyakan orang. Sebagai contohnya adalah kisah Tarzan yang sudah dikenal oleh dunia. Tarzan digambarkan sebagai seorang anak manusia yang dibesarkan di hutan oleh sekunpulan monyet yang ada di sana.

Saat kisah ini ditampilkan menjadi sebuah film, kisah ini sangat melejit dan mendapatkan respon yang cukup baik dari masyarakat dunia. Interaksi yang dilakukan oleh tarzan dengan para binatang itulah yang ada di hutan tersebut menjadi hal yang sangat menarik untuk sebagian besar masyarakat.

Selain tarzan, ada kisah seorang anak lainnya yang juga memiliki nasib yang sama. Anak ini dibesarkan oleh sekumpulan monyet. Nama anak ini adalah John Ssebunya. Kisah anak malang ini terungkap pada tahun 1991. Anak ini dijuluki sebagai anak laki-laki monyet Uganda.

Cartland sempat bertemu dengan anak ini pada tiga kesempatan di Uganda. Saat bertemu, John Ssebunya berumur 8 tahun, 12 tahun, dan 19 tahun. Sama seperti kisah anak-anak yang lainnya, Jhon merupakan salah satu contoh dari tindakan kelalaian atau tidak bertanggung jawab kedua orangtuanya. Ayah dan Ibu Jhon ternyata dikenal sebagai pecandu alkohol.

Kehidupan menyedihkan anak ini dimulai ketika dia berusia 2 tahun. Saat itu anak malang ini harus melihat sebuah kejadian yang sangat mengerikan, dimana ayahnya membunuh ibunya. Melihat kejadian itu, konon katanya anak ini lantas berlari ke hutan karena takut kepada ayahnya.

Sejak saat itu, Jhon yang malangpun harus tersesat di hutan tanpa seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Hingga 3 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1991, seorang wanita dari suku yang tinggal di sekitar daerah tersebut menemukannya saat sedang hendak mencari makanan di hutan.

Saat ditemukan oleh wanita tersebut, Jhon telah berusia 5 tahun. Wanita itupun kembali ke desa untuk memberitahukan hal tersebut kepada penduduk lainnya, dan kembali ke tempat dimana dia menemukan Jhon. Di sana, para penduduk berniat untuk membawa Jhon ke desa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Mereka begitu kasihan melihat kondisi Jhon yang sangat usang dan berperilaku seperti seekor binatang.

Akan tetapi, para penduduk melihat sekumpulan monyet sedang bersama-sama dengan Jhon. Monyet-monyet tersebut bertindak seakan-akan melarang para penduduk untuk membawa pergi Jhon. Monyet-monyet tersebut pun melempari penduduk dengan batu-batu yang berada di dekat mereka, sebagai isyarat agar para penduduk pergi dari sana.

Selama tiga tahun, John Ssebunya telah diasuh dan diadopsi oleh keluarga monyet, yang diidentifikasi sebagai jenis monyat vervet hijau. Monyet ini tidak hanya mengizinkannya untuk mengikuti dan tinggal dengan mereka, tetapi juga mengajarkan kepadanya semua hal yang mereka lakukan, serta mengajarkan metode untuk bisa menjaga kelangsungan hidup di hutan. Hal inilah yang membuat jhon akhirnya bertingkah laku seperti monyet.

Setelah mencoba berbagai cara untuk membawa Jhon ke kehidupan yang lebih wajar, para penduduk itu pun akhirnya berhasil membawa Jhon keluar dari hutan, dan langsung membawanya ke panti asuhan Kristiani terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Pada saat itu Jhon ditemukan dalam kondisi sedang menderita hipertrikosis atau pertumbuhan rambut yang tidak wajar pada bagian tubuh tertentu. Penyakit ini merupakan penyakit umum yang diderita oleh anak-anak yang hidup terlalu lama di hutan atau lingkungan liar lainnya.

Tubuhnya juga penuh dengan berbagai bekas luka yang didapatnya entah karena apa. Jhon juga tidak suka mengkonsumsi makanan-makanan yang sudah dimasak, dan memiliki kebiasaan merangkak. Selama kurang lebih 8 tahun, Jhon diajarkan untuk bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan adat-istiadat dan kebiasaan hidup masyarakat, seperti: belajar berjalan dengan kaki, mengenakan pakaian, dan lain sebagainya.

Masalah lainnya yang dihadapi oleh Jhon adalah penggunaan bahasa. Karena tinggal terlalu lama di dalam hutan, Jhon menjadi sama sekali tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan bahasa yang seharusnya. Selama berada dalam lingkungan keluarga monyet, Jhon hanya mengerti bahasa tersebut, dan tidak mengerti cara berkomunikasi dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya.

Setelah beradaptasi beberapa lama, baru lah Jhon bisa menggunakan bahasa dengan benar, walaupun seutuhnya belum benar. Yah, tidak apa-apa lahLambat laun juga bisa nantinya. Yang menakjubkan lagi adalah saat ini Jhon yang merupakan anak yang disia-siakan telah menjelma menjadi anggota dari paduan suara anak-anak paling terkenal dari panti asuhan lokal ysng ada di sana.

Apa yang dialami oleh Jhon memang begitu memprihatinkan. Caranya bertahan hidup benar-benar memberikan pelajaran berharga bagi para orangtua untuk tidak lagi menyia-nyiakan anak mereka. Ada banyak contoh anak lainnya yang besar di hutan bersama para binatang, tapi saat di bawa kembali ke kehidupan manusia yang sebenarnya, tidak dapat beradaptasi, dan akhirnya menjadi jatuh sakit dan mati.

Jadi, bisa dikatakan kalau Jhon termasuk anak yang kuat, karena meskipun tinggal lama di hutan, kemudian dibawa ke luar, dia langsung bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. So guys, ketika menjadi orang tua, perlakukan lah anak-anak anda layaknya seorang manusia dengan baik, bukan malah menelantarkannya dan membuatnya terbunuh.

Mungkin di dunia anda bisa menghindari hukum, tapi Tuhan bisa melihat seluruh perbuatan yang anda lakukan. Dia sudah mempercayakan seorang anak untuk anda rawat, tapi malah anda sia-siakan. Kalau ini sudah terjadi, hukum anda tidak lagi di dunia, tapi di kehidupan yang berikutnya.