science

Bagaimana Usus Bisa Membuat Seseorang Menjadi Lebih Pintar Saat Sedang Lapar?

Semua manusia pasti akan merasakan lapar. Bukan hanya sekali, tapi bisa jadi berkali-kali. Iya nggak? Adakah di antara anda yang seumur hidup anda tidak pernah merasa lapar? Pasti tidak ada, kan?

Biasanya, seseorang akan merasakan lapar pada saat ia terlambat makan. Ada juga loh orang yang merasa lapar saat ia sedang berada dalam situasi tertentu, misalnya ketika Dia sedang merasa gugup dan sebagainya. Kalau anda sendiri bagaimana? Pada saat kapankah anda biasanya akan merasa lapar?

Ketika merasa lapar, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan langsung mencari makanan untuk bisa dimakan? Atau, apa anda malah akan menahannya karena anda terlalu sibuk dengan pekerjaan anda dan baru akan makan saat semua pekerjaan selesai?

Kalau memang demikian, mulai saat ini “bertobatlah” untuk melakukan hal buruk seperti itu, jika memang anda tidak ingin berurusan dengan rumah sakit dan dokter.

Tapi kalau anda suka masuk ke tempat itu dan lebih memilih meminum obat dibandingkan dengan mengubah pola makan anda menjadi lebih baik, itu terserah pada anda.

Nah, yang menjadi pertanyaan pentingnya sekarang kira-kira adalah, ada tidak ya penjelasan ilmiah yang bisa menjelaskan fenomena ini? Atau, mungkinkah ada sesuatu yang tersembunyi dari perasaan lapar yang menjengkelkan ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas telah berhasil dijawab oleh sebuah penelitian yang dilaksanakan baru-baru ini. Penelitian baru ini menemukan pemahaman tentang hubungan antara usus dan otak, serta mengungkapkan cara mengejutkan di mana usus bisa mendorong seseorang dalam mengambil keputusan.

Bagaimanakah cara studi tersebut menjelaskannya? Yuk, langsung saja anda baca penjelasan di bawah ini.

Peranan Usus Dalam Menimbulkan Rasa Lapar

Sebuah studi baru belakangan ini telah melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu penjelasan ilmiah yang dapat menjelaskan bagaimana manusia bisa merasa lapar dan mereka berhasil menemukan jawabannya.

Studi tersebut menunjukkan bahwa usus memiliki fungsi yang sangat penting, terutama untuk membantu manusia dalam membuat keputusan yang baik, terutama ketika sedang lapar dan bahkan bisa dibilang kalau usus ini sebenarnya lebih pintar dari anda.

Sejak masa pemerintahan Plato, di Negara Barat manusia telah diajarkan untuk berpikir bahwa diri kita ini adalah makhluk yang rasional, yang jauh lebih unggul dari hewan atau binatang.

Selain itu, manusia pada zaman tersebut juga diberitahu bahwa emosi dan nafsu makan mereka diibaratkan seperti alegori terkenal Plato, yaitu “unruly horse“, yang memiliki arti bahwa diri manusia yang suci sekalipun masih memerlukan bantuan akal atau pikiran.

Tapi, seiring dengan perkembangan ilmu kognitif dan manusia telah mempelajari lebih banyak hal tentang tubuh dan otak, mereka pun berhasil menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa jauh dari sebuah kebenaran.

Teori Neuroscience merupakan salah satu studi yang berhasil menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan manusia adalah bersifat emosional, bukan rasional (walaupun usaha kita untuk melakukan post-rasionalisasi sangat cerdik, paling tidak) dan otak manusia rentan terhadap berbagai prasangka atau anggapan, yang bisa membajak keputusan tanpa anda sadari.

Jadi, jika anda hanya berpegang pada cerita yang menyebutkan bahwa anda adalah makhluk yang mulia dan akhirnya secara tidak langsung menipu diri anda dengan berpikir, bahwa anda lebih cerdas secara intelektual dan lebih baik dari makhluk lainnya, mungkin studi baru yang memiliki bukti yang sebaliknya ini akan membuat anda mengubah pola pikir anda tersebut.

Bagaimama Seseorang Bisa Tahu Kalau Ia Sedang Lapar?

Lapar merupakan sensasi normal yang membuat seseorang menjadi ingin makan. Pada saat anda lapar, tubuh akan memberitahu otak bahwa perut sedang dalam keadaan kosong.

Rasa lapar ini biasanya dikendalikan oleh bagian otak yang disebut sebagai hipotalamus. Bukan hanya itu saja, daerah ini juga merupakan tempat untuk mengatur kadar gula (glukosa) darah, seberapa kosong perut anda, serta kadar hormon tertentu di dalam tubuh anda.

Informasi yang sampai ke otak inilah yang akan membuat perut anda menggeram dan memberi isyarat bahwasannya anda memang sedang merasa lapar.

Dari sistem tersebut, jelas sudah kalau usus lah yang berperan untuk melaporkan dan memberitahu otak kalau anda sedang lapar dan membutuhkan makanan untuk mengisi perut anda. Jadi dengan kata lain, sekalipun otak adalah sistem koordinasi yang mengatur kerja organ tubuh, namun untuk hal yang satu ini, usus lah yang lebih berperan.

Biasanya untuk beberapa orang, rasa lapar ini tak jarang akan membuat mereka menjadi merasa pusing atau kesal.  Jadi, kalau anda bertemu dengan teman anda yang tampak sedang kesal di jam-jam dekat makan siang, bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena dia sedang lapar. Meskipun memang ada banyak faktor lain yang membuatnya merasa seperti itu.

