Unique

Melirik Keunikan Suku Bajo Indonesia Yang Hampir Punah

Banyak yang bilang kalau Indonesia itu merupakan salah satu negara yang sangat kaya. Kaya apa ya? Katanya sih kaya akan sumber daya alamnya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kalau memang Indonesia itu punya sumber daya alam yang berlimpah, harusnya sih Indonesia bisa menjadi salah satu negara maju di dunia. Tapi nyatanya? Hal tersebut sepertinya hanyalah sebuah mimpi belaka.

Tidak hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia juga memiliki keunikan dalam hal keragaman suku bangsa. Pada tahun 2016, jumlah suku bangsa di Indonesia tercatat sebanyak 1.340 suku. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan jumlah suku bangsa terbanyak di Dunia.

Masing-masing suku yang ada di Indonesia tersebut memiliki ragam kehidupan, tradisi, ataupun kebudayaan yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya bahkan memiliki cara hidup yang cukup unik. Salah satu suku unik asal Indonesia tersebut adalah Suku Bajo. Suku bajo ini juga dijuluki sebagai manusia perahu.

Suku Bajo di Indonesia

Suku bajo ini merupakan suku yang tidak begitu banyak dikenal, karena keberadaan mereka bisa dibilang cukup langka, dan belum banyak terjamah oleh pemerintah Indonesia. Berbeda halnya dengan suku makassar, bugis atau mandar, yang cukup dikenal oleh masyarakat sebagai raja lautan, Suku Bajo yang pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya ini masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Padahal mereka memiliki ketangguhan dan keterampilan dalam mengarungi samudera.

Suku ini juga terkenal sebagai suku yang hidup secara nomaden. Suku yang unik ini juga kabarnya hidup bebas di sekitar laut antara Indonesia dan Filipina. Namun seiring berkembangnya zaman, beberapa dari mereka memutuskan untuk mulai hidup dan tinggal menetap di suatu tempat tertentu. Salah satu tempat tersebut adalah di salah satu pulau yang termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean.

Suku Bajo ini tinggal dan mendiami beberapa pulau di kawasan taman nasional, yang merupakan bagian dari wilayah kabupaten Tojo Una-una, Provinsi Sulawesi Tengah. Salah satu pulau di Taman Nasional Kepulauan Togean yang banyak ditempati oleh suku Bajo adalah Pulau Papan. Mayoritas rumah yang ada di Pulau Papan ini dibangun di atas air dan menjadi hunian bagi para anggota suku Bajo.

Meski sudah banyak yang tinggal di daratan, tetapi ketergantungan suku ini terhadap laut masih belum bisa hilang sepenuhnya. Kebanyakan dari suku bajo ini tinggal di tepi timur laut Pulau Kalimantan, kurang lebih selama dua abad, dan mata pencaharian utama mereka adalah berasal dari laut.

Sejarah dan Asal Usul Suku Bajo di Indonesia

Suku Bajo yang hidup pada zaman dahulu ini, dikabarkan melarikan diri ke laut, untuk menghindari perang dan kericuhan yang terjadi di darat pada masa dulu. Dan sejak itu, manusia-manusia perahupun mulai bermunculan di masyarakat. Warga suku Bajo ini menyebut dirinya sebagai Suku Same, dan menyebut warga di luar sukunya sebagai Suku Bagai.

Jika dianalisis, ternyata nama “Bajo” pada suku ini sering diartikan secara negatif. Suku Bajo ini diartikan sebagai perompak atau bajak laut. Menurut sebah cerita yang berkembang di kalangan antropolog, para perompak di zaman dulu diyakini berasal dari Suku Same.

Nah, suku same inilah yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai suku Bajo. Nama suku Bajo tersebut kemudian menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun yang ada di nusantara kerap disamaratakan sebagai suku Bajo.

Pengertian kata Bajo tersebut kemudian menimbulkaN berbagai polemik di masyarakat. Banyak kalangan yang tidak setuju pada arti kata “bajo”, yang merujuk kepada perompak atau bajak laut. Terlepas dari setuju tidaknya akan arti kata tesebut, yang terpenting adalah, suku Bajo yang merupakan suku Same atau suku laut ini, hingga sekarang masih memukimi banyak lokasi di seluruh nusantara. Di mana ada perairan, maka di sanalah suku Bajo membangun kehidupan.

