Unique

Ini Alasan Mengapa Suku Karo di Afrika Wajib Membuat Tattoo di Tubuh

Pada zaman dahulu, beberapa masyarakat atau suku tertentu menggunakan tubuh mereka sebagai sebuah kanvas, untuk mengekspresikan dan memamerkan identitas budaya mereka, sebagai sebuah tradisi, ritual, dan beberapa diantaranya menganggapnya sebagai sebuah jimat.

Penggunaan tubuh sebagai media kanvas ini terkenal dengan sebutan seni tattoo. Tattoo merupakan Seni menggambar tubuh yang sangat terkenal di seluruh dunia. Tidak pernah disangka sebelumnya, bahwa seni tattoo ini ternyata sudah ada sejak dulu. Hanya penamaan dan proses pembuatannya saja yang berbeda dengan yang ada pada zaman dulu. Perbedaan tersebut terletak dari penggunaan alat dan tujuan dari pembuatannya.

Dulu, alat yang digunakan untuk membuat tattoo masih sangat sederhana dan kuno, karena masih menggunakan alat-alat yang ala kadarnya. Tattoo dibuat hanya dengan menggunakan pisau atau pecahan kaca. Meskipun terdengar menakutkan, tapi di Afrika, kegiatan mentato tubuh ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Terutama di kalangan wanita, tattoo yang dihasilkan dari bekas luka ini dianggap sebagai sesuatu yang akan membuat penampilan mereka menjadi lebih menarik.

Di Afrika, sebuah suku bernama Karo menamakan tradisi ini dengan sebutan skarifikasi. Skarifikasi ini merupakan guratan atau sayatan yang dibentuk dengan menggunakan pisau, dengan tujuan untuk menarik perhatian kaum lelaki di suku tersebut. Setelah mereka mengalami siksaan akibat sayatan-sayatan pada tubuh mereka, maka mereka akan diizinkan untuk menikah dan punya anak. Semua bekas luka ini terlihat sangat unik dan berbeda, seperti sebuah karya seni pada kulit.

Berbeda halnya dengan wanita, goresan yang dilakukan pada tubuh di kalangan pria di suku ini, bertujuan untuk menunjukkan keberhasilannya dalam peperangan. Goresan dibuat dengan cara memahat tubuh dengan menggunakan benda tajam seperti pisau atau pecahan kaca. Setelah itu, mereka mengoleskan ramuan dari beberapa jenis tumbuhan dan bahan lainnya yang berwarna gelap, seperti arang atau bubuk mesiu ke atas luka sayatan, sehingga terbentuklah skarifikasi.

Skarifikasi dianggap sebagai suatu ritual oleh suku karo di Afrika. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, diantaranya:

  • Alasan Keindahan atau Untuk Mempercantik Diri

Bekas luka yang dihasilkan melalui proses skarifikasi ini dipercaya bisa mempercantik tubuh para wanita di suku ini. Proses atau ritual kecantikan melalui scarifikasi ini dimulai pada masa kanak-kanak, terutama bagi gadis-gadis muda di Afrika. Skarifikasi ini dilakukan untuk merayakan masa pubertas, siklus menstruasi pertama dan sebagainya, pada anak perempuan suku ini. Meskipun skarifikasi ini memiliki tujuan lain, namun kebanyakan sumber mengatakan bahwa alasan kecantikan adalah tujuan utamanya.

  • Lambang Kekuatan dan Keberanian

Skarifikasi juga dipandang sebagai sebuah ujian keberanian. Proses pembuatan skarifikasi ini cukup menyakitkan, dan membutuhkan kekuatan pribadi yang besar untuk melewati prosedur tanpa menangis kesakitan. Jika tidak bisa melakukannya, maka hanya akan mempermalukan diri sendiri. Jumlah luka atau sayatan yang dihasilkan akan menunjukkan seberapa besar kekuatan orang tersebut, terutama kekuatan saat menahan rasa sakit selama pembuatannya. Semakin banyak bekas luka, maka akan semakin dihormatilah orang tersebut di masyarakat.

  • Untuk Kesuburan

Skarifikasi pada perut merupakan yang paling penting untuk wanita muda pada usia siap menikah di suku karo. Bekas luka ini dianggap sebagai indikasi kemauan wanita untuk melahirkan anak. Menurut budaya Afrika, hal ini dianggap sebagai keadaan yang sangat diinginkan oleh mereka yang ingin menjadi seorang isteri. Skarifikasi ini juga bisa menaikkan hormon seksual, dimana keadaan ini diyakini akan membuat wanita lebih mudah menerima perhatian seksual dari suaminya.

  • Menjadi Kebanggaan Keluarga

Skarifikasi ini juga dianggap sebagai sebuah tanda kebanggaan bagi keluarga. Kemampuan salah satu anggota keluarga untuk bertahan atas ritual pemukulan yang pada akhirnya akan meninggalkan bekas luka dan berdarah pada punggung mereka ini, dianggap atau dipandang sebagai perwujudan rasa cinta dan rasa hormat untuk pada saudara. Dan jika ritual ini dilakukan pada anak-anak, dan anak tersebut bisa menanggung ritual tanpa menunjukkan rasa sakit mereka dengan cara menangis, akan menjadi sebuah kehormatan untuk seluruh keluarga.

  • Perlindungan dari Kematian

Spiritualitas memainkan peran penting dalam budaya Afrika yang satu ini. Orang-orang Afrika percaya akan kehadiran roh-roh yang ada di sekitar mereka, yang baik maupun yang jahat. Selain bertujuan untuk mempercantik diri, Skarifikasi pada wajah terkadang digunakan untuk membuat seseorang semangat untuk hidup dan tidak takut terhadap kematian.

Skarifikasi Sebagai Seni Kuno

Menurut sejarah Skarifikasi di Afrika, bekas luka bisa diciptakan dengan berbagai cara, tergantung pada tujuan mereka. Beberapa luka dibuat dengan menggunakan pisau, sementara yang lain diciptakan dengan menarik kulit dengan menggunakan kait ikan dan mengiris daging dengan pisau tajam.

Setelah menimbulkan luka, mereka akan menggosok luka tersebut dengan abu ataupun benda lainnya untuk membuat luka tersebut membengkak dan meninggalkan bekas luka yang lebih berat. Proses pemulihan akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan akan meninggalkan bekas yang lebih khas, ketika sudah mulai sembuh.

Skarifikasi Modern

Skarifikasi ini memang merupakan seni kuno, tapi bukan berarti kesenian ini telah memudar atau hilang sekarang. Meskipun skarifikasi hanya dipraktekkan oleh sebagian kecil masyarakat atau suku di benua Afrika, tapi banyak juga orang Eropa dan Amerika Utara dan Selatan yang mengadopsi seni ini.

Bagi sebagian orang, skarifikasi ini mungkin akan terdengar, dan terlihat sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Akan tetapi, bagi suku Karo di Afrika ini, skarifikasi meerupakan sesuatu yang sakral dan sangat penting untuk dilakukan. Wah, hebat juga orang-orang ini guys. Mereka bisa menahan rasa sakit selama proses pembuatan skarifikasi ini. Tapi untung saja ritual ini tidak dilakukan oleh seluruh masyarakat di dunia. Kalau nggak, wah nggak kebayang deh gimana jadinya.