Healthy Technology

Canggih, Pil Ini Bisa Kirim Data Kondisi Usus Pasien Menggunakan Blutooth

Apakah anda sering mengalami masalah pada usus besar anda? Sudahkah anda memeriksakannya ke dokter? Kalau sudah, apa yang mereka katakan tentang kondisi yang anda alami? Jawaban anda pasti akan sangat beragam.

Sakit yang anda rasakan pada bagian perut bisa disebabkan oleh banyak hal, yang salah satu diantaranya adalah dikarenakan diet yang sedang anda jalankan ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan usus anda.

Tak ada yang melarang jika memang anda ingin menjalankan diet khusus. Tapi tindakan itu akan salah jika anda melakukannya dengan cara yang tidak tepat.

Anda harus tahu bahwasannya kondisi perut masing-masing orang tidak ada yang sama. Dengan kata lain, berkonsultasi dengan dokter saat akan melakukan diet merupakan satu hal yang sangat penting untuk anda lakukan. Mereka akan memberitahu anda diet seperti apa yang paling pas untuk anda jalankan.

Bukan hanya masalah diet, sejumlah masalah usus yang lainnya sebentar lagi juga bisa diatasi dengan lebih baik dan cepat. Hal tersebut dikarenakan penggunaan teknologi sudah semakin canggih sekarang ini.

Teknologi Baru Berbentuk Pil

Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian terbaru berhasil menemukan sebuah teknologi canggih yang diperkirakan bisa membantu dalam dunia kedokteran.

Teknologi kesehatan yang dimaksud berupa sensor seukuran pil, yang memiliki kemampuan untuk membantu pekerjaan medis dalam mendiagnosis kondisi kesehatan usus pasien, seperti misalnya memeriksa pasien apakah usus mereka intoleransi terhadap laktosa atau memeriksa apa mereka tengah mengalami sindrom iritasi usus besar.

Untuk memastikan apakah penemuan ini bisa bekerja dengan baik, para periset melakukan pengujian sensor elektronik tersebut pada tujuh orang sehat dan berhasil menemukan sebuah hasil yang menakjubkan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di dalam sebuah jurnal Nature Electrics, perangkat canggih ini bisa mendeteksi secara akurat konsentrasi hidrogen, karbon dioksida dan oksigen secara real time saat dimasukkan ke dalam tubuh dan kemudian melaju melewati kerongkongan hingga masuk ke dalam usus besar.

Meskipun hasil dari penggunaan dan keakuratan sensor ini masih perlu diuji pada kelompok orang yang lebih besar, terutama pada individu yang memiliki masalah usus, penggunaan sensor ini suatu hari nanti dapat menyebabkan prosedur invasif menjadi lebih sedikit, seperti misalnya colonoscopies.

Colonoscopies merupakan prosedur yang memungkinkan pemeriksaan (biasanya dilakukan oleh seorang gastroenterologist) untuk mengevaluasi bagian dalam kolon atau usus besar.

Bentuk dan Cara Kerja Pil Sensor

Ukuran dari alat ini adalah seukuran pil besar, tepatnya hanya sekitar 1 inci sampai 0,4 inci (2,6 centimeter dengan 1 sentimeter). Setelah kapsul tersebut ditelan dan masuk ke dalam tubuh, alat tersebut akan diekskresikan sekitar satu atau dua hari kemudian.

Hebatnya, kapsul ini akan mengirimkan data tentang konsentrasi gas yang ada di dalam usus setiap 5 menit sekali ke perangkat genggam di luar tubuh. Perangkat ini, pada gilirannya nanti diperkirakan akan menggunakan Bluetooth untuk mengirim data ke aplikasi smartphone.

Fakta Baru Yang Berhasil Diungkap

Selain bisa menyampaikan data real-time tentang konsentrasi gas di sepanjang usus pasien, uji coba kapsul ini menunjukkan bahwa perut manusia memiliki sistem perlindungan yang sebelumnya tidak diketahui.

Para peneliti juga menemukan sebuah fakta bahwasannya jika senyawa asing tetap berada di dalam perut terlalu lama, maka sistem ini akan segera digerakkan, kemudian memicu perut untuk melepaskan bahan kimia pengoksidasi untuk menghancurkan dan memusnahkannya.

Kourosh Kalantar-zadeh, yang merupakan seorang penulis dan profesor di School of Engineering, yang berada di Royal Melbourne Institute of Technology, di Australia menyatakan mekanisme kekebalan semacam itu belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Selain itu, kapsul canggih ini juga bisa menunjukkan bahwa usus besar atau kolon, kemungkinan mengandung oksigen, karena orang-orang dengan diet serat tinggi diketahui memiliki konsentrasi oksigen yang tinggi di dalam usus besarnya.

Temuan terkait oksigen ini dapat membantu peneliti memahami kondisi tertentu, seperti kanker usus besar, berkembang, katanya.

