Healthy Technology

Terapi Avatar, Pengobatan Baru Untuk Anda Yang Suka Mendengar Suara-Suara Aneh (Skizofrenia)

Anda pasti pernah kan mendengar istilah Skizofrenia? Gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan perilaku ini bisa menyerang siapa saja, termasuk juga anda.

Jika kondisi gangguan ini berlangsung untuk waktu yang lama, maka kondisi itu disebut dengan gangguan mental atau yang lebih dikenal dengan istilah “Gila“.

Kondisi ini akan membuat si penderita menjadi sulit untuk membedakan mana kenyataan dan mana pikirannya sendiri. Mereka biasanya akan sering mendengarkan suara-suara atau bisikan-bisikan aneh di dalam pikiran mereka.

Myrick, Seorang Pengidap Skizofrenia

Salah satu wanita yang bernama Keris Myrick, yang sekarang telah berusia berusia 50-tahunan ini juga sempat mengalami kondisi skizofrenia. Dia mulai mendengar adanya suara-suara atau bisikan di usianya yang masih terbilang masih muda, yaitu sekitar 20 tahunan.

Awalnya, dia mengatakan kalau bisikan tersebut mulai bermunculan saat dirinya tengah berada di sebuah toko bahan makanan. Suara tersebut mengatakan kepadanya bahwa makanannya telah diracuni.

Karena bisikan tersebut, dia pun akhirnya berhenti makan selama berbulan-bulan dan sempat didiagnosis menderita gangguan makan.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya dokter mempertimbangkan bahwa kelainan yang dialaminya itu kemungkinan jatuh pada spektrum skizofrenia.

Stigma atau pandangan tersebut membuat saya tidak percaya sepenuhnya, bagaimana mereka bisa memberi saya diagnosis yang akurat?” tanya Myrick, yang tidak lain adalah mantan presiden Aliansi Nasional tentang Penyakit Mental, yang juga mengelola sebuah organisasi peer-led yang besar untuk orang-orang yang hidup dengan penyakit jiwa.

Saat diberitahu bahwa ada kemungkinan kalau dirinya ternyata menderita penyakit mental itu, Dia pun merasa sangat malu. Orang-orang akan berpikir kalau dia adalah “orang gila“.

Asal Suara-Suara Yang Didengar Pengidap Skizofrenia

Bagi Myrick, suara yang didengarnya saat berada di toko kemarin itu tidaklah terlalu mencolok. Dia juga tidak bisa memastikan apakah suara atau bisikan tersebut berasal dari suara seorang wanita atau pria.

Tapi satu hal yang dia percaya adalah kalau pemikiran terhadap sesuatu atau makanan beracun itu pasti berasal dari sesuatu yang ada dalam kehidupannya sehari-hari.

Dia kemudian ingat bagaimana dulunya saat dia bersama ibunya sedang berbelanja di sebuah supermarket, ibunya akan mencari belanjaan dengan sambil memperhatikan tanggal kadaluarsanya.

Jangan mengambil barang pertama yang ada di rak,” kata ibunya. Setidaknya seperti itulah kejadian yang dia ingat saat ibunya melarang dirinya untuk mengambil makanan dari barisan pertama.

Kupikir suara atau bisikan yang datang itu mewakili sesuatu yang familier dengan kehidupan dan apa yang pernah kita lakukan dalam aktivitas sehari-hari kita, bukan terfokus pada seseorang atau siapa yang mengatakannya. Aku bisa mengidentifikasinya“, kata Myrick.

Tapi sayangnya, bagi kebanyakan orang, suara yang mereka dengar cenderung terdengar berbeda dengan dirinya, bahkan mungkin bisa dengan mudah dikenali, seperti suara dari seseorang yang mereka kenal.

Sekelompok peneliti di Inggris berharap bisa dengan segera mencari solusi untuk mengatasi suara yang ada di dalam pikiran tersebut, dengan cara menggunakan teknologi untuk membantu pasien yang halusinasi pendengarannya tidak kunjung hilang, sekalipun sudah melakukan pengobatan dan perawatan.

