sejarah Unique

Jangan Sepele, Ternyata Payung Adalah Warisan Budaya

Berhubung di Medan lagi musim hujan nih guys, artikel yang dibahas kali ini mungkin bisa jadi inspirasi anda untuk menghindari yang namanya terkena air hujan. Pasti jengkel banget kan rasanya kalau harus basah-basahan ke sekolah, kantor atau kampus? Apalagi untuk anda yang belum punya kendaraan pribadi, pasti bakalan ribet kalau sudah hujan.

Harus pakai jaket lah, payung dan juga mantel atau jas hujan. Kalau bisa semua perlengkapan dipakai. Pokoknya ngalah-ngalahin pakaian perang deh. Semua dilakukan supaya bisa sampai di tujuan tanpa harus basah kuyup.

Dan yang membuat semakin jengkel lagi adalah meskipun sudah mengenakan payung, tapi tetap saja masih terkena cipratan-cipratan air hujannya. Apalagi kalau hujannya deras badai, payung yang kita pakai pun bisa terbang juga lo. Kalau sudah begitu, gimana jadinya coba? Anda terpaksa harus mencari tempat berteduh sampai setidaknya hujan mulai reda. Iya nggak?

Bak pepatah mengatakan, “Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya”, begitu pula dengan budaya mengenakan payung ini. Tidak semua masyarakat mau memakai payung saat hujan. Contohnya saja di Indonesia. Pernah nggak sih anda melihat orang Indonesia mengenakan payung saat hujan?

Kalaupun ada, paling hanya 1 atau 2 orang saja. Lalu yang lain gimana? Mereka lebih suka hujan-hujanan atau pun menunggu sampai hujan reda. Kalau tidak percaya, anda bisa mencoba melihatnya lain waktu kalau memang cuacanya sedang hujan. Nah, anda boleh hitung deh berapa banyak orang yang menggunakan payung saat itu.

Beberapa waktu yang lalu tersebar sebuah video viral seorang wanita, yang sedang mengenakan payung unik saat hujan. Anda tahukan video yang dimaksud tersebut? Untuk anda yang belum pernah melihat videonya, anda bisa melihatnya disini. Coba anda perhatikan gambar seorang wanita yang tengah menggunakan payung saat hujan di atas.

Gimana? Anda pasti terheran-heran kan melihat bentuk payung yang digunakannya? Kalau biasanya orang berada di bawah payung, kali ini orang bisa masuk ke dalam payung tersebut. Lihat saja gambar wanita itu. Dia berada di dalam payung lho guys. Unik dan kreatif sekali kan?

Payung tersebut dijamin dapat membuat tubuh pemakainya kering walaupun berada di tengah hujan deras yang disertai angin kencang. Tahu kenapa? Karena payung tersebut memiliki plastik pelindung yang menjuntai dari tepi payung hingga ke bawah, bahkan sampai menyentuh tanah. Alhasil, air hujan pun tak bisa menyentuh tubuh dan kaki si pemakainya.

Sejak video tersebut diunggah, para netizen banyak berkomentar tentang payung unik yang digunakan oleh wanita itu. Beberapa ada yang memuji kreatifitas pencipta payung tersebut dan ada juga yang mengatakan lelucon tentang payung itu. Kalau menurut anda gimana?

Selain jenis payung di atas, sebenarnya masih banyak lagi jenis-jenis payung unik yang telah diciptakan oleh para perancang payung di dunia ini. Semua rancangan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakt itu sendiri.

Kalau biasanya payung digunakan untuk melindungi kepala dan tubuh agar tidak basah atau terkena air hujan yang tidak baik untuk kesehatan, payung yang satu ini berbeda guys, karena diciptakan bukan untuk melindungi orangnya melainkan ponsel orang tersebut. Penasarankan dengan bentuk payung unik ini? Berikut adalah gambarnya:

Gimana? Lucu juga ya payung ini? Wah, kalau di Indonesia ada, mungkin dalam sehari udah ludes terjual deh kayaknya. Secara gitu, orang – orang Indonesia kan nggak pernah bisa lepas  dari yang namanya ponsel. Dimana aja mereka berada, tangan mereka pasti tetap memegang benda elektronik tersebut. Betul kan guys?

Budaya Menggunakan Payung

Budaya menggunakan payung sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Penggunaan payung sebagai alat pelindung saat hujan ini tentu tidak muncul begitu saja. Tentu saja ada tahapan atau proses yang dilalui sebelum akhirnya berkembang seperti sekarang ini. Jadi, tidak hanya manusia atau bangunan saja yang punya sejarah, tapi payung juga ada sejarahnya lho guys.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai bagaimana dan dimana awal mula terciptanya payung hingga sampai sepopuler saat ini.

Asal Mula Terciptanya Payung Adalah di China

Payung adalah salah satu benda peninggalan yang berasal dari bangsa Tiongkok. Meskipun payung dianggap sebagai barang yang sederhana, tapi anda mungkin tidak tahu bahwa proses penciptaan payung di masa lampau tidaklah sesederhana kelihatannya, karena diperlukan waktu berabad-abad hingga akhirnya payung tersebut bisa digunakan secara umum diseluruh dunia seperti saat ini.

Wang Mang (45SM – 23 M) yang merupakan penguasa pada zaman Dinasti Xin telah menggunakan payung pada kendaraan roda empatnya. Kemudian pada abad 2 M , Fu Qian menambahkan keterangan bahwa payung yang digunakan oleh Wang Mang pada masa itu memiliki sambungan yang dapat dibengkokkan, yang memungkinkan payung tersebut untuk dipanjangkan dan ditarik.