Jika disetujui penggunannya, kapsul tersebut bisa merevolusi cara dokter mendiagnosa gangguan usus dan bahkan membantu mereka menentukan makanan pasien yang sedang melakukan diet.

Karena masing-masing penyakit memiliki jumlah konsentrasi gas sendiri, sehingga pembacaan kapsul memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi masalah yang dimiliki pasien.

Percobaan yang lebih besar, yang rencananya akan dilakukan dengan lebih dari 300 pasien, diperkirakan akan selesai pada tahun 2019, kata Kalantar-zadeh.

Masih belum jelas berapa biaya yang akan dibanderol untuk kapsul ini jika nantinya sudah resmi dibawa ke pasar. Tapi meskipun demikian, para periset berharap bisa menawarkannya ke pasien dengan tafsiran harga di bawah $ 200 pada tahap pertama.

Awal Mula Munculnya Ide Pembuatan

Para ilmuwan membuat sensor elektronik setelah ahli gastroenterologi (dokter yang mengkhususkan diri pada saluran pencernaan dan hati) bertanya apakah para peneliti dapat melakukan tes napas diagnostik, yang lebih bisa diandalkan untuk memeriksa kondisi usus, karena kebanyakan tes napas dapat diandalkan hanya sekitar 60 persen sampai 70 persen saja.

Tes nafas biasanya digunakan untuk mendiagnosis kondisi seperti pertumbuhan bakteri usus kecil dan sindrom iritasi usus besar, dengan cara mengukur konsentrasi gas yang ada di dalamnya.

Namun, para peneliti tidak mampu menghasilkan tes nafas yang lebih baik, katanya. Hak tersebut dikarenakan jumlah dan konsentrasi gas yang dihasilkan di dalam usus berubah pada saat mereka sampai ke paru-paru, katanya.

Melihat hal itu, para peneliti mulai mencoba untuk membuat sebuah perangkat yang berbentuk kapsul yang bisa mengukur gas secara langsung, dimana mereka ber generasi di dalam usus.

Pendapat Para Ahli Tentang Penemuan

Dr. Premysl Bercik, yaitu seorang profesor di Departemen Kedokteran Universitas McMaster, yang ada di Kanada, yang tidak terlibat sama sekali di dalam penelitian ini berpendapat bahwa sendor yang berbentuk kapsul merupakan sebuah alat baru, yang dapat membantu para medis dalam menguraikan interaksi kompleks antara host, bakteri gut (bakteri usus) dan diet, yang pada akhirnya menentukan kesehatan atau penyakit pada seseorang.

Dia juga menambahkan pernyataannya bahwa, penemuan baru ini memang sangat menarik karena kemampuannya yang bisa menemukan jumlah gas oksigen di dalam usus besar manusia.

Namun, tetap saja masih harus membutuhkan banyak data yang bisa mendukungnya untuk lebih memahami berbagai kimia kompleks yang ada di dalam perut.

Bukan hanya Dr. Premysl Bercik, Dr. Priya Kathpalia, yang merupakan asisten profesor kedokteran di University of California, Divisi Gastroenterologi juga mencoba untuk memberikan pendapatnya mengenai penemuan baru ini.

Menurutnya, perangkat ini mungkin akan sangat bermanfaat pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome) atau mengatasi pertumbuhan bakteri usus kecil.

Itu karena kapsul ini nantinya bisa membantu pasien mengetahui apakah mereka perlu melakukan perubahan diet atau memerlukan perawatan medis.

Anda yang mungkin baru pertama kali mendengar penyakit sindrom iritasi usus besar, sebenarnya penyakit ini adalah sebuah kelainan yang umum dialami oleh orang Amerika.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, satu dari lima pria dan wanita memiliki IBS (yang tidak sama dengan penyakit radang usus).

Biasanya wanita dua kali lebih mungkin mengalami kelainan ini dibandingkan dengan pria. Setengah dari semua kasus yang telah didiagnosis dialami oleh mereka sebelum usia tiga puluh lima tahun.

Wah, semakin lama semakin canggih saja ya teknologi dalam bidang medis ini guys? Dengan adanya sensor ini, para medis akan semakin mudah dalam melakukan diagnosis penyakit yang dialami oleh pasiennya, terutama untuk penyakit yang berhubungan dengan perut atau usus.

Meskipun masih dalam penelitian lanjutan, besar harapan nantinya alat ini bisa benar-benar terwujud keberadaannya. Bagaimana dengan anda? Setujukah anda jika nantinya alat ini berhasil diciptakan? Apapun jawaban anda, intinya segala sesuatu pasti memiliki pro dan kontra, serta dampak positif dan negatif.

Terlepas dari itu, kita semua pasti menginginkan sesuatu yang baik, bukan? 

Itulah tadi sedikit informasi mengenai penemuan sensor pil dalam dunia kesehatan ini. Semoga apa yang kami sampaikan di dalam artikel tadi bisa semakin menambah wawasan anda terhadap perkembangan yang terjadi di dunia saat ini. Terima kasih.