Metode mereka yang dimaksudkan untuk menolong pasien skizofrenia ini ditemukan pada tahun 2008 dan dikenal sebagai “terapi avatar.”

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan terapi avatar tersebut? Seberapa ampuh kah terapi ini untuk mengatasi masalah atau menyembuhkan para pasien? Untuk lebih jelasnya, anda bisa melihatnya pada penjelasan di bawah ini.

Mengenal Apa Itu Terapi Avatar

Banyak dari anda yang mungkin baru mendengar nama terapi unik yang satu ini. Dikatakan unik, karena memang terapi ini bukan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit seperti jantung atau yang yang berkenaan dengan penyakit fisik, melainkan diperuntukkan bagi mereka yang memiliki penyakit mental.

Terapi Avatar sendiri merupakan suatu pendekatan baru untuk pengobatan halusinasi pendengaran (suara pendengaran). Terapi ini menggunakan teknologi seperti komputer dalam pengaplikasiannya.

Avatar komputer tersebut pertama kali dirancang bagi para pasien untuk memberi bentuk pada suara yang mereka dengar dan kemudian avatar yang ada di dalamnya akan dikendalikan oleh terapis, yang akan membantu mendorong pasien untuk menentang suara-suara tersebut sehingga suara itu bisa berangsur-angsur berada di bawah kendali pasien.

Tujuan Terapi

Halusinasi pendengaran adalah masalah yang sangat penting dalam pengobatan penyakit jiwa serius seperti skizofrenia. Sekitar 25% orang dengan diagnosis penyakit ini terus saja mengalami halusinasi dan delusi pengkhianat, meskipun sudah diobati dengan pengobatan antipsikotik.

Suara-suara yang mereka dengar umumnya akan sangat mengganggu si penderita bahkan ada yang sampai harus melakukan bunuh diri hanya untuk menghentikan suara-suara itu. Itulah sebabnya mengapa skizofrenia termasuk salah satu penyakit yang cukup berbahaya, karena bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya.

Terapi avatar ini dikembangkan berdasarkan teknologi komputer yang memungkinkan setiap pasien untuk membuat avatar entitas (manusia atau non-manusia), yang mereka percaya sedang berbicara dengan mereka. Terapis juga akan berperan di dalam dialog antara pasien dan avatar di mana avatar secara progresif berada di bawah kendali si pasien.

Terlepas dari baik atau buruk, ataupun kedua-duanya, hubungan antara suara dan manusia itu memang tidak bisa dilepaskan.  Di dalam beberapa kasus, keduanya merupakan sumber utama dari hubungan sosial saat ini.

Dengan demikian, makna dan implikasi perubahan dalam hubungan penting tersebut memerlukan diskusi yang sensitif dan pikiran yang terbuka antara pendengar suara dan terapis sebagai bagian dari keterlibatan orang tersebut dengan terapi.

Terapi avatar, yang sama dengan pendekatan psikologis dan jaringan suara pendengaran lainnya ini menargetkan pengurangan gangguan pada kehidupan pendengar suara.

Tujuannya adalah agar orang tersebut mulai merasakan rasa berkuasa dan kontrol dalam hubungan mereka (dengan suara dan pasien), sehingga mereka tampil lebih percaya diri dengan kemampuan mereka menavigasi dunia sosial dan terlibat dengan masa depan yang lebih positif.

Cara Kerja Terapi

Dengan menggunakan program komputer, pasien akan di suruh untuk membentuk wajah. Tujuannya adalah untuk mencocokkan salah satu suara atau bisikan yang mereka dengar, dengan cara mendorong slider untuk menebalkan alis, menambahkan blush on ke pipi, membentuk kembali wajah seorang avatar dan bahkan mengubah ras-nya.

Sedangkan di ruangan yang lain, seorang terapis akan duduk dan berbicara melalui avatar tersebut, menggunakan sebuah perangkat lunak untuk mengubah nada suara mereka, agar sesuai dengan apa yang pasien dengar di dalam kepala pasien tersebut.

Terkadang, terapis tersebut juga akan bersuara dengan menggunakan suara mereka sendiri, serta menawarkan kata-kata dorongan.