Penemuan arkeologis di situs Luoyang juga telah membuktikan bahwa payung berasal dari masa Dinasti Zhou, yaitu sekitar abad 6 SM, yang telah memakai teknologi perunggu dan sistem engsel yang kompleks, dengan kunci geser dan baut. Sedangkan referensi tertua yang menjelaskan bahwa payung berasal dari China adalah Zhou Li dari masa abad 4 SM.

Para peneliti menduga bahwa ide dari penciptaan payung ini diturunkan dari pembuatan tenda (yang bentuknya tidak banyak berubah sampai sekarang). Saat itu payung juga digunakan untuk orang – orang yang berpangkat tinggi. Selain untuk melindungi tubuh saat hujan, payung ini juga difungsikan untuk melindungi tubuh dari sengatan sinar matahari.

 

Awalnya payung – payung ini dibuat dari sutera, yang digunakan sebagai penutup chariot dan pelindung dari cuaca seperti hujan dan terik matahari selama berabad-abad. Selain menggunakan sutera, juga menggunakan sejenis kertas minyak yang terbuat dari kulit kayu mulberry.

Pada masa Dinasti Wei Utara (386-532 M), ada aturan perbedaan warna payung kaisar dengan para rakyat jelata. Untuk seorang kaisar, payung yang digunakan adalah payung yang berwarna merah dan kuning, sedangkan rakyat jelata menggunakan payung yang berwarna biru.

Di tahun 1086 , ilmuwan termashur Dinasti Song , yang bernama Shen Gua (1031-1095) menggunakan payung sebagai deskripsi analogi, yang merujuk pada fenomena astronomi yang dinamakan “lunar mansion”. Sebuah buku dari masa Dinasti Song ini memuat satu gambar payung yang dapat dilipat dan persis dengan payung yang digunakan di masa modern ini.

Sama seperti produk budaya Tiongkok yang lainnya, ide tentang payung dari Tiongkok tersebut kemudian masuk ke Korea dan Jepang. Tidak jelas bagaimana sebenarnya payung ini masuk sampai ke Eropa. Kemungkinan besar payung kertas yang dijual di Tiongkok ini masuk ke Eropa melalui Jalur Sutera, yaitu salah satu jalur yang digunakan untuk melakukan transaksi dagang.

Payung Bening Paling Eksis di Jepang

Coba lihat gambar di bawah ini. Apakah yang bisa anda simpulkan dari gambar tersebut? Selain menunjukkan keramaian orang-orang Jepang yang sedang mengenakan payung di jalan, ada satu hal lain yang juga tampak mencolok pada gambar itu. Hal mencolok apakah yang dimaksud?

Dari banyaknya jenis payung yang dikenakan oleh orang – orang Jepang pada gambar di atas, payung bening adalah jenis payung terbanyak yang digunakan. Bener nggak? Coba aja hitung berapa banyak orang pada gambar itu yang menggunakan payung yang berwarna bening. Lebih banyak kan?

Payung plastik bening ini memang payung yang paling terkenal di Jepang. Hampir kebanyakan orang lebih memilih menggunakan payung jenis ini. Tahu kenapa?

Selain harganya lebih murah, menggunakan payung bening ini juga tidak akan menghalangi pandangan anda ke depan, sehingga sangat aman digunakan di jalan raya sekalipun. Jadi anda tidak perlu khawatir menabrak seseorang saat memakai payung bening ini.

Meskipun tampilan payung ini terlihat seperti payung plastik bening biasa, namun ada juga lho payung bening khusus yang digunakan oleh seorang kandidat parlemen yang disebut dengan “Shin Kateru”. Tahu nggak harganya berapa? harga payung ini adalah berkisar 8000 Yen atau setara Rp. 950 ribu.

Budaya menggunakan payung di Jepang ini sebenernya telah mengakar sejak lama. Awalnya payung Jepang dibuat dari washi (kertas Jepang) atau kain sutra dengan menggunakan tulang bambu. Payung secara mendasar digunakan dalam seni teater tradisional khas Jepang yang disebut dengan kabuki, upacara minum teh (sadō), menari, upacara adat dan festival di kuil-kuil.

Bukan hanya itu saja, payung ini juga populer digunakan sebagai aksesori interior, sampai akhirnya gaya payung barat mulai diperkenalkan pada periode Edo dan Meiji yang disempurnakan sebagai kebutuhan hidup.

Perkembangan payung tidak sampai di situ, melainkan terus mengalami evolusi dari tahun ke tahun dan menjadi semakin lebih praktis dan friendly bagi penggunanya. Ada payung lipat dan jump umbrella yang penggunaannya hanya dengan cara memencet tombol.

Harga yang ditawarkan untuk payung dengan ukuran besar atau kecil berkisar antara 500 – 3000 Yen atau setara dengan sekitar Rp. 59 ribu – Rp.355 ribu. Ada banyak sekali jenis payung yang bisa anda temukan di negeri sakura ini. Tidak hanya beragam bentuk, tapi juga warna.

Sanking kentalnya budaya payung ini di Jepang, setiap berkunjung ke Jepang, oleh-oleh favorit yang paling sering dibawa oleh para wisatawan adalah payung Jepang. Apa sih istimewanya payung Jepang ini? Beberapa orang mengatakan bahwa selain praktis, payung Jepang juga terkenal dengan motifnya yang menarik dan cute, lho.

Wah, sepertinya keren juga nih guys jalan-jalan ke Jepang buat beli souvenir payungnya. Iya nggak? So guys, lain kali kalau lagi liburan ke Jepang, jangan sampai lupa ya membeli payung jepang yang lucu-lucu ini. Dan kalau sudah di beli, jangan nggak di pakai dan cuma dijadiin pajangan aja guys. Di pakai dong sekali-sekali . Ok?