Technology

Dianggap Meresahkan, Universitas Pencipta “Robot Pembunuh” Ini Diboikot

Berita tentang perkembangan kecerdasan buatan atau AI memang tak pernah ada habisnya. Hampir di seluruh sektor kehidupan, penggunaan Artificial Intelligence bisa dengan mudah kita temui, terutama di beberapa negara maju.

Tak bisa dipungkiri jika saat ini banyak negara yang tengah berlomba untuk menciptakan berbagai teknologi AI, yang tujuannya adalah untuk mempermudah kehidupan manusia, terutama untuk menyelesaikan permasalahan yang tak bisa terpecahkan oleh manusia.

Semakin berkembangnya pengetahuan manusia yang kemudian didukung oleh kemajuan teknologi, tampaknya beberapa negara sepertinya berniat untuk memanfaatkan penciptaan AI ini untuk keperluan militer atau perang. Benarkah demikian? Negara mana sajakah yang kira-kira sudah melakukannya?

Kurang lebih sekitar seminggu yang lalu, komunitas atau ahli kecerdasan buatan dunia (AI) dan robotika yang terdiri dari 30 negara mengirimkan sebuah pesan yang ditulis dengan sangat jelas, yang ditujukan kepada para peneliti di negara Korea Selatan.

Adapun isi dari surat yang dikirimkan tersebut berisi tentang himbauan untuk negara Korea Selatan untuk tidak melanjutkan pembuatan robot pembunuh yang sedang mereka kerjakan saat ini.

Ada sekitar 60 orang ahli telah menandatangani surat terbuka yang menyerukan boikot terhadap KAIST, yaitu sebuah universitas yang berada di Daejeon, Korea Selatan, yang telah dilaporkan akan “mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk diterapkan pada militer.”

Mungkin saja mereka ingin menjadikan Robot AI tersebut sebagai senjata dalam menghadapi perang yang akan datang sebagai tindakan antisipasi atau mungkinkah mereka memiliki alasan lain terkait dengan pekerjaan yang mereka lakukan tersebut?

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat penjelasannya di bawah ini.

Apa Itu KAIST?

KAIST adalah singkatan dari Korea Advanced Institute of Science and Technology. Ini adalah sebuah universitas di Korea Selatan.

Menurut kabar yang kami terima, KAIST telah membuka pusat penelitian untuk konvergensi pertahanan nasional dan kecerdasan buatan pada 20 Februari, dimana pada saat itu Shin selaku presidennya mengatakan bahwa mereka akan “memberikan landasan yang kuat untuk mengembangkan teknologi pertahanan nasional” tersebut.

Ia mengatakan bahwa pusat ini akan fokus pada sistem perintah dan keputusan berbasis AI, algoritma navigasi komposit untuk kendaraan bawah laut tanpa awak skala besar, sistem pelatihan pesawat cerdas berbasis AI dan pelacakan objek pintar dan pengenalan teknologi AI.

Sistem Dodaam Korea Selatan diketahui sudah memproduksi “robot tempur” yang sepenuhnya otonom dan menara stasioner yang mampu mendeteksi target hingga 3 km jauhnya.

Dan kini, sebuah kabar yang beredar menyebutkan bahwa KAIST yang bekerjasama dengan sebuah perusahaan senjata besar di negara tersebut sedang melaksanakan sebuah proyek penciptaan robot pembunuh, yang pada akhirnya mendapakan kecaman dari berbagai pihak di dunia.

Benarkah KAIST Ciptakan Robot Pembunuh?

Ketika berbicara tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam bidang militer atau kegiatan perang, sebagian dari anda pasti akan langsung terbayang pada film terminator, bukan?

Tema dalam film ini adalah pertempuran untuk bertahan hidup antara ras manusia yang hampir punah dengan kecerdasan buatan yang telah merambah dunia, yang bernama Skynet.

Di dalam film yang pertama, Skynet diposisikan sebagai sistem komputer “Global Digital Defense Network” Amerika Serikat. Setelah aktivasi dilakukan, komputer atau kecerdasan buatan ini segera melihat semua manusia sebagai “ancaman keamanan” dan merumuskan rencana untuk secara sistematis menghancurkan umat manusia.

Wah, seram sekali bukan? Mungkinkah hal semacam ini yang sedang direncanakan oleh Korea Selatan? Sepertinya sih tujuannya bukan seperti itu. Tapi jika tujuannya adalah untuk menciptakan tindakan antisipasi terhadap kemungkinan perang yang akan terjadi, sepertinya itu jauh lebih masuk akal. Tahu kenapa?