Di dalam terapi ini terdapat sebanyak 6 sesi, dimana selama enam sesi tersebut, pasien secara bertahap akan menghadapi sura tersebut dan mencoba untuk membangun harga diri mereka. Sementara itu, suara tersebut nantinya akan berangsur-angsur menghilang.

Menurut Tom Craig, yang merupakan seorang profesor psikologi sosial di King’s College London yang melakukan penelitian terhadap terapi avatar mengatakan bahwa tidak semua orang bisa menjalani terapi ini.

Beberapa orang merasa masih agak terlalu takut untuk menjalani terapi yang satu ini. Akan tetapi, beberapa pasien yang memilih untuk menjalani terapi avatar ini mengaku bahwa mereka telah melihat gejala mereka yang perlahan mulai membaik.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Kamis di jurnal Lancet Psychiatry, setelah kurang lebih 12 minggu kemudian, mereka mengaku bahwa halusinasi pendengaran yang mereka alami dan yang sangat menyiksa mereka perlahan mulai berkurang setelah melakukan terapi ini.

Anda tidak akan bisa berdialog atau berbicara dengan suara tanpa tubuh atau wujud,” kata Craig, selaku penulis utama studi tersebut.

Dia menyamakan terapi itu dengan sebuah permainan video, yang pastinya terlihat cukup “nyata” untuk membuat pasien “tenggelam”, namun terapi ini juga dimodifikasi dengan cara yang tepat untuk membuatnya  menjadi seaman mungkin. “Anda bisa menantangnya (avatar), ” katanya.

Para peneliti menemukan, setelah melakukan terapi avatar, pasien juga menemukan bahwa suara atau bisikan tersebut mulai berkurang atau “kehilangan kuasanya atau tidak lagi berkuasa alias tidak sekuat saat pertama kali muncul”.

Pro dan Kontra Penerapan Terapi Avatar

Pada dasarnya ini adalah reskripting atau cara orang merespon suara yang mereka dengar“, kata Paul Grant, selaku asisten profesor di Sekolah Perelman Pennsylvania dari Universitas Pennsylvania, yang telah mengembangkan versi terapi kognitif untuk orang-orang yang hidup dengan skizofrenia.

Grant, yang merupakan seorang anggota fakultas dari Pusat Penelitian Psikopatologi Aaron T. Beck, tidak terlibat dalam studi baru ini.

Meskipun sebenarnya tertarik dengan terapi avatar ini, namun Grant mengatakan bahwa lebih banyak penelitian yang diperlukan untuk menunjukkan bagaimana terapi ini bisa bekerja, seberapa baik terapi ini dibandingkan dengan terapi-terapi lainnya dan siapa saja yang bisa mendapatkan manfaat dari terapi tersebut.

Misalnya saja teknologi yang digunakan di dalam terapi ini, bukanlah hal yang baru lagi dalam dunia teknologi yang melibatkan orang di dalamnya dan bukan masalah bagaimana terapi avatar tersebut menyusun dialog pasien dengan suara mereka sendiri. Anda bisa melakukan hal yang sama dengan teknologi rendah sekalipun, hanya dengan memutarkan rekaman suara,” tambah Grant.

Myrick, yang memproklamirkan dirinya sendiri sebagai seorang “kutu buku“, bisa melihat daya tarik dari terapi avatar ini, meskipun dia tidak mungkin mengikuti terapi tersebut seorang diri.

Gagasan untuk memasang wajah atau memberi suara di dalam terapi ini, tidak terdengar aneh bagi saya,” katanya. “Saya tidak tahu apakah saya akan melakukannya secara khusus, tapi untuk beberapa orang, terapi ini sangatlah penting.

Khusus untuk saya pribadi, saya tidak terlalu peduli dan tidak akan mencari tahu atau menyelidiki suara apa yang terngiang-ngiang di dalam kepala dan pikiran saya,” kata Myrick. “Misalnya saja ketika saya mendengar mereka di dapur, saya tidak perlu tahu mengapa mereka ada di sana, siapa mereka atau mengapa mereka ingin menganiaya atau menyakiti saya?”