Laut merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Bajo ini. Mereka hidup dari hasil bernelayan. Bila prediksi dampak perubahan iklim benar-benar terjadi antara tahun 2050-2100, suku Bajo bisa dikatakan sebagai masyarakat yang paling siap dalam menghadapi perubahan tersebur. Pasalnya, sejak lahir, keturunan suku Bajo sudah dikenalkan dengan kehidupan di atas permukaan air.

Karena aktivitas kehidupan mereka dilakukan dan dihabiskan di atas perahu. Karena itu, mereka dikenal dengan julukan suku nomaden laut. Di sisi lain, sampai saat ini para peneliti masih sangat kesulitan dalam mendapatkan data akurat tentang asal-usul nenek moyang suku Bajo.

Menurut Lapian, ada berbagai macam versi sejarah tentang riwayat leluhur mereka. Versi cerita rakyat menyebutkan bahwa suku Bajo berasal dari Johor, Malaysia. Ada pula yang mengatakan berasal dari Filipina atau Bone (Sulawesi Selatan).

Dan saat ini, menurut Dr Munsi Lampe, yang merupakan seorang antropolog dari Universitas Hasanuddin Makassar, mengatakan bahwa jumlah suku Bajo yang menggantungkan hidupnya di atas perahu ini diperkirakan semakin sedikit.

Suku Bajo berasal dari Filipina

Menurut sejarah, orang-orang suku Bajo berasal dari Kepulauan Sulu di wilayah Filipina Selatan yang hidup nomaden di lautan lepas. Argumen ini didasarkan pada banyaknya kemiripan bahasa yang digunakan Suku Bajo dengan bahasa Tagalog di Philipina. Perjalanan di laut lepas membawa mereka masuk ke wilayah Indonesia, salah satunya di sekitar Pulau Sulawesi selama ratusan tahun lalu.

Suku Bajo berasal dari Malaysia

Asal-usul Suku Bajo, atau yang biasa dijuluki dengan istilah manusia perahu, terdiri dari beberapa versi. Versi yang paling terkenal adalah bahwa Suku Bajo berasal dari para prajurit kerajaan Johor, Malaysia yang diperintahkan oleh raja mereka untuk mencari putri raja yang hilang di laut lepas.

Dikabarkan bahwa pada masa itu, sang putri raja bertamasya mengarungi lautan Nusantara. Tapi karena sebab tertentu, akhirnya sang putri hilang dan tak kembali. Maka atas titah raja, beberapa prajurit kerajaan ditugaskan untuk mencari sang putri yang hilang, dengan catatan tak boleh kembali ke kerajaaan apabila sang putri belum ditemukan.

Singkat cerita, karena sang putri tak juga ditemukan, akhirnya para prajurit itu memutuskan untuk tak kembali ke kerajaan dan memilih untuk menetap di perahu mengikuti arah angin yang membawa perahu mereka pergi. Maka dari sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Hal ini yang kemudian menjadi cikal bakal adanya suku Bajo, yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah dan menyebar hingga seluruh nusantara.

Suku Bajo Sebagai Suku Yang Unik

Ketika mempelajari tentang kehidupan suku Bajo ini, anda akan menemukan beragam keunikan di dalamnya. Adapun beberapa kenikan tersebut antara lain:

1. Suku Bajo ini menjadilam kapal atau sampan sebagai tempat hidup dan alat transportasi. Tidak hanya itu saja, mereka juga menggunakan sampan ini sebagai media mereka untuk mencari nafkah, dengan acara menjual hasil tangkapan mereka.

2. Kerajinan kain tradisional menjadi salah satu kegiatan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat suku ini.

3. Karena suku ini tinggal di daerah laut atau pantai, orang-orang yang berasal dari suku ini mampu menyelam dengan baik ke dalam dasar laut.

Wah, unik juga ya kehidupan Suku Bajo yang tinggal di Indonesia ini? Meskipun asal usul yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, namun kehidupan para suku bajo ini sekarang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tapi sayangnya, jumlah penduduk suku ini semakin lama semakin berkurang, sehingga memiilki kmungkinan untuk segera punah. Sebelum punah, yuk kita belajar tentang keunikan suku bajo ini!