Anda semua tentu sudah tahu kan kalau dunia dimana kita berada saat ini tidak pernah luput dari yang namanya peperangan? Dan karena alasan itu lah, tiap-tiap negara saat ini tengah mempersiapkan senjatanya masing-masing kalau-kalau hal tersebut sampai terjadi, karena cepat atau lambat, perang tak kan bisa kita hindari.

Berdasarkan laporan yang didapat, para ahli AI yang ada di seluruh dunia menjadi prihatin ketika mengetahui bahwa KAIST tengah melakukan kerja sama dengan Hanwha System, yaitu sebuah perusahaan senjata terkemuka di Korea Selatan untuk membuka sebuah fasilitas baru sejak tanggal 20 Februari yang lalu.

Fasilitas baru yang dimaksud dikenal sebagai Pusat Penelitian Konvergensi Pertahanan Nasional dan Kecerdasan Buatan. 

Kalau kita renungkan baik-baik, sebenarnya ada banyak sekali hal-hal hebat yang bisa kita lakukan dengan menggunakan AI yang telah ada saat ini, terutama untuk menyelamatkan kehidupan manusia, termasuk dalam konteks militer.

Akan tetapi, jika beberapa oknum tertentu secara terbuka menyatakan tujuannya adalah untuk mengembangkan senjata otonom dan memiliki mitra besar seperti ini, tentu saja akan memicu perhatian yang serius dari beberapa pihak terkait.

Hal yang sama juga telah diutarakan oleh Toby Walsh, selaku penyelenggara boikot dan sekaligus seorang profesor di Universitas New South Wales.

Pada awalnya Walsh mendapatkan informasi ini dari sebuah artikel Korea Times, yang mengabarkan bahwa KAIST telah bergabung dengan kompetisi global untuk mengembangkan senjata otonom.

Mengetahui hal ini, Ia pun menyatakan keprihatinannya dan segera mengajukan beberapa pertanyaan pada mereka, tetapi Ia tidak menerima tanggapan apapun.

“Mengingat bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah membahas beberapa hal yang harus dilakukan untuk melindungi komunitas internasional terhadap robot pembunuh AI, maka sangat disesalkan jika sebuah lembaga bergengsi seperti KAIST terlihat seperti ingin mempercepat perlombaan senjata, untuk mengembangkan senjata semacam itu,” tulis para peneliti dalam surat boikot tersebut.

Melihat hal itu, para ahli AI dan robot menyatakan penolakan mereka dan menyatakan kalau mereka tidak mendukung misi baru KAIST tersebut.

Pernyataan ketidaksetujuan tersebut mereka perlihatkan dengan melakukan tindakan memboikot Universitas KAIST, sampai pada akhirnya presidennya memberikan penjelasan terkait dengan kabar yang beredar.

Ia mencoba untuk memperjelas bahwa mereka tidak akan mengembangkan “senjata otonom yang tidak memiliki kendali manusia. Saat mendengar kabar mengenai boikot tersebut, presiden KAIST, Sung-Chul Shin mengatakan bahwa dia merasa sangat sedih.

“Saya ingin menegaskan kembali bahwa KAIST tidak memiliki niat untuk terlibat dalam pengembangan sistem senjata otonom mematikan dan robot pembunuh. Sebagai institusi akademis, kami menghargai standar hak asasi manusia dan etika hingga tingkat yang sangat tinggi. Saya menegaskan sekali lagi bahwa KAIST tidak akan melakukan kegiatan penelitian apa pun yang bertentangan dengan martabat manusia, termasuk senjata otonom yang tidak memiliki kendali manusia yang berarti”

Dampak Negatif Penciptaan “Robot Pembunuh”

Menurut para peneliti, jika KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology) terus mengejar perkembangan senjata otonom, itu bisa mengarah pada revolusi ketiga dalam peperangan.

Senjata-senjata ini “berpotensi menjadi senjata teror” dan perkembangannya dapat mendorong terjadinya perang yang bisa berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkan sebelumnya dan dalam skala yang lebih besar.

Despot dan teroris yang dikedepannya berhasil memperoleh senjata-senjata ini kemungkinan akan menggunakannya untuk melawan populasi yang tidak bersalah, menghilangkan semua kendala etis yang mungkin dihadapi oleh para pejuang biasa.

Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh para ahli yang memboikot KAIST karena tindakannya itu. Hal ini pula lah yang menjadi alasan mengapa mereka tidak setuju dengan proyek yang tengah dijalankan oleh mereka tersebut.

Kalau di flashback kembali, sebenarnya larangan terhadap penciptaan teknologi yang mematikan semacam itu bukanlah hal baru dan bukan baru terjadi hari ini.

Dulu, Konvensi Jenewa sempat melarang pasukan bersenjata menggunakan senjata laser. Selain itu, agen saraf seperti sarin dan VX juga dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia, dimana pada saat itu diketahui bahwa ada lebih dari 190 negara yang telah berpartisipasi.

Namun ternyata tidak semua orang, perusahaan ataupun negara yang setuju untuk melakukan perlindungan semacam ini. Sebut saja contohnya Hanwha, yang diketahui menjadi rekan KAIST di dalam proyek ini.

Perusahaan ini membantu untuk memproduksi munisi tandan. Amunisi semacam itu padahal telah dilarang oleh Konvensi U.N. Lebih dari 100 negara telah menandatangani konvensi ini. Apakah Korea Selatan termasuk di dalamnya?

Karena tindakannya tersebut, Hanwha kini harus menghadapi reaksi keras dari komunitas AI dunia. Berdasarkan alasan etika, dana minyak Norwegia senilai $ 380 miliar tidak akan diinvestasikan dalam saham Hanhwa.

“Alih-alih bekerja pada teknologi pembunuhan otonom, KAIST seharusnya bekerja pada perangkat AI yang bersifat meningkatkan dan tidak membahayakan kehidupan manusia”, kata para peneliti.

Sementara itu, beberapa peneliti lainnya juga telah memperingatkan dunia tentang penciptaan robot AI pembunuh ini, termasuk Elon Musk dan almarhum Stephen Hawking.

Apa Dampak Boikot Itu Untuk Hanwha?

Seperti yang telah disebutkan di atas tadi, Hanwha adalah salah satu produsen senjata terbesar Korea Selatan, pembuat munisi tandan yang dilarang di lebih dari 100 negara di bawah perjanjian internasional (Korea Selatan, bersama dengan AS, Rusia dan China bukan penandatangan konvensi).

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1952, selama Perang Korea, sebagai Perusahaan Bahan Peledak Korea.

Keterlibatannya dalam kasus KAIST ini membuat perusahaan ini dikeluarkan dari dana minyak nasional Norwegia, yang dirancang untuk menginvestasikan keuntungan untuk generasi mendatang karena dianggap melanggar etika terkait dengan produksi munisi tandan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hanwha diketahui telah memilih Timur Tengah sebagai “pasar utama dan strategis”, serta berusaha untuk memperluasnya dengan mengakuisisi perusahaan pesaing.

Perusahaan ini bermitra dengan perusahaan India Larsen & Toubro untuk mengamankan kontrak senjata senilai $ 660m, yang dilaporkan sebagai bagian dari rencana awal untuk merombak militer India.

Tak hanya itu saja, kebrukan perusahaan ini juga diperlihatkan oleh ketua kelompoknya, yaitu Kim Seung-youn yang pernah dinyatakan bersalah atas penggelapan pada tahun 2012 dan termasuk bagian dari sejumlah pengusaha Korea terkenal, yang dituduh melakukan kejahatan keuangan.

Nah, itulah tadi berita terbaru yang datang dari negara yang terkenal dengan girlband dan boyband-nya, yaitu Korea Selatan, tepatnya untuk KAIST, yang diboikot oleh sejumlah negara atas tindakannya yang ingin menciptakan robot pembunuh yang akan digunakan dalam bidang militer.

Apapun alasan yang diberikan oleh pihak KAIST, tetap saja mereka tidak diperbolehkan untuk melanjutkan proyeknya tersebut, karena dianggap sangat meresahkan dan bisa memicu terciptanya perang dunia ketiga.

Menurut anda, apakah tindakan KAIST tersebut memang dilakukan dengan sengaja atau tidak? Dan apa ya sebenarnya tujuan mereka menciptakan robot pembunuh tersebut? Benarkah itu untuk keperluan perang? Atau bisnis? Apapun alasannya, mereka sudah tidak bisa melanjutkan tujuan tersebut setelah diboikot.