Rasanya seperti berbicara dengan satu sisi dari diri saya sendiri,” tulis seorang peserta berusia 40 tahun yang tidak disebutkan namanya di dalam sebuah studi avatar.

Setelah dilatih sebagai pengacara, ia sering mendengar suara hakim. Dia mengatakan bahwa mendengar suara-suara itu “seperti sebuah mimpi buruk” dan berbicara dengan avatar digitalnya, yaitu seorang pria berwajah bundar dengan rambut cokelat panjang bergelombang bisa membantunya “bangun tidur.”

Meskipun pasien dalam uji coba terapi avatar tersebut diketahui mengalami perubahan yang membaik setelah 12 minggu, namun kelompok pasien lain ada juga yang baru merasakan perubahannya setelah 24 minggu kemudian.

Mereka telah menerima konseling tatap muka yang dilakukan secara konsisten oleh psikolog, yang tidak terlalu terfokus untuk secara langsung menangani suara-suara tersebut.

Selama 24 minggu, para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok tersebut. Tapi beberapa orang dari kedua kelompok itu diketahui sama sekali berhenti mendengar suara selama proses terapi berlangsung.

Penelitian yang awalnya mendaftarkan sekitar 150 peserta dan berhasil mengumpulkan data selama 12 minggu dari 124 peserta ini, diketahui bahwa tidak ada kelompok ketiga yang melanjutkan terapi seperti biasa. Tidak ada efek samping, seperti merugikan diri sendiri atau rawat inap, yang dapat dikaitkan dengan perlakuan avatar itu sendiri.

Grant dan Myrick bertanya-tanya bagaimana hasil penelitian tersebut bisa menerjemahkan kemampuan pasien untuk berkembang dan terlibat dengan dunia yang ada di sekitar mereka.

Mereka selalu fokus pada gejala,” kata Grant. “Gejala bisa saja ada di sana, atau tidak berada di sana. Tidak masalah jika anda sedang tidak berada di dalam kehidupan yang anda inginkan.

Craig mengatakan bahwa studinya tidak  begitu besar dan tidak menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bisa menunjukkan adanya perubahan yang lebih pasti untuk mengetahui bagaimana orang-orang menjalani hidup mereka.

Apakah ada yang mendapat pekerjaan? Apakah ada yang kembali ke sekolah? Apakah ada yang mendapatkan pacar?” Tanya Myrick. “Mendengar suara adalah sesuatu. Sedangkan memiliki kehidupan adalah masalah yang berbeda.”

Bahkan bagi mereka yang mungkin telah mendapat manfaat dari terapi avatar, para ahli mengatakan, faktor biaya kemungkinan besar bisa menjadi penghalang, baik untuk para pasien yang akan melakukan terapi maupun terapis yang harus dilatih dan diawasi.

Inggris memiliki jenis perawatan yang universal dan kami sedang tidak berada di AS,” kata Myrick, yang bagaimanapun akan mendorong para peneliti untuk maju dengan menciptakan perawatan-perawatan kesehatan mental baru.

Craig mengatakan bahwa avatar “bukanlah terapi yang murah“, karena terapi tersebut dikelola oleh sekumpulan orang-orang profesional yang sangat terlatih. Di sisi lain, perawatan hanya terdiri dari enam sesi terapi,” katanya.

Fokus Pengobatan Skizofrenia Menurut Grant

Grant sendiri bekerja dengan pasien dengan skizofrenia yang parah, namun dia mengatakan bahwa dia lebih sedikit memusatkan perhatiannya pada suara yang mereka dengar.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, terapi avatar bertujuan untuk menekan suara demi memperbaiki kehidupan pasien, sedangkan Grant bertujuan untuk mengubah cara mereka menjalani hidup mereka dan mungkin suara-suara yang mereka dengar akan berubah sebagai hasilnya.

Bagi beberapa orang, khususnya mereka yang mengidap skizofernia, pada saat mereka menemukan pekerjaan baru atau membangun sebuah hubungan, “suara yang mereka dengar tadinya perlahan demi perlahan akan berkurang dan terkadang malah bisa menjadi sesuatu yang sifatnya positif,” kata Grant. “Suara itu sebagian besarnya bisa saja berasal dari kepercayaan yang dimiliki orang tentang diri mereka sendiri.