Anda bisa meredam rasa kekesalannya tersebut dengan mengajaknya makan siang atau memberikannya makanan. Perlu anda ketahui bahwa ekspresi setiap orang saat sedang lapar tidak lah sama antara yang satu dengan yang lainnya.

Kemiripan Antara Manusia dan Hewan Saat Mengatasi Rasa Lapar

Menurut studi tersebut, manusia memiliki banyak kemiripan dengan hewan yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Salah satunya adalah ketika keduanya sedang merasa lapar atau kelaparan.

Ketika diperhadapkan dalam situasi seperti itu, manusia dan hewan memiliki insting atau kemampuan yang mirip dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan rasa lapar tersebut.

Dan faktanya, penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Exeter di Inggris ini berhasil menjelaskan bahwa usus manusia mampu “menyimpan” ingatan.

Perasaan lapar yang anda rasakan dapat bertindak sebagai semacam jalan pintas bagi usus untuk membuat keputusan yang tampak rumit dan memerlukan perhitungan yang jelas. Namun meskipun begitu, hal tersebut sebenarnya didorong oleh “firasat, naluri atau intuisi

Para ilmuwan bisa mendapatkan kesimpulan ini dari pelaksanaan penelitian, yang dilakukan dengan menggunakan model komputer yang kompleks, yang bisa mengeksplorasi kemungkinan kelangsungan hidup hewan di suatu lingkungan, dimana ketersediaan makanan berfluktuasi dan juga terdapat predator yang sedang bersembunyi.

Berdasarkan informasi yang didapat, temuan mereka tersebut telah dipublikasikan di dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B.

Model yang digunakan di dalam penelitian tersebut telah mengungkapkan bahwa jika hewan mendasarkan keputusan mereka secara eksklusif pada isyarat fisiologisnya, misalnya, perasaan lapar yang memberikan sinyal berapa banyak sumber energi yang mereka miliki serta peluang bertahan hidup mereka, hampir sama baiknya dengan hewan yang menggunakan sumber daya kognitif untuk memperhitungkan sebuah keputusan terbaik yang harus diambil.

Meskipun gagasan tentang kognisi hewan mungkin terlihat atau terdengar aneh untuk sebagian orang, namun hal ini merupakan sebuah fakta yang terdokumentasi dengan baik, yang diterima secara luas oleh para periset.

Bukan hanya itu saja, studi baru ini pula lah yang telah membantu kita mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang cara bagaimana hewan memecahkan masalah kelaparan yang tengah mereka rasakan atau hadapi.

Coba sejenak anda bayangkan sebuah contoh lain dari studi ini agar anda lebih memahami maksud dari penjelasan di atas tadi. Misalkan saja nih ada seekor binatang, katakanlah seekor rusa, yang sedang berada di dalam situasi kelaparan.

Dalam konteks ini, tentu saja rusa tersebut akan dikaitkan dengan beberapa parameter, seperti makanan apa yang ada atau tersedia di sekitar rusa tersebut dan dimana makanan tersebut bisa didapatkannya, serta ada tidak binatang buas disekitar tempatnya berada.

Nah, katakanlah kalau rusa tersebut ingin memakan “kacang”. Akan tetapi yang masalahnya adalah kacang tersebut berada di dekat seekor singa yang sedang bersembunyi di semak-semak.

Secara otomatis, ada pertanyaan yang akan muncul di dalam benak rusa itu, bukan? Paling tidak dia akan bertanya “apa yang akan terjadi pada akhirnya jika aku merebut beberapa kacang yang ada di dekat singa itu?Iya nggak?

Pemikiran seperti ini akan sangat berguna untuk membantu rusa dalam memutuskan tindakan terbaik apa yang harus dilakukannya. Bisa mengintegrasikan informasi semacam itu sangatlah bernilai dari perspektif evolusioner.

Sebagai rekan penulis studi, yaitu Prof. John McNamara, dari Sekolah Matematika Universitas Bristol, mengatakan, “Jika sumber dayanya menjadi sangat pandai, maka seleksi alam akan menemukan cara yang lebih mudah untuk mengambil keputusan.

Kesimpulan

Dari penjelasan informasi di atas, adapun kesimpulan yang bisa diambil adalah sebagai berikut:

Perasaan lapar yang terjadi pada manusia merupakan sesuatu yang terjadi secara alami, yaitu sebagai respon dari organ tubuh yaitu usus yang sedang dalam keadaan kosong. Adapun sistem penyampaiannya sehingga seseorang bisa mengetahui bahwa dirinya sedang lapar dimulai dari organ ini.

Pertama-tama, usus akan menyampaikan informasi ke otak bahwa perut sedang dalam keadaan kosong. Setelah sampai ke otak, barulah otak memberikan respon dengan membuat perut anda menggeram atau berbunyi.

Ketika perut sudah berbunyi, maka pada saat itulah anda akan diminta untuk segera mengambil keputusan, yaitu apakah anda akan langsung makan atau menundanya, serta memutuskan dimana anda akan mendapatkan makanan tersebut.

Rasa lapar ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, melainkan juga oleh hewan. Meskipun manusia memiliki kedudukan yang lebih tinggi atau mulia, namun saat merasa kelaparan keduanya memiliki kemiripan, terutama dalam hal pengambilan keputusan, yaitu dengan bantuan isyarat fisiologis.

Dengan kata lain, usus anda bisa membuat anda tampak lebih pintar dari anda yang sebenarnya, terutama saat anda sedang kelaparan.