Berfokus pada kehidupan dan selalu sibuk adalah salah satu gaya atau cara bagaimana juru bicara kesehatan mental, yaitu Myrick bisa hidup dengan diagnosa skizofrenianya, bukannya malah terfokus pada suara-suara yang ada di dalam pikiran.

“Saya merasa benar-benar fokus pada pekerjaan dan hal-hal yang membuat pikiran saya sangat sibuk, dilibatkan, ditantang jauh lebih bermanfaat bagi saya,” katanya.

“Perlakuan atau terapi avatar memang bukan untuk semua orang, seperti kata Craig. Misalnya, sejumlah orang yang memiliki gejala untuk pertama kalinya tidak akan lagi mendengar suara setelah perawatan konvensional”, katanya. Pasien dalam studinya memiliki gejala rata-rata sekitar 20 tahun.

“Selain itu, banyak orang yang pasti berpikir dan mereka ingin menyingkirkan suara-suara itu, tapi banyak juga yang tidak tidak memiliki pikiran seperti itu”, kata para ahli.

Terkadang, suara yang mereka dengar bisa bersifat menyenangkan atau membantu mereka. Terkadang, suara bisa berasal dari suara orang yang dicintai yang sudah meninggal. Saat mendengar suara itu, beberapa orang tidak akan merasa terganggu dan malahan mungkin menjadi lebih tenang.

Myrick mengingat satu pengalaman yang mengubah cara dia memikirkan suara-suara yang ada dipikirannya tersebut. Suatu hari sambil duduk di tempat kerja, dia mulai mendengar nyanyian malaikat. Itu merupakan pengalaman yang baru untuknya, jadi dia pun memutuskan untuk memanggil psikiaternya.

Nyanyian malaikat yang ku dengar itu tidak mengganggu, tapi jelas nyanyian tersebut bukan berada di dapur,” katanya. Psikiaternya kemudian kembali bertanya mengapa dia memanggilnya. “Karena saya mendengar malaikat,” katanya lagi.
Apakah mereka mengganggumu?” Dia bertanya. “Sebenarnya tidak”. “Mereka malah bernyanyi dengan begitu indah,” katanya

Jika tidak mengganggu, mendengar suara itu tidak akan menjadi masalah besar, bukan?,” katanya. Kemudian Psikiaternya tersebut merekomendasikan agar dia menutup telepon dan kembali bekerja. “Biarkan malaikat itu tetap bernyanyi”.

Kesimpulan

Terapi avatar adalah bagian dari gelombang terapi baru dan menarik, yang mengadopsi pendekatan relasional dan dialogis secara eksplisit untuk bekerja dengan suara yang menyedihkan dan mengganggu, yang dialami oleh individu yang menderita masalah psikosis, seperti skizofrenia.

Meskipun terapi terbaru ini masia terbilang dalam masa uji coba, namun pendekatan baru ini menawarkan banyak kesempatan baik dalam hal penyampaian terapi dan dalam mengelaborasi pemahaman anda tentang fenomenologi “pendengaran suara.”

Terapi avatar juga memiliki potensi untuk diterapkan pada gangguan dan kondisi kesehatan mental lainnya yang tentunya membutuhkan kerja dan adaptasi yang lebih lanjut.

Setelah dilakukan penelitian terhadap penggunaan terapi ini, diketahui bahwasannya beberapa orang mengaku bahwa gejala mereka mendengarkan suara-suara aneh di dalam pikiran mereka tersebut berkurang setelah 12 minggu melakukan terapi ini.

Meskipun demikian, sebagian orang seperti Myrick salah satunya, mengaku bahwa Dia bisa mengabaikan suara-suara yang didengarnya dengan cara menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas dan rutinitasnya sehari-hari. Dan kini, suara-suara yang tadinya dia rasa sangat mengganggu telah berubah menjadi suara nyanyian malaikat yang indah.

Sekian sudah penjelasan mengenai terapi avatar yang bisa membantu para pengidap skizofrenia ini kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk anda. Selamat beraktivitas